
Tak ingin membuang banyak waktu. Yuda segera memesan tiket bulanmadu ke bali untuk tiga orang. Pria itu memiliki alasan sendiri, mengajak istri pertamanya bulan madunya juga. Alasan utamanya bukan hanya takut Intan bertemu selingkuhannya tapi karena ingin menghibur istrinya yang sudah lama tak di ajak liburan. Dia menebak mungkin itu alasan Intan menduakannya dikarenakan dirinya yang selama ini sibuk berkerja.
Sinta memberengut kesal. Sebab Intan ikut bersama mereka. Namun Wulan yang mengerti dengan perasaan Sinta, memberinya saran kalau di sana bersikap lah sedikit agresif dan manja di depan Intan. Tentu saja Sinta setuju. Dia langsung mengatur rencana untuk mendapatkan hati Yuda bagaimanapun caranya.
Esok harinya, sesuai rencana Yuda. Ketiganya akan berangkat ke Bali. Sesampainya di bandara Sinta menempel terus di samping Yuda seperti perangko.
"Mas, nanti kalau di sana, kita sekamar ya." Sinta bergelanyut manja di lengan Yuda sedari tadi, mengabaikan Intan mengikuti mereka dari belakang.
Yuda melirik Intan sekilas yang menampilkan raut muka yang tak dia baca sama sekali. "Hm, iya," jawabnya singkat.
"Yei, terimakasih Mas, terus kita besoknya jalan-jalan ke pantai ya?" Sinta melirik sinis Intan tengah menarik koper milik Sinta dan Yuda.
Yuda mengangguk, kemudian menuntun Sinta dan Intan bergegas masuk ke pesawat menuju Denpasar.
Selama perjalanan ke bandara, Intan melihat kemesraan antara suami dan madunya itu. Meredam gemuruh di dadanya yang berdenyut perih sekarang. Sebisa mungkin dia tak menunjukkan kecemburuan di depan Yuda dan Sinta.
Semoga saja Sinta dan Mas Yuda cepat diberikan anak.
Sebuah doa yang Intan panjatkan di dalam hati meski dirinya sakit sendiri. Dia menatap sendu punggung belakang Yuda tengah merangkul pinggang Sinta.
Selang beberapa jam, ketiganya telah sampai. Sinta tersenyum sumringah, melihat destinasi bulan madunya begitu indah. Matanya berbinar-binar mengagumi pemandangan di restort tempat mereka menginap.
"Mas, aku sangat bahagia, ini sangat indah Mas!" seru Sinta sambil mengepalkan kedua tangannya ke atas kala melihat keindahan sunset di depan sana.
Yuda tak membalas ucapan Sinta, melainkan curi-curi pada Intan yang menikmati pemandangan dihadapannya. Pria itu tersenyum tipis ketika melihat Intan merekahkan senyuman manisnya. Jilbab yang berterbangan ke segala arah membuat Intan semakin bertambah cantik.
"Mas kok diem!?" Sinta mengerucutkan bibir dengan sangat tajam saat Yuda tak langsung menyahut.
Yuda gelagapan, secepat kilat menolehkan mata ke arah Sinta. "Iya," ucapnya ketus.
Sinta menghentak-hentakan kaki sejenak, kesal karena Yuda lagi-lagi terkesan cuek padanya.
"Sinta, bisakah kau tak bertingkah seperti anak kecil." Yuda melototi Sinta karena gelagat Sinta sangat tak enak diperhatikan.
Sinta mendengus.
"Sudah, sekarang kita ke kamar, nanti malam akan ada makan malam di atas kapal yang sudah aku pesan," ucap Yuda sambil melirik Intan lagi. Dia ingat betul jika makan malam di atas kapal adalah impian Intan selama ini. Berharap Intan dapat bahagia.
Mimik muka Sinta yang semula kesal langsung berubah. "Benarkah Mas? Kau sangat romantis Mas, aku sangat tak sabar nanti malam."
__ADS_1
Sementara Intan melebarkan matanya sedikit karena keinginannya dikabulkan Yuda tapi dia merasa sedih. Mengingat ini adalah bulanmadu Yuda dan Sinta bukan dirinya.
"Hm." Yuda berdeham rendah. "Ini kunci kamar kita, pergi lah dulu, aku mau membeli sesuatu," ungkapnya sambil menyodorkan kunci kamar pada Sinta dan Intan.
"Kita sekamar kan Mas? Mbak Intan sendiri?" Sinta was-was jika Yuda sekamar dengan Intan.
"Iya, sekamar, bukankah Bunda meminta kita segera memberinya cucu." Suara Yuda terdengar dingin di pendengaran Sinta.
Sinta meneguk ludah berulang kali saat merasakan hawa di sekitarnya sangat tak nyaman.
"Baguslah, kalau begitu, aku mau ke kamar dulu, jangan lama-lama Mas." Sinta mengambil alih koper dari tangan Intan lalu bergegas menuju kamarnya.
Melihat kepergian Sinta. Intan pun menyeret kopernya, hendak mendatangi kamar miliknya. Namun pergerakannya terhenti kala Yuda mencengkal tangannya.
"Tunggu, siapa yang menyuruhmu pergi?" Yuda menarik Intan seketika hingga wanita itu menyentuh dada bidang suaminya. Hingga tak ada ruang sama sekali di antara mereka.
Deg
Intan membeku kala Yuda menatapnya dengan seksama.
"Kau suka?" Yuda mengangkat dagu Intan kemudian mendekatkan wajahnya.
Jantung Intan berdegup kencang. Secepat kilat ia memalingkan muka.
"Su-ka, Mas," ucap Intan dengan terbata-bata. "Malu Mas, bisakah Mas melepaskan aku."
Secara perlahan Yuda menurunkan tangannya. "Apa selingkuhanmu sudah pernah mengajakmu berlibur?" tanyanya seketika.
Intan menggeleng cepat.
"Hm, sudahlah lebih baik sekarang kau beristirahat, maaf aku akan menghabiskan banyak waktu di sini bersama Sinta, mungkin malam ini kami akan mandi bersama." Yuda sengaja membuat Intan cemburu.
Seakan ada sebilah belati menancap di hati, Intan menahan cemburu tapi demi kebahagian Yuda. Dia berusaha menghilangkan rasa cemburunya.
Mengulas senyum tipis, Intan berkata dengan tenang, "Iya, Mas, tak apa, sudah seharusnya Mas mandi bersama Sinta, dia juga istrimu."
Yuda menahan diri untuk tak marah di depan umum. Nafasnya sedikit memburu, mengapa Intan sama sekali tak cemburu. Apa Intan tak cinta lagi padanya, pikirnya sejenak.
"Iya!" kata Yuda ketus, kemudian melenggang pergi dari hadapan Intan.
__ADS_1
Mas, semoga dengan kemarahan dan kebencianmu itu, ketika aku pergi, sudah ada nama Sinta terukir di hatimu.
Intan menatap nanar punggung Yuda menghilang dari penglihatannya.
*
*
Langit perlahan berubah menjadi gelap. Di sebuah kamar yang lumayan besar, Intan tengah merapikan pakaiannya. Tadi Yuda mengajaknya ikut makan malam bersama di kapal pesiar. Intan begitu senang namun tak enak hati kepada Sinta. Jadi, mau tak mau Intan menolak ajakan Yuda dan meminta izin untuk berjalan-jalan di sekitar pantai. Yuda pun mengiyakan dan mengatakan padanya agar tak pulang terlalu malam.
"Selesai," celetuk Intan setelah menautkan tas selempang di bahu. Kemudian bergegas keluar dari kamar hendak ke tempat tujuannya.
Sesampainya di sana, Intan tersenyum sumringah melihat lampu-lampu kecil bertaburan di sekitar pantai. Terlihat para bule menikmati liburan mereka juga.
Seketika aroma jagung bakar menyeruak ke hidungya. Lantas Intan pun memutuskan membeli jagung bakar untuk menemaninya, menikmati panorama malamnya.
Setelah membeli jagung, Intan berjalan-jalan riang di sekitar pantai sambil menyantap jagung bakar. Sesekali Intan mengabadikan momen liburannya dengan memotret tempat-temat tertentu menggunakan ponsel mininya. Namun langkah kaki Intan terhenti kala suara seseorang yang sangat ia kenali memanggil namanya dari belakang.
"Intan!!!"
Reflek, Intan memutar tubuh, matanya membola melihat Yuda beberapa meter darinya tengah mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"Mas, kenapa ada di sini? Sinta di mana?" tanya Intan penasaran. Dia menelisik keberadaan Sinta namun tak ada sama sekali di sekitar mereka.
Enggan menyahut, Yuda malah berlarian mendekati Intan kemudian menarik pinggangnya dan mendekap istrinya dengan sangat erat.
"Mas?"
Intan kebingungan, ada apa dengan Yuda. Bukankah seharusnya suaminya makan malam bersama Sinta tapi mengapa Yuda ada di sini.
"Mas," panggil Intan sekali lagi. Tak ada sahutan dari Yuda.
Sekarang dahi Intan berkerut kuat. "Mas, di mana Sinta?"
Yuda mengurai pelukan kemudian menempelkan jari telunjuknya di bibir Intan."Shftt, diamlah Intan. Sinta di tempat yang aman."
"Tapi– hmff!"
Yuda membungkam Intan dengan melabuhkan kecupan. Intan sungguh terkejut, matanya bergerak ke segala arah, ingin memastikan apa ada orang atau tidak. Beruntung tak ada sama sekali. Entah mengapa dia pun terbuai sentuhan Yuda dan akhirnya tenggelam dalam permainan suaminya itu. Cukup lama keduanya bercumbu satu sama lain dengan ditemani hempasan ombak di bibir pantai.
__ADS_1
"Mas Yuda!! Mbak Intan!!!" pekik Sinta dari membuat Intan mendorong kuat dada Yuda hingga pria itu terhuyung ke belakang sesaat.