Madulah Aku, Suamiku

Madulah Aku, Suamiku
Bolekah Aku Ikut


__ADS_3

Sementara itu, Yuda melirik sekilas pilar di ujung sana, barusan ia tak sengaja melihat Intan bersembunyi.


Apa yang kau lakukan, Intan? Bukankah ini yang kau mau? Salah kah aku ingin kau merasakan, apa yang aku rasakan ketika kau dengannya tega menduakan ku?


Yuda mengalihkan pandangan kearah Wulan yang masih tertawa terbahak-bahak karena barusan memberikan perintah padanya untuk mencium istri keduanya itu di hadapan keluarga Sinta. Ia pun terpaksa mengiyakan perkataan Wulan, mengingat kehadiran orangtua Sinta di sini. Apalagi kemarin Abah Sinta sempat menyindirnya harus lebih meluangkan waktu untuk Sinta, terlebih lagi Sinta baru saja melahirkan anaknya. Dan harus berlaku adil kepada dua-dua istrinya.


Yuda menghela nafas berat, nyatanya ia tak menerapkan keadilan di rumah tangganya. Belum lagi akhir-akhir ini ia merasa waktunya kurang bersama Intan. Secara bersamaan pula bayangan-bayangan istri pertamanya tengah berselingkuh, melayang-layang di benaknya. Yuda menggeleng cepat kemudian beralih menatap Sinta.


"Sinta, di mana handphoneku?" tanya Yuda tiba-tiba. Sebab sejak beberapa bulan yang lalu ponselnya berada di tangan Sinta. Wanita itu beralasan ingin meminjam untuk membeli kebutuhan anaknya di aplikasi shope3. Mau tak mau Yuda memberikan ponselnya sebab Intan merengek dengan alasan mengidam. Jadi Yuda jarang sekali memegang benda pipih tersebut sekarang.


Sinta menoleh. "Untuk apa Mas?"


Yuda menyipitkan mata. "Tentu saja aku harus menghubungi manajer, Sinta. Bukankah anak kita sudah lahir?"


Sinta terlihat salah tingkah. "Iy-a, iy-a, Mas, sebentar," ucapnya sedikit gelagapan kemudian mengambil ponsel di tasnya dan menyodorkan benda pipih itu kepada Yuda.


Mendengar interaksi Yuda dan Sinta. Wulan menoleh."Kenapa kalian berebut handphone?"


"Hehe nggak Mbak, handphone Mas Yuda aku pinjam kemarin, ini mau diambil sama dia," jawab Sinta dengan merapikan jilbabnya yang agak berantakan.


Wulan mangut-mangut. "Oh ya, putrimu kalian kasi nama apa?" tanyanya penasaran sambil melemparkan pandangan kepada Yuda dan Sinta.


"Terserah Sinta saja," jawab Yuda, lalu melirik Sinta.


"Hm, bagaimana kalau Amirah Anggara, bagus tidak!?" Sinta berkata dengan sangat semangat sampai-sampai bayi munggil yang berada di gendongan Yuda terbangun.


"Oek, oek, oek, oek, oek, oek..." Bayi yang baru berumur dua hari itu menggerakan tangan dan kaki kesana kemari, membuat Yuda mengulas senyum tipis kemudian mengelus-elus pelan lengan anaknya.


"Lucu sekali anakmu, Yuda. Mbak setuju dengan nama yang diberikan Sinta, Amirah Anggara, bagaimana menurut Bunda, Abah dan Ambu?" Wulan mengedarkan pandangan sejenak kepada orangtua dan bibik Sinta di ruangan.


Bunda Ema, kedua orangtua Sinta dan bibik Sinta mengangguk setuju.

__ADS_1


"Hm, maaf kalau aku terlalu ikut campur, aku mendengar desas-desus kalau istri pertamamu itu mandul dan berselingkuh ya?" celetuk bibik Sinta seketika membuat Yuda menatap dingin.


"Iya benar, Intan, istri pertama Yuda itu berselingkuh. Asal kau tahu ya bik, wanita itu pandai sekali bersandiwara, seolah-olah dia yang paling tersakiti. Yuda dan Sinta berhasil ditipunya. Mandul saja sok-sokan selingkuh." Wulan menimpali tiba-tiba.


Bibik Sinta menggeleng pelan. "Ya ampun, lebih baik kau ceraikan saja Intan, Yud? Apa kau tidak malu memiliki istri seperti Intan."


"Bik, sudahlah, lihat itu orangnya sudah datang, kasihan Mas Yuda, walau bagaimanapun dia adalah wanita yang mendekatkanku dengan Mas Yuda," ucap Sinta seketika saat melihat Intan berjalan perlahan mendekati mereka.


Yuda mengatur nafasnya karena hampir saja lepas kendali. Merasa beruntung Sinta adalah wanita yang baik ternyata.


"Maaf, menunggu lama, tadi aku ke toilet sebentar," ucap Intan jujur saat menangis tadi dibalik pilar. Ia memutuskan kembali ke dapur, ingin mencuci mukanya agar mata sembabnya tak terlalu nampak.


"Iya tidak apa-apa, Mbak, terimakasih ya, bergabunglah bersama kami, Mbak," ucap Sinta cepat.


Intan melirik-lirik Bunda Ema, Wulan serta keluarga Sinta melayangkan tatapan yang berbeda-beda. Entah mengapa ia merasa hawa di ruangan sangat tak nyaman.


"Tak apa, Sinta, Mbak mau ke dapur dulu, menyiapkan kalian makanan."


"Hm, Mas, setelah aku memasak, maukah kau menemaniku datang ke pemakaman orangtuaku, hari ini peringatannya, Mas." Sambung Intan lagi.


Sebelum Yuda menanggapi, Wulan berkata,"Intan, Yuda baru saja pulang dari rumah sakit, lebih baik kau pergi saja sendiri, kasihan dia."


Intan enggan membalas ucapan Wulan. "Mas? Kau kecapean?" Wanita itu amat berharap Yuda dapat ikut bersamanya, sekalian ia ingin berbicara empat mata bersama Yuda.


"Iya, aku kecapean," ucap Yuda.


"Hm, baiklah, Mas, aku pergi dulu ke dapur," ucap Intan lesu kemudian berlalu pergi dari ruangan.


*


*

__ADS_1


*


Sore harinya. Sesuai rencana Intan, ia pun pergi seorang diri ke pemakaman mendiang kedua orangtuanya. Tak lupa ia meminta izin pada Yuda di ruang tengah masih bersama Sinta dan anaknya. Menempuh perjalanan empat puluh lima menit lamanya, ia tiba di sebuah pemakaman umum.


Intan menghela nafas berat sambil memandangi bunga putih kecil bertengker di tangannya. Dengan perlahan ia melangkahkan kakinya, mendekati liang kubur mendiang Ayah dan Ibunya. Kemudian berjongkok di antara keduanya dan memulai memanjatkan doa kepada Sang Pencipta.


Setelah selesai berdoa, Intan membersihkan makam orangtuanya dan membuang bunga yang telah kering, kemudian menaruh bunga baru di atas nisan.


"Ayah, Ibu, tak terasa sudah sepuluh tahun kalian pergi." Intan memandangi dua nisan tersebut secara bergantian.


"Aku sangat merindukan kalian." Bayangan-bayangan wajah mendiang Ayah dan Ibunya menari-nari di benaknya.


"Nduk, nanti kalau sudah menikah, berbaktilah dengan suamimu, hormati dan hargai dia." Pesan Ayahnya kala itu.


"Ibu berharap kau selalu bahagia dalam keadaan apa pun, cuma tiga pesan Ibu, jadilah istri yang bijaksana dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan, jangan sesekali berbohong padanya, cintai dan sayangi dia sebagaimana mestinya. Kalau ada masalah bicarakan dengan kepalanya yang dingin, Nduk." Ibunya memberikan Intan nasihat.


Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya hari ini adalah hari dimana dunia Intan runtuh dalam sekejap mata. Kedua orangtuanya mengalami kecelakaan hebat yang diakibatkan oleh pengendara truk besar tengah melaju di jalan raya. Lantas pasangan paruh baya itu menghembuskan nafas terakhir saat dalam perjalanan ke rumah sakit karena kehilangan banyak darah.


Tes, tes, tes, tes.


Air menetes seketika dari atas langit, bersamaan pula cairan bening dari mata Intan ikut mengalir deras. Sekarang hujan turun begitu dengan cepat dan lebat. Namun Intan tak beranjak dari posisinya, memilih bergeming sambil mengelus-elus makam yang sudah terlihat basah.


Terlihat pundak Intan bergetar hebat, meratapi kemalangannya, mengapa saat ini tak ada orang yang bisa ia jadikan sandaran, mengapa semesta seakan mempermainkan kehidupannya. Orang yang selama ini dijadikannya tempat berkeluh kesah, kini tak di sini, siapa lagi kalau bukan Yuda.


Saat ini hanya ia seorang diri, yang mungkin saja akan ikut jua bersama mendiang orangtuanya ke atas sana.


"Ayah, Ibu, bolehkah aku ikut dengan kalian, sekarang tak ada lagi seseorang yang menginginkanku." Suara Intan terdengar bergetar sambil menahan dingin.


"Siapa yang berkata seperti itu?"


Deg.

__ADS_1


Intan tersentak kala suara seseorang yang amat sangat ia kenali menggema di telinganya. Secepat kilat ia mendongakkan kepalanya ke atas.


__ADS_2