Magic School

Magic School
Shy Chely


__ADS_3

Hari pertama sekolah adalah pengalaman yang paling menyenangkan dalam hidup. Hari dimana aku dapat kawan baru, guru baru dan pelajaran baru yang mungkin akan sedikit berbeda dengan pelajaran di sekolah sebelumnya.


Aku bangun sangat pagi supaya dapat berangkat lebih awal ke sekolah baru. Aku begitu semangat hingga Ibu yang baru saja selesai mencuci piring menegurku karena masih menyisakan sabun dekat telinga.


Setelah selesai, aku langsung turun dari kamarku untuk sarapan pagi. Seperti biasa, kami sarapan bersama di meja makan setiap harinya. Tapi, karena terlalu semangat untuk bersekolah, aku langsung melahap roti dengan satu suapan diatas piring. Ibu yang melihat kelakuanku yang tidak biasa ini hanya tersenyum simpul.


"Aku berangkat!"


Setelah menyiapkan segalanya kemarin malam dan sarapan pagi ini, aku berangkat dengan menaiki bis sekolah. Tapi, kali ini aku tak menjemput teman seperti biasanya. Selain pindah sekolah, aku juga pindah rumah bersama kedua orang tuaku.


Beberapa menit berlalu, bis yang kutunggu selama ini datang juga di depan halte. Aku segera naik kedalam bis dan duduk di kursi penumpang.


"Kau sudah dapat ramuan pelumpuh?"


Tiba-tiba, dari kursi belakang aku dengar seseorang sedang berbicara. Dengan sengaja aku menyimak obrolan mereka.


"Aku akan memintanya hari ini juga."


"Kalau begitu ambilkan untukku juga, ya?"


"Bagaimana kalau kita ambil bersama saja?"


"Huh, baiklah."


Suara mereka samar-samar. Aku tidak peduli lagi dengan apa yang sedang mereka bicarakan dan kembali fokus ke jalanan dihadapanku.


Beberapa jam berlalu, akhirnya sampai juga di sekolah baruku. Seharusnya aku datang kemari bersama dengan Ibu, tapi jika dilihat sepertinya Ibu sedang sibuk di rumah. Itu sebabnya aku memilih untuk berangkat sendiri.


Sesampainya di depan gerbang sekolah, aku turun dari bis bersama dengan yang lain. Sebelum masuk, kami mengantri terlebih dahulu. Aku tidak tahu apa yang mereka ambil dari bagian informasi.


"Terima kasih. Selamat belajar!"


Setelah beberapa menit berbaris, aku baru bisa melihat dengan jelas apa yang diberikannya.


"Ini dia. Selamat belajar!"


"Terima kasih."


Setelah mendapat pakaian khusus, aku bergegas masuk ke dalam. Aku kagum dengan sekolah ini yang terlihat seperti hotel bintang lima, mewah sekali. Didalamnya terdapat banyak ruangan yang berbaris rapi.


"Woahh... So cool."


Beberapa menit aku mengagumi isi dari gedung sekolah, aku lupa dimana letak asramanya. Saat sedang berkeliling mencari asrama kosong, aku tak sengaja menabrak seseorang yang mengenakan jas panjang berwarna biru tua.


"Kenapa kau masih berkeliaran disini? Segera ganti pakaian dan masuk kelas!"


"B-baik."


Akupun berlari dengan cepat menuju tangga untuk sampai ke lantai atas. Tetapi, aku tak melihat tangga atau semacamnya di lantai dasar. Aku mencoba mencari tahu di papan pengumuman yang tersedia dekat karpet biru.

__ADS_1


"Oh, jadi sekolah ini tak membangun lift, melainkan sebuah portal dasar. Hm, menarik sekali."


Karpet biru tua itu bukanlah karpet biasa, melainkan sebuah portal yang dibangun sebagai alat perpindahan dari lantai atas kebawah atau sebaliknya.


Setelah sampai di lantai 2, aku berkeliling mencari asrama kosong. Petugas tadi berkata asrama kosong disini hanya tersisa sedikit lagi dan untungnya aku datang lebih awal kemari. Tentu saja aku bisa memilih asrama yang lebih bagus.


"Wah, di asrama itu terdapat sauna gratis. Aku akan memilih yang itu."


Aku langsung bergegas memasuki asrama tersebut. Setelah mengganti pakaian dan merapikan koper yang kubawa, aku segera masuk ke ruang sauna.


"Ah, sekolah ini punya segalanya."


Ketika aku sedang asyik berendam, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dengan cukup keras. Kesal dengan apa yang orang itu lakukan, akupun menyelesaikan kegiatan berendam dan membuka pintu.


"Cepat sedikit! Aku juga ingin memakai ruang sauna!"


"Sabar sedikit! Aku juga baru memakainya sebentar!"


Dengan kesal aku masuk ke asrama dengan membanting pintu keras-keras. Anak laki-laki tadi sangat menyebalkan membuatku ingin mendorongnya ke jurang. Mungkin semua siswa yang bertemu dan dibentak seperti itu akan langsung menelannya hidup-hidup.


Tok.. Tok... Tok..


Terdengar suara ketukan di pintu. Tidak seperti tadi, kali ini ketukannya begitu lembut.


"Masuklah."


"Oh, tentu."


Gadis dengan rambut coklat yang dikuncir dua itu terlihat begitu pemalu. Kelihatannya dia anak yang ramah. Ajakannya tadi membuatku ingin mengenal gadis yang satu ini.


"Hai, aku Fisilia!"


"H-hai, Fisilia! A-aku Chely."


Sudah kuduga, dia tidak banyak bicara. Kami segera turun dari lantai 2 menggunakan portal dasar.


Pelajaran pertama berjalan dengan baik. Hari ini aku belajar di kelas sejarah level 1. Tak kusangka kalau disini akan diajari oleh seorang profesor yang menjelaskan materi mengenai sihir. Aku tidak paham dengan materinya, tapi sekolah ini sungguh luar biasa.


"Chely!! Ayo, kita pergi ke kantin!"


"Eh, b-baik."


Aku senang di hari pertama sekolah sudah mendapat seorang teman, gadis manis bernama Chely.


"Fi-Fisilia. Apakah Pak Jon menyuruhmu membeli sebuah buku?"


"Ya, tentu. Apa dia juga menyuruhmu membelinya?"


"I-iya, semua siswa di kelas sejarah diberi tugas yang sama, termasuk Sejarah Lv 2 dan 3."

__ADS_1


"Waw, kau tahu segalanya mengenai sekolah ini, El?"


"E-eh, t-tidak semuanya."


Chely ini terlalu pemalu untuk diajak mengobrol panjang lebar. Pada akhirnya, dia juga yang menutup topik pembicaraan seperti saat ini.


Selesai makan siang, aku mengajaknya ke toko buku. Tidak lama kemudian, kami sampai diantrian toko. Cukup panjang atau bisa dibilang sangat panjang antriannya. Sambil menunggu aku mengajak Chely berkeliling. Awalnya dia menolak karena takut dipotong antriannya, tapi dengan sedikit paksaan diapun mengalah.


"Ke toilet sebentar, yuk!"


"Ok."


Beberapa jam asyik berdua, akhirnya antrian hilang juga. Aku segera menarik Chely untuk pergi ke toko buku dan menyelesaikan tugas mereka. Setelah mendapat buku yang diinginkan, kami pun segera pergi dari sana.


"Adakah tugas lainnya?"


"A-aku rasa tidak."


"Ok."


Pelajaran kedua pun dimulai. Kali ini profesor akan mengajarkan cara untuk membuat semacam ramuan yang terbuat dari apel.


"Dalam gulungan itu terdapat mantra untuk menciptakan apel asam. Pelajari dan mulai besok akan langsung tes."


Kelas Ramuan Lv 1 selesai. Saatnya bersenang-senang. Kali ini aku berencana untuk mengajak Chely belajar bersama. Kami akan belajar mantra apel asam di asramaku supaya tidak ada yang mengganggu.


"Sulit sekali menghapalnya, ya?"


"Hehe.. tentu saja. Ini mantra bukan materi biasa yang ada di sekolah pada umumnya."


"Tapi, kenapa kita belajar mengenai ramuan? Semua ini tidak masuk akal."


"I-itu karena--"


Tok..!! tokkk..!!


Seseorang mengetuk pintu dengan cukup keras. Aku membukakan pintu itu dan mendapati anak laki-laki yang membentakku didepan ruang sauna pagi tadi.


"Matikan lampu dan segera tidur!"


"Iya, aku tahu."


Setelah berkata demikian dengan tidak santainya, aku kembali masuk dengan malas.


"Dasar menyebalkan. El, kita lanjutkan besok saja, ya?"


"O-oh, tentu. Lagipula sekarang sudah waktunya tidur."


Chely pun pamit dan kembali ke asramanya untuk beristirahat. Hari ini sekolah berjalan cukup baik. Aku berharap hari esok akan jauh lebih baik lagi.

__ADS_1


__ADS_2