Madulah Aku, Suamiku

Madulah Aku, Suamiku
Wish


__ADS_3

Dini hari, Yuda terpaksa membuka matanya agar Intan tak mendapatinya di dalam kamar. Sebelum keluar dari kamar ia melabuhkan kecupan pelan di pipi tirus Intan kemudian melangkah pergi, meninggalkan Intan masih tertidur pulas.


Intan menggeliat sejenak kala tak ada lagi sentuhan hangat di sekitar tubuhnya. Terdengar dengkuran halus dari hidungnya. Wanita itu masih berada di pulau mimpi, tak mengetahui jikalau sang suami sepanjang malam mendekapnya dengan sangat erat.


Menjelang pagi, Intan sudah sibuk melakukan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga. Berbeda dengan Sinta, memilih bersantai-santai di depan televisi, menonton sinetron kesukaannya. Sementara Yuda duduk di ruang tengah. Menyesap kopi hitam sembari melirik-lirik Intan dari kejauhan.


"Mbak, tolong buatkan aku teh hangat," ujar Sinta seketika.


Yuda dan Intan serempak menolehkan mata ke arah Sinta.


"Oke, tunggu sebentar ya, Mbak mau selesaikan dulu perkerjaan Mbak." Pasalnya Intan tengah mengelap meja dan beberapa lemari di seluruh ruangan.


"Tapi Mbak–"


"Sinta, apa kau tak punya tangan dan kaki!? Intan sedang sibuk, tak usah manja!" Yuda naik pitam, melihat Sinta seperti seorang bos, yang suka memberikan perintah sesuka hatinya.


Sinta merengut, berdecak kesal di dalam hati karena Yuda membela Intan.


"Ada apa ini?" Bunda Ema dan Wulan baru saja tiba. Gurat keheranan terpampang jelas di wajah mereka ketika mendengar suara Yuda meninggi.


Melihat kedatangan mertua dan kakak iparnya, Sinta bangkit berdiri dan menghampiri mereka.


"Bunda, apa aku salah meminta tolong pada Mbak Intan, membuatkan aku teh?" Sinta menampilkan raut wajah memelas.

__ADS_1


Bunda Ema menautkan alis mata. "Tidak salah, Sinta, kenapa memangnya?"


Sinta melirik Yuda sekilas. Melihat sorot suaminya amat menyeramkan. "Bunda, Mas Yuda memarahiku tadi, karena aku meminta tolong pada Mbak Intan." Adunya masih dengan mata puppy eyes-nya.


Bunda Ema dan Wulan saling melemparkan pandangan sejenak.


"Yuda, kenapa kau memarahi Sinta?" tanya Wulan.


"Wajar aku memarahinya, karena dia bersikap tidak sopan pada orang yang lebih tua darinya! Sinta punya kaki dan tangan, mengapa pula harus menyuruh Intan?!" bentak Yuda.


"Yuda, ini semua juga demi kesehatan Sinta. Agar kalian cepat memiliki anak, jadi dia tak boleh terlalu banyak melakukan perkerjaan rumahan!" protes Wulan tak mau kalah pada adiknya itu.


"Sudah, sudah kalian berdua, jangan berkelahi," Bunda Ema melerai putra dan putrinya agar tak kembali beradu mulut.


"Yuda, Bunda sengaja meminta Sinta beristirahat, agar dia cepat isi," ucap Bunda Ema.


"Iya, terserah, tapi dia tak memiliki adab, lagipula dia belum tentu hamilkan!" sergah Yuda sekali lagi. Kemudian menatap tajam Sinta dan Wulan secara bergantian.


Bunda Ema menghela nafas sesaat. Melirik Intan hanya diam saja, menyaksikan perdebatan antara Yuda dan Wulan.


"Maka dari itu, kalau kau yakin Sinta belum hamil, bagaimana kalau kau dan dia bulanmadu ke luar pulau," ucap Bunda Ema. Membuat Sinta dan Wulan tersenyum sumringah sementara Yuda nampak jenggah dengan permintaan Bundanya.


"Tidak, aku sibuk! Buang-buang waktu saja!" ucap Yuda.

__ADS_1


Senyuman yang terukir di wajah Sinta, hilang seketika.


"Yuda, Bunda mohon, kali ini saja kabulkan lah keinginan Bunda." Bunda Ema menyatukan kedua tangannya di depan dada sambil melayangkan tatapan sendu pada Yuda.


Yuda diterpa dilema. Sampai sekarang ia belum bisa menerima Sinta sepenuhnya. Apalagi melihat sikap asli Sinta yang muncul, semakin membuatnya tak suka. Cukup lama ia terdiam, tengah berpikir.


"Yuda, Bunda mohon." Bunda Ema mendekat menangkup kedua pipi Yuda.


Yuda terhenyak, melihat pancaran mata Bundanya menyiratkan kesedihan. Setelah menimbang-nimbang sesaat akhirnya Yuda terpaksa mengiyakan permintaan Bunda.


"Baiklah, tapi dengan satu syarat, Intan juga ikut."


Mata Sinta dan Wulan terbelalak, mendengar ucapan Yuda. Sementara Intan menautkan alis matanya, mengapa Yuda mengajaknya bulanmadu bersama madunya.


"Kau gila atau apa!? Bulan madu itu hanya berdua Yuda?" protes Wulan.


"Aku tidak gila, aku mempunyai alasan sendiri, mengajak Intan bersamaku, aku tak mau saja kalau dia aku tinggalkan. Intan akan bebas bertemu selingkuhannya," ucap Yuda.


Intan langsung menundukkan wajah. Merasa sedih karena alasan Yuda mengajaknya, agar ia tak bisa bertemu Riko. Padahal nyatanya, Riko bukan selingkuhannya melainkan temannya.


Bunda Ema nampak mangut-mangut. Seakan mengerti dengan isi kepala Yuda. Namun Sinta berdecak sebal di dalam hati, kesal terhadap keputusan Yuda. Sementara Wulan menatap sinis Intan.


Ya Allah, bantulah hamba meredam rasa cemburu ini nantinya. Intan berucap di dalam hati, membayangkan sesuatu yang tak dia inginkan akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2