Madulah Aku, Suamiku

Madulah Aku, Suamiku
Disappointed


__ADS_3

Semenjak Sinta hamil, seluruh keluarga Yuda begitu senang akan kabar bahagia dari istri mudanya itu. Atas permintaan Intan, kini Yuda pun lebih banyak menghabiskan waktu bersama Sinta. Intan mengatakan pada suaminya agar siap siaga menjaga Sinta.


Dan perkerjaan rumah pun sekarang benar-benar dilimpahkan pada Intan. Tempo lalu ketika Bunda Ema dan Wulan berkunjung ke rumah. Kakak iparnya itu memerintahkan Intan untuk siap sedia kalau Sinta meminta sesuatu, jika Sinta mengidam atau apa. Tanpa paksaan Intan pun setuju, walau harus menahan perih kala kalimat cercaan dari Wulan yang mengatakan bahwa dirinya wanita mandul.


"Sinta benar-benar menantu idaman ya Bunda. Tidak seperti wanita kurus ini! Yang mandul!"


Ucapan Wulan, terngiang-ngiang di benak Intan kala itu tapi dia tak membalas sedikitpun apa yang dilontarkan kakak iparnya. Intan memilih diam, tak mau meladeni Wulan, yang bisa saja membuat energinya terkuras.


Saat itu pula penyakit yang menggerogoti Intan semakin bertambah sakit. Setiap malam Intan akan merintih kesakitan di dalam kamar. Berperang sendiri dengan penyakitnya tanpa di temani Yuda. Namun rasa sakit itu sedikit mereda jikalau dia meminum obat yang diberi Riko tempo lalu.


Saat ini, Intan tengah sibuk memasak wajik untuk mertua dan kakak iparnya, yang kebetulan bertandang ke rumah. Intan menyeka peluh keringat di dahi sejenak, kala hawa panas dari kompor menyeruak.


"Intan!!!" pekik Wulan dari depan. Membuat Intan terkesiap hingga tanpa sengaja menyentuh ujung kuali.


"Awh!" Intan meringis sejenak kemudian mematikan kompor.


"Intan!!" teriak Wulan lagi, mendengar hal itu, secepat kilat Intan berlarian ke sumber suara.


"Kenapa kau lama sekali ha?!" bentak Wulan seketika.


"Wulan, kenapa kau berteriak-teriak seperti itu? Bunda tak pernah mengajarimu bersikap tak sopan pada seseorang." Bunda Ema menegur Wulan.


Wulan mendengus. Tak menyahut perkataan Bundanya.


"Ada apa Mbak Wulan?" tanya Intan.


"Bunda mau berbicara denganmu!" kata Wulan ketus.


Bunda Ema menggeleng pelan, melihat sikap Wulan. Binggung harus bagaimana lagi, menasehati anaknya. "Intan, apa kau sudah selesai membuat wajik?"


"Sebentar lagi selesai, Bunda."


Bunda Ema nampak mangut-mangut. "Maaf kalau Bunda mengambil waktumu, begini, Sinta memintamu membeli rujak di desa sebelah. Sepertinya dia sedang mengidam, Nak."


"Desa sebelah?" Intan keheranan mengapa harus membeli rujak di desa sebelah, yang jelas-jelas lumayan jauh.

__ADS_1


"Iya, Intan. Apa kau bisa membeli rujaknya sekarang, sekaligus belilah untuk Bunda dan Wulan."


Intan tak langsung menjawab, tengah menimbang-nimbang.


"Ternyata kau sangat tega Mbak, membiarkan anakku nanti ngeces kalau sudah lahiran!" Sinta mencebik sambil mengusap pelan perutnya.


Intan menghela nafas. "Baiklah, Mbak akan membelikan rujak untukmu sekarang," jawabnya terpaksa.


"Ini duitnya." Bunda Ema menyodorkan beberapa pecahan uang kepada Intan. "Pulanglah sebelum Yuda istirahat makan siang, Intan."


Intan meraih uang dari tangan Bunda. "Iya, Bunda."


*


*


Selesai menyematkan jaket di tubuhnya. Intan bergegas pergi ke desa sebelah dengan mengunakan motor matic. Teriknya matahari membuat Intan menyipitkan matanya. Walau kepalanya di lindungi helm tapi tetap saja silau.


Dengan hati-hati Intan mengendarai kendaraan roda dua tersebut. Menempuh kurang lebih empat puluh lima menit, Intan telah sampai di desa XXX. Dia langsung bertanya kepada para penduduk, menanyakan di mana penjual rujak bertengker.


Salah seorang warga mengatakan di dekat sekolah negeri 06. Lantas Intan pun pergi menuju sekolahan tersebut. Sesampainya di sana Intan membeli rujak sesuai pesanan. Selang beberapa kemudian, Intan kembali lagi ke rumahnya.


Sinta menerima rujak tersebut. "Hm, oke."


"Ambilkan kami piring, Sinta!" titah Wulan seketika.


Intan meraup udara di sekitarnya, kala Wulan memperlakukannya seperti seorang pembantu. Tak mau berdebat. Ia pun melenggang pergi ke dapur.


"Ini piringnya!" Intan menaruh langsung piring di atas meja dengan agak kasar hingga menimbulkan bunyi.


Wulan mulai tersulut emosi. "Kau tak ikhlas, mengambilkan kami piring!"


Sudah habis kesabaran Intan. Dengan cepat ia menatap dingin Wulan. "Bukannya aku tidak ikhlas, tapi aku tak suka cara Mbak, meminta mengambilkan piring, orangtuaku selalu mengajarkan ku untuk mengatakan tolong jika meminta sesuatu pada orang lain, tapi Mbak Wulan sangat tidak memiliki adab, aku bukan pembantu, tapi istri adikmu!"


Kalimat menohok dari Intan, membuat tangan Wulan terkepal kuat. Dia kehabisan kata-kata.

__ADS_1


"Astagfirulah, Mbak. Justru Mbak juga tidak memiliki adab membentak orang yang lebih tua." Sinta menimpali, sengaja menuangkan bensin di atas bara api.


Kali ini Intan benar-benar habis kesabaran. Entah mengapa rasa lelahnya membuat dia dengan berani mengutarakan isi hatinya selama ini di hadapan Wulan dan Bunda Ema.


"Bukankah kau juga tidak memiliki adab, Sinta. Tadi saja saat aku memberikanmu rujak, kau tak mengucapkan kata terimakasih, jangan mentang-mentang kau sedang hamil, kau sesuka hati menyuruhku!"


Muka Sinta langsung merah padam. Tersinggung dengan perkataan Intan.


"Intan!" Bunda Ema bangkit berdiri, melihat menantu pertamanya hari ini berbeda. "Jaga ucapanmu, Sinta tengah hamil dan–"


"Cukup Bunda! Apa Bunda mau mengatakan aku mandul juga sama seperti Mbak Wulan? Aku tak habis pikir dengan tiga orang wanita di hadapanku ini yang menyerang ku sendiri. Aku sudah cukup bersabar menghadapi sikap Mbak Wulan selama ini, hanya karena aku mandul kalian memperlakukanku semena-mena, bagaimana kalau posisinya di balik?" Entah keberanian dari mana, tanpa rasa takut sedikitpun, Intan mengungkapkan isi hatinya yang terpendam selama ini.


"Lancang sekali kau, Mbak!" Sinta bangkit berdiri ingin meraih tangan Intan namun pekikan seseorang dari pintu utama, menghentikan gerakan tangannya.


"Sinta! Berhenti kau!" Yuda melangkah cepat mendekati Sinta. "Jangan sekali-kali kau menyentuh Intan, meskipun kau sedang hamil anakku, aku tak akan segan-segan membentakmu, jika bersikap tak sopan pada istri pertamaku!" serunya sambil mengibaskan tangan Sinta.


"Mas, aku tak mungkin bersikap seperti ini kalau Mbak Intan tak kurang ajar pada Bunda dan Mbak Wulan." Sinta membela diri.


Yuda melemparkan pandangan pada Bunda Ema, Wulan dan Intan secara bergantian.


"Apa benar begitu?" tanya Yuda sambil menyipitkan mata ke arah Wulan.


"Tentu saja, istri pertamamu itu bersikap tak sopan pada Bunda dan kakakmu ini." Wulan tersenyum sinis kepada Intan.


Yuda tak menanggapi perkataan kakaknya itu, malah menyambar tangan Intan dan mengenggamnya.


"Apa ini alasanmu, memintaku menikah lagi, Intan? Karena perlakuan Bunda dan kakakku? Apa ini juga alasan kau selingkuh dariku, karena aku seperti di tutup mata oleh kedua orang yang aku hormati ini?"


Pertanyaan yang dilontarkan Yuda, membuat Wulan ketar-ketir.


Intan tak menyahut, hanya terdiam dengan menundukkan kepala.


"Yuda, perlakuan apa? Kau jangan mengada-ada, memangnya Mbak ngapaian Intan?" Wulan menyangkal semua tuduhan Yuda.


Yuda terkekeh mengejek, mendengar penuturan Wulan. Pasalnya dia sudah cukup lama berdiri di depan pintu, melihat dan mendengar perdebatan antara Wulan, Intan, Sinta dan Bunda Ema. Di tambah lagi, tadi dia tak sengaja melihat Intan datang dari kampung sebelah.

__ADS_1


"Aktingmu sangat keren, Mbak. Kau pikir aku bodoh, aku mendengar semua perdebatan kalian barusan. Aku sangat kecewa pada Mbak Wulan, Bunda dan kau juga Sinta."


Yuda menatap kecewa ketiganya secara bergantian, kemudian berlalu pergi sambil mengandeng tangan Intan, membawanya ke lantai atas.


__ADS_2