
"Mas!" panggil Sinta untuk kedua kalinya.
Yuda segera tersadar lalu memutar tubuhnya, melihat Sinta berada di depan pintu kamar dengan raut wajah menahan sebal.
"Ada apa?"
Sinta menggaruk tengkuk sesaat, kala Yuda menatapnya dingin.
"Bunda Ema dan Mbak Wulan ada di bawah, kau tak mau turun, Mas? Amirah tadi hampir saja bisa berjalan," ucapnya pelan.
"Hm, kau tidak lihat aku sedang sibuk membuat laporan."
Sinta bergedik ngeri ketika Yuda membalas perkataannya dengan nada yang agak kesal.
"Baiklah, Mas. Kalau sudah selesai turunlah ke bawah," ucapnya kemudian menutup pintu kamar tersebut.
Yuda menghela nafas kasar. Pria itu langsung mengalihkan pandangan ke layar laptop yang kosong alias laporan belum dikerjakannya sama sekali. Semenjak kepergian Intan, Yuda merasa dunianya sangat hampa dan kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya.
Karena kemarahannya tempo lalu membuat Yuda lepas kendali. Dan tanpa sadar menalak Intan. Tentu saja setelah ia menjatuhkan talak, esok harinya Yuda langsung mencari Intan namun tak kunjung juga ketemu. Kesana kemari ia menelisik keberadaan Intan tapi hasilnya nihil. Pikirannya pun melanglang buana, mengira Intan pergi bersama selingkuhannya.
Nasi sudah menjadi bubur, kini Yuda lebih banyak merenung. Lantas kepergian Intan membuat dirinya menutup diri. Sekarang pria itu lebih banyak diam, susah mempercayai seseorang dan lebih dingin. Sejak saat itu pula Yuda jarang menghabiskan waktu di rumah, memilih menyibukkan diri berkerja.
Yuda menyugar rambutnya ke atas lalu beranjak keluar dari kamar, ingin mengambil makanan di dapur, akan tetapi belum sampai di lantai satu. Seakan ada magnet, kedua mata Yuda melihat pintu kamar yang ditempati Intan dulu. Sudah lama ia tak berkunjung ke kamar, hatinya sangat sesak jika mengingat wanita yang sangat ia cintai berselingkuh. Cukup lama ia memandangi pintu kamar Intan hingga suara celotehan Amirah di bawah sana menyadarkannya.
__ADS_1
"Wah, lihat anakmu Yuda dia sudah bisa berjalan!" seru Wulan ketika melihat Yuda menuruni anak tangga.
Yuda menghampiri, lalu melemparkan senyum tipis, melihat perkembangan Amirah sekarang. Yang sudah mulai berjalan. Gadis munggil itu menatap ayahnya dengan mata berbinar-binar.
"Baguslah, aku ke dapur dulu," ucap Yuda sambil mengelus pelan kepala Amirah. Lalu melenggang pergi meninggalkan Amirah yang memanggil namanya sedari tadi.
"Ayah, ayah, ayah," ucap Amirah hendak mengejar Yuda.
Sinta melemparkan pandangan pada Bunda Ema dan Wulan sejenak kemudian mengambil Amirah dan menggendongnya.
"Gara-gara Intan sikap Mas Yuda berubah, padahal wanita sudah lama tak ada di rumah ini." Sinta mendengus seketika.
"Memang pandai sekali dia bersandiwara, cih! Mengatakan kalau dia sakit keras! Haha! Palingan cuma akting saja!" Wulan menimpali.
"Apa maksud kalian?"
Sinta dan Wulan tersentak, baru menyadari ucapan mereka barusan.
"Sinta! Wulan! Apa yang kalian sembunyikan dari Bunda!? Walaupun Bunda tak menyukai Intan tapi Bunda tidak membencinya," ucap Bunda sambil menatap curiga Wulan dan Sinta secara bergantian yang kini terlihat panik.
*
*
__ADS_1
*
Di sebuah rumah nan asri terlihat seorang wanita berbadan dua sedang menyisir rambut panjangnya yang tergerai. Intan berdiri di dekat jendela, sambil memandangi hamparan sawah di luar sana. Kini wanita itu tinggal di sebuah desa yang tak jauh dari pusat Kota. Di sini ia sekarang tinggal bersama Bik Inem.
Berkat bantuan Riko ia bisa bertahan sampai saat ini. Pria itu amat baik padanya, membelikan ia rumah serta perkerjaan untuknya dan Bik Inem. Hampir setiap bulan pula Intan pergi ke Kota mengecek kondisi tubuhnya, untuk menjalani pengobatan.
Intan menghela nafas sambil mengelus sejenak perutnya yang sudah nampak membesar sekarang. Memasuki hamil tua, dia di suruh Bik Inem berdiam diri di rumah saja.
"Nduk, bibik pergi dulu ya, mau garap sawah, sebentar lagi anak bibik datang, jangan keluar ya di rumah saja. Ini makanan buat cucu bibik," Bik Inem menyelenong masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan.
Intan menolehkan mata. Kemudian mengulas senyum. "Baiklah, terimakasih, Bik, aku akan memakannya nanti, berhati-hatilah di jalan."
"Owalah sawahnya dekat itu, nggak jauh, empat puluh langkah dari rumah," kelakar Bik Inem sambil mendekat.
Intan terkekeh sejenak.
"Ya sudah, bibik pergi dulu ya." Bik Inem memegang perut Intan. "Jangan buat mama kewalahan ya, Nak."
"Iya nenek," sahut Intan menirukan suara anak kecil. Keduanya pun tertawa pelan bersama-sama.
Selepas kepergian Bik Inem. Intan meringis kesakitan sambil memegang kepalanya seketika saat rasa sakit kembali menderanya.
"Nak, apa kau baik-baik saja di dalam?" tanyanya sambil satu tangannya menyentuh perutnya.
__ADS_1