
"Bik," panggil Intan hendak menyadarkan Bik Inem.
"Tapi Non, memangnya Non di sana ada keluarga?" tanya Bik Inem dengan sangat hati-hati.
"Tidak ada, Bik." Intan menggeleng pelan.
Dahi Bik Inem berkerut kuat. "Lalu, kenapa Mbak mau ke sana?"
Intan mengulas senyum sambil menghapus jejak tangisnya. "Bik, aku mau bertemu Riko, temanku, dia adalah seorang dokter. Tempo lalu ia mengatakan padaku jika ada pengobatan untuk kanker otak. Lagipula kalau aku di sini, kenangan-kenangan bersama Mas Yuda masih ada Bik, walau Mas Yuda tak lagi mencintaiku, tapi aku akan tetap mencintainya, Bik, sampai kapanpun itu."
Bik Inem lagi dan lagi tertegun, mendengar penuturan Intan. "Kalau memang itu sudah keputusan bulat, Non, silahkan, bibik akan mengantar Non ke tempat temannya."
"Tidak usah, Bik, aku akan pergi sendiri."
"Tidak, Bibik yang akan mengantar Non, nanti Non pingsan lagi," sela Bik Inem cepat sambil mengerucutkan bibir dengan sangat tajam.
Intan tersenyum getir terhadap kebaikan Bik Inem. Wanita paruh baya itu selalu berusaha membuatnya tersenyum seperti mendiang Ibunya. "Terimakasih, Bik, maaf aku selalu merepotkan bibik, aku akan menghubungi temanku dulu, tasku di mana Bik?"
"Tas Non, ada di luar, basah semuanya Non. Nanti bibik ambilkan ya."
Intan mengangguk pelan. Selang beberapa menit Bik Inem kembali ke kamar sambil membawa tas munggil.
Intan mendesah kasar setelah memeriksa isi tas yang di dalamnya ada obat, dompet, dan handphone yang terlihat rusak. Namun setidaknya benda pipih itu masih hidup sebentar jadi dia memiliki kesempatan menghapal nomor Riko. Satu menit kemudian handphone pun mati.
Tak mau membuang banyak waktu, Intan memijam handphone anak Bik Inem, untuk menelepon Riko.
"Baik, terimakasih Riko, atas bantuannya, maaf aku merepotkanmu." Intan memutuskan sambungan setelah menjelaskan pada Riko, bahwa ia ingin pergi ke Kota. Pria itu langsung mengiyakan dan mengatakan padanya datang saja ke alamat yang ia berikan.
Keesokan harinya, Intan dan Bik Inem memutuskan pergi ke Kota XXX. Berbekal menjual hasil cincin kawinnya, Intan pun memiliki uang membiaya perjalanannya.
Sesampainya di sana, Intan di suruh Riko langsung datang ke rumah sakit, ingin memeriksa kondisinya.
Intan tak membantah dan pergi ke rumah sakit tempat Riko berkerja.
__ADS_1
"Bagaimana Riko? Apa ada yang serius?" tanya Intan tak sabaran setelah selesai melakukan pemeriksaan di bagian kepalanya barusan. Dia melihat Riko tengah mengamati hasil pemeriksaan.
Riko tak langsung menyahut. Pria itu sedang memperhatikan hasil MRI Scan dengan seksama. Dia sangat fokus sehingga ruangan sekarang dalam keadaan hening.
Intan meremas tangannya sendiri, menunggu dengan sabar penjelasan dari Riko. Begitupula Bik Inem, ia tak kalah gelisahnya.
Riko menghela nafas kasar. "Intan, apa akhir-akhir ini tubuhmu mati rasa?" tanyanya tiba-tiba.
Intan mengangguk cepat. "Iya, memangnya kenapa Riko?"
"Sebenarnya–"
"Oek!" Intan membekap mulutnya seketika. Secara cepat dia bangkit berdiri dan memberikan kode pada Riko untuk ke kamar mandi sebentar. Bik Inem pun bergegas mengekori Intan dari belakang.
Sepuluh menit kemudian. "Maaf, Riko, sekarang aku juga suka mual dan muntah. Gejala kanker otak sepertinya semakin bertambah."
Riko mengerutkan dahi. "Gejala?" Lalu sedetik kemudian ia mengulas senyum. "Intan, ayo ikut aku ke ruangan lain sebentar, kita harus melakukan pemeriksaan yang lainnya juga."
"Iya, ayo!" Riko berjalan cepat menuju ambang pintu. Lantas Intan dan Bik Inem langsung mengikutinya.
"Riko, kenapa kita ke dokter kandungan, memangnya siapa yang hamil?" Intan keheranan mengapa Riko membawanya ke ruangan poli kandungan.
"Sudah, kenapa kau sangat bawel, ayo cepat masuk!" titah Riko membuat Intan diselimuti tanda tanya besar.
Sesampainya di dalam, salah seorang wanita berjas putih sama seperti Riko, menyambut dan mempersilahkan mereka duduk. Riko dan dokter tersebut berbincang-bincang sejenak.
"Saudari Intan NawangSari, ayo ikut saya ke dalam sebentar, Ibunya juga boleh ikut," ucap Sang Dokter sambil menuntun Intan ke dalam bilik yang ditutupi tirai berwarna putih.
Intan kebingungan ketika melihat Sang Dokter mulai menaruh benda kecil yang sudah diberi gel bening diperutnya.
"Sudah berapa bulan tidak datang bulan?"tanya sang dokter sambil menggerakan benda ke segala arah.
Deg.
__ADS_1
Intan tertegun, baru menyadari sudah beberapa bulan tak menstruasi. Dia pun mengingat-ingat kapan terakhir kali datang bulan.
"Hm, saya lupa-lupa ingat Mbak, sepertinya tiga yang bulan lalu," ucap Intan saat teringat Yuda pernah mengaulinya dalam keadaan marah. "Memangnya kenapa ya Mbak?"
Sang Dokter terkekeh sebentar. Kemudian menghidupkan layar monitor di dinding, menampilkan sesuatu yang membuat mata Bik Inem dan Intan terbelalak.
"Di dalam perut Mbak sekarang ada seorang bayi, selamat ya Mbak," ucap Sang Dokter dengan tersenyum tipis.
"Alhamdulilah." Bik Inem langsung mengucap syukur. Sementara Intan masih terpaku di tempat.
"Ta–pi bagai–mana bisa Dok? Itu ti–dak mungkin." Intan tergagap-gagap, tak percaya akan perkataan Dokter.
"Tentu saja bisa, jika Allah yang berkhendak, apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin," ucap Sang Dokter sambil menutup pakaian Intan dan menaruh benda tersebut ke tempat semula.
*
*
Setelah selesai periksa di poli kandungan. Intan, Riko dan Bik Inem, duduk di bangku tunggu.
"Intan, kenapa kau melamun? Apa kau tak senang kalau kau sekarang akan memiliki seorang anak?" tanya Riko seketika saat melihat Intan lebih banyak terdiam sambil memandangi hasil usg sedari tadi.
Intan menoleh dan mata yang mulai berkaca-kaca. Lalu berkata,"Riko, rasanya aku seperti mimpi, mengapa Allah menjungkir balikkan duniaku, aku terkena kanker otak lalu kemarin Yuda menalakku dan sekarang dia malah memberikanku seorang anak yang sangat ku nantikan dari dulu tapi mengapa di saat aku sudah janda, Riko."
Riko menarik nafas dalam. "Intan, terkadang kita umat manusia tidak mengerti dengan rencana Allah, namun percayalah Allah tahu mana yang terbaik untukmu. Mungkin Dia menghadirkan anak agar kau lebih semangat lagi untuk sembuh, maka dari itu kau harus melawan penyakitmu demi anakmu!" ucapnya dengan semangat sambil menghapus air mata Intan.
...----------------...
...MRI Scan ...
...Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah pemeriksaan medis yang menggunakan medan magnet kuat dan denyut frekuensi radio untuk menghasilkan gambar struktur yang lebih detail....
^^^Sumber : Alomedika.com^^^
__ADS_1