
Sudut Pandang - Yuda
πππ
Aku tak menyangka wanita yang selama ini ku hormati. Menyakiti Intan, dialah istriku, belahan jiwaku dan bidadariku. Mungkin inilah alasan Intan berselingkuh dariku karena tak tahan dengan sikap kakak iparnya, tebakku.
Dengan lantang, aku pun memarahi Mbak Wulan, meminta menghormati dan menghargai Intan. Namun bukannya mengiyakan perkataanku, Mbak Wulan malah menyalahkan Intan lagi. Katanya diriku sudah dibutakan oleh Intan. Cukup lama kami berdebat tadi siang, sampai pada akhirnya perkataan Mbak Wulan membuat perasaanku kalut.
"Kau benar-benar bodoh, Yuda. Membela Intan daripada kakakmu sendiri, kalaupun aku membuatnya tidak tahan karena sikapku, lalu mengapa dia berselingkuh darimu?! Tidak ada pembenaran yang dilakukan Intan, Yuda. Dia menipu semua orang! Tidak hanya kau! Tapi aku, Bunda dan Sinta juga! Aku yakin sebentar lagi, Intan pasti akan meninggalkanmu dan pergi bersama selingkuhannya itu!"
Ucapan itu terngiang-ngiang di benakku. Perasaanku semakin gamang, ada benarnya juga kata Mbak Wulan namun aku menepis semua pernyataannya, memilih pergi menuju lantai atas, ingin bertemu Intan.
Sesampainya di atas, aku mencarinya tapi istriku itu tak ada di tempat tadi. Aku pun berlarian ke sana kemari. Pikiranku sudah melanglang buana entah kemana. Mengira, mungkin saja Intan kabur bersama selingkuhannya. Tapi pradugaku semuanya sirna saat melihat ia berada di dalam kamar.
Mataku menyipit kala melihat ia terbaring lemas dengan wajah yang terlihat pucat. Aku pun gusar lalu mulai mendekatinya dan bertanya, apa dia sedang sakit?
"Intan, kenapa mukamu pucat, kau sakit?" tanyaku.
Intan menjawab pertanyaan dengan tatapan yang sulit aku jabarkan. Ada gelanyar aneh mulai menyelimuti hatiku, saat mata hitam nan bulat itu menatapku.
Tak mau terlalu berpikiran berlebihan, aku pun terpaksa kembali ke tempat kerja, menyelesaikan perkerjaan yang belum rampung sama sekali. Tak lupa pula aku mengecup pipinya yang semakin terlihat tirus sekarang.
Menjelang sore, sebuah pesan masuk ke ponselku. Aku pun membaca pesan tersebut. Sebuah kabar dari Mbak Wulan, membuat darahku mendidih. Kakakku mengirim beberapa foto, memperlihatkan Intan pergi entah kemana menggunakan motor-nya. Kemana dia? Pikirku. Tanpa pikir panjang, aku pergi ingin membuntuti Intan.
Sesampainya di sana. Aku mengendap-endap melihat Intan dari kejauhan tengah menunggu seseorang di warung. Mataku terbelalak melihat seorang pria berperawakan kurang lebih sama sepertiku tersenyum padanya. Si@lan, harga diriku benar-benar terinjak. Dengan setengah berlari aku menghampiri keduanya. Tanganku terkepal sangat kuat, menahan gejolak amarah dan cemburu yang bercampur menjadi satu.
Bugh! Aku layangkan pukulan yang cukup keras di belakang punggungnya.
"Awh!" Pria itu mengaduh kesakitan.
"Mas Yuda!" Intan berdiri menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan lagi.
"Kemari kau!" murkaku sambil mencekal tangan Intan.
"Awh, Mas. Lepaskan!" pekik Intan.
__ADS_1
"Yuda, lepaskan Intan dia kesakitan!" Pria itu bangkit berdiri hendak mengambil alih Intan dariku.
Aku murka, sangat murka kala pria itu, ya selingkuhan Intan, mulai menyentuh Intan.
"Diam kau! Kau hanya selingannya saja, tidak usah kau mencampuri urusan rumah tanggaku, bedebah!" bentakku padanya. Pria itu terdiam, mengalihkan pandangannya pada Intan yang masih memintaku melepaskannya.
"Mas, Riko bukan selingkuhanku, aku bisa menjelaskannya, Mas, diaβ"
"Diam!!!" teriakku sampai-sampai pemilik warung mulai mendekati kami. "Jangan berkilah, Intan, aku sangat kecewa padamu! Ternyata benar kata Mbak Wulan, kau benar-benar seorang penipu!"
Intan menatapku dengan mata mulai berkaca-kaca. Apa dia tengah berakting, seperti sebelum-belumnya. Jika aku biasanya akan kasihan atau memeluknya tapi tidak sekarang, kepercayaanku sudah di rusak olehnya dalam sekejap mata. Aku pikir Intan akan berubah tapi nyatanya, dia masih bermain di belakangku. Kurang baik apa aku sebagai suami, masih menerimanya meski hatiku telah retak.
"Ayo! Sekarang kita pulang!" pungkasku ketika melihat pemilik warung mendatangkan seorang pria paruh baya, yang ku yakini adalah ketua RT setempat.
"Dan kau bedebah! Sekali lagi kau bertemu dengan istriku! Aku akan membunuhmu!" sahutku sebelum berlalu dari situ.
Riko tak membalas, hanya berdiri mematung melihat kepergianku dan Intan.
*
*
*
"Lepaskan aku, Mas. Kepalaku sakit..." lirihnya pelan sambil memegangi kepalanya.
Saat ini kegelapan menyelimuti tubuh dan hatiku. Aku tak peduli lagi karena aku yakin Intan pasti sedang bersandiwara, berharap aku melepaskannya.
Cih! Enak saja!
"Mas... Aku mohon, lepaskan aku...."
Masih ku dengar bibir munggil itu merintih kesakitan.
Brak!
__ADS_1
Aku mendobrak pintu gudang dalam satu kali hentakan dan mendorong Intan untuk masuk ke dalam kamar hingga ia tersungkur di atas lantai.
"Mas..." Intan menangis pelan sambil memegangi satu kakiku.
Bugh!
Aku menghentakkan kaki sampai tubuh mungil itu terpental ke lantai. Secepat kilat aku memutar badan, enggan melihat keadaan Intan saat ini. Kemudian mengunci pintu dari luar.
"Mas! Buka pintunya, Mas. Aku tidak berselingkuh Mas! Riko adalah temanku! Dia seorang dokter! Mari kita bicara empat mata, Mas!" seru Intan dari dalam sambil menggebrak-ebrak pintu.
"Simpan semua alibimu, Intan. Aku tak percaya lagi denganmu!!!" bentakku.
"Mas! Buka pintunya!" seru Intan lagi. Membuatku segera melangkah pergi menuju ruang depan.
"Mas, kau tidak apa-apa?" tanya Sinta. Dialah istri yang ku abaikan.
Aku menoleh, melihat wanita berhijab biru laut tengah mengkhawatirkanku. Menghela nafas sebentar, aku menjatuhkan diri di atas sofa lalu memijit pangkal keningku mulai berdenyut kuat.
"Mas," panggil Sinta sambil duduk di samping kemudian menyentuh pundakku. "Mas, walaupun aku bukanlah wanita yang kau cintai, tapi setidaknya jadikanlah aku teman bagimu, bersandarlah di pundakku, Mas."
Perkataan Sinta, membuatku langsung menatapnya. Tak habis pikir, mengapa wanita yang tak ku cintai ini, malah baik padaku. Sekarang aku baru menyadari betapa besar cinta Sinta padaku.
"Terimakasih, Sinta. Maaf aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu. Aku begitu malu, selama ini tak pernah menganggapmu ada, terimakasih karena mau menjadi temanku, tapi biarlah beban ini aku rasakan sendiri, aku tak mau kau ikut stres," ucapku sambil mengelus perut Sinta yang di dalamnya ada makhluk kecil sedang berkembang.
Sinta mengulas senyum. "Tak apa, Mas, bukankah suami istri harus saling berbagi suka dan duka."
Aku menarik nafas pendek. "Sinta, mengertilah, aku tak mau kau terkena dampak dari permasalahan yang di buat Intan."
Sinta menyentuh punggung tanganku. "Baiklah, tapi kalau kau tak mampu menahan semuanya, berbagilah denganku, Mas. Terimakasih telah mengkhawatirkanku," ucapnya.
Aku tak menyahuti Sinta. Pikiranku masih dipenuhi dengan Intan.
"Mas, apa lebih kau lepaskan saja Mbak Intan kasihan dia," sambung Sinta tiba-tiba.
"Tidak! Biarkan dia merenungi kesalahannya!" Nafasku memburu kala Sinta membahas Intan.
__ADS_1