
Sekolah sihir sangat menyedihkan. Belum lama disini, sudah banyak kejadian mistis yang kualami. Sejujurnya, tidak ada yang menyeramkan sejauh ini, tapi...
"*Oops.."
"Apa yang kau lakukan disana, manisku?"
Menjijikkan. Seharusnya dia merubah namanya menjadi mulut sutra, karena kata-kata yang dia keluarkan halus sekali seperti kain sutra.
"Hmm.."
Aku memilih untuk menyerah dan keluar dari persembunyianku. Aku terlalu gegabah hingga membuatku malu sendiri jadinya.
"Baiklah. Terima kasih, El."
Chely hanya tersenyum jahil kearahku, sepertinya dia sudah tidak marah lagi padaku. Berita bagus dan buruk menyatu dalam satu waktu.
"Jadi, apa yang kalian lakukan seharian ini?"
"Tidak ada."
Pertanyaan Chely langsung kujawab cepat. Aku tidak ingin mendengar rangkaian cerita apapun dari anak menyebalkan bermulut sutra itu. Rencana kaburku sudah terhapus secara permanent.
"Benarkah itu, Delu?"
Delu bodoh, Delu konyol. Jangan sampai kau berbicara apapun pada Chely.
"Aku rasa begitu."
Aku melihat jelas tatapan dan senyum menyebalkan itu dari wajahnya.
"Tapi, kenapa aku merasa kalian seperti menutupi sesuatu dariku, ya?"
"Chely, kau itu terlalu polos untuk membaca pikiran orang lain. Lebih baik kau pergi mandi dan istirahat total."
"Eh, kau mau kemana?"
"Aku ada urusan dengan seseorang. Sampai jumpa*!"
Dan begitulah, aku kabur tanpa jejak sama sekali. Kali ini aku hanya bisa memikirkan satu hal. Kapan aku akan dipulangkan??
"Ahoy !"
Tiba-tiba seseorang menyapaku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tapi, aku tahu, perilaku tak senonoh itu hanya berani dilakukan oleh gadis berkuncir, selain Delu.
"Apa?"
"Tebaklah!"
"Kau diajak kencan oleh Hedro, hm?"
"Salah. Ayo, tebak lagi !"
"Hedro mengajakmu kencan hari ini, begitu?"
"Hmm.."
__ADS_1
Terlihat raut wajah Chely berubah menjadi sedikit berkerut, seperti nenek kebayan. Aku tahu tebakanku salah tembak, tapi aku juga tahu Chely tidak akan memarahiku karena itu.
"Kenapa?"
"Bukan aku, tapi kau!"
"Kapan aku mengajakmu berkencan?"
"Bukan itu. Delu menyuruhmu ke asramanya!"
Terdengar suara melengking dari Chely yang membuat telingaku hampir pecah. Awalnya aku terkejut karena Delu menyuruhku ke asrama laki-laki, tapi aku lebih terkejut lagi mendengar kalimat itu dari Chely yang setengah berteriak. Jadi yang kurasakan ini dua kali lipat, seharga dengan buah leci di toko Paman Yordan.
"Berhentilah berteriak! Telingaku bisa pecah, seperti bola lampu di rumah kosong!"
"Hehe.. maaf. Dan bisakah kau berhenti berteriak balik!"
"Ok, aku berhenti ! Kau puas!"
Pada akhirnya, kami saling berteriak satu sama lain dalam asrama yang tidak begitu luas ini. Untunglah, selama itu kami tidak di demo oleh murid lain. Kalau itu terjadi, namaku bisa terancam gagal dalam ujian dan itu buruk sekali.
"Aku akan segera bersiap."
Tak lama bersiap, aku pergi ke asrama Delu sesuai dengan yang diberitahukan Chely dan murid lainnya. Tapi saat aku sampai disana, dia hanya menitipkan sebuah surat pada temannya. Aku tidak tahu apa isinya, tapi ini mulai menyeramkan.
'Temui Delu di Teh Romantis, tempat dia biasa minum teh.'
Aku rasa ini dia suasana horornya. Setelah menerima dan membaca surat tersebut, aku langsung bergegas ke tempat minum teh. Disana tidak banyak orang, tapi itu bagus.
"Mohon maaf, Nona. Ini surat untukmu dari--"
Tanpa mendengar lanjutan dari ucapan pelayan disana, aku melanjutkannya sendiri sembari membuka surat yang ada ditanganku.
'Jangan marah padaku. Temui Delu di toko Tanaman Herbal."
Ini pasti salah satu rencana jahil Delu dan Chely. Segera aku berjalan cepat menerobos orang-orang dihadapanku menuju toko tanaman herbal, tapi disana juga hanya tersimpan sebuah surat singkat.
'Maaf, aku keliru. Temui Delu di Fine Dining Pierre.'
"Oh, ayolah!"
Orang konyol itu, haruskah dia menulis dan menitipkan surat pada setiap toko disini? Dasar menyebalkan, dia pasti menyebut-nyebut namaku sebelum menitipkannya.
Sesampainya di tempat yang dituju, aku harap tidak ada surat dan pelayan SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) lagi. Saat aku masuk kedalamnya, semua dekorasi disini tidak ada yang berubah sedikitpun. Masih sempurna dan elegan seperti sebelumnya.
"Fisilia!"
Tiba-tiba seseorang dari kejauhan memanggilku. Sudah dipastikan itu si pengirim surat misterius, yeappy..
"Apa maumu?"
"Hei, jangan marah karena surat yang kubuat sedikit bermasalah."
"Banyak."
"Ok, banyak bermasalah."
__ADS_1
Terlihat raut wajahnya sedikit suram, seperti masa lalu. Aku berusaha untuk tidak merasa menjadi korban pembullyan disini.
"Kenapa kau mengajakku kemari?"
"A-aku dengar, kau menyukai tempat ini."
"A-ha, lalu?"
"Jadi, aku mengajakmu kemari. Adakah yang salah disini?"
Pasti dia mendengarnya dari Chely. Siapa lagi yang tahu kalau aku menyukai tempat yang masih satu saudara dengan restoran ini, selain dia.
"Oh, pasti kau dan Chely yang merencanakan ini semua ya, kan?"
"Hehe.. ternyata, itu mudah ditebak."
Dia hanya terkekeh kecil. Tapi, aku tetap menyalahkannya karena membuatku hampir tersesat di lantai 4.
"Apa kau mau memesan sesuatu?"
"Aku tidak lapar. Terima kasih."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi ke Safari Peri?"
"Saf.. apa?"
Aku sama sekali tidak mendapat jawaban apapun, karena dia langsung menarik lenganku keluar dari Fine Dining Pierre.
Sesampainya kami di tempat entah dimana, Delu masih menggandeng lenganku dibelakang. Aku hanya diam sembari menatap setiap jalan yang kami lewati, aku tak percaya padanya soal jalan pulang.
"Ini dia, Safari Peri Sekolah Sihir!"
"Wah, menarik."
Aku sangat kagum dibuatnya, tapi disini aku mencoba untuk terlihat tidak tertarik sama sekali. Tiba-tiba saja dia menarikku ke sebuah toko hewan. Disana terdapat berbagai macam jenis hewan yang tidak pernah kulihat sebelumnya, unik.
Setelah berkeliling Safari Peri dan toko hewan, kami pergi mengunjungi sebuah museum. Ternyata, tidak semua ruang dan benda disini aneh-aneh. Museum tetaplah museum, yang kulihat disini hanyalah setumpuk tulang yang tersusun berbentuk hewan purba, tapi anehnya aku seperti melihat tulang-tulang itu hancur berkeping-keping, meski tak disentuh.
"Apa itu tulang sungguhan?"
"Oh, tidak. Itu semua hanyalah hologram."
Begitu, ya. Sekolah ini terlalu mewah untuk murid sederhana sepertiku, kurasa. Kami pun memutuskan untuk mengunjungi sebuah toko tongkat sihir. Aku rasa, soal tongkat belum ada dalam buku catatanku.
"Kenapa kita kesini?"
"Hanya berkunjung dan melihat-lihat. Kau bisa memilih tongkat yang kau inginkan."
"Tapi, kita belum boleh menggunakannya."
"Siapa bilang?"
Delu menarikku semakin dekat ke toko tongkat sihir. Dia memperlihatkan beberapa trik rahasia yang hanya murid tertentu yang tahu, badboy. Aku memperhatikan dengan saksama semua yang dia lakukan. Sekarang aku tahu segalanya tentang tongkat sihir, kurasa.
Seharian bersama Delu, aku rasa tidak begitu buruk. Dia cukup menyenangkan dan tidak selalunya menyebalkan. Terkadang dia bisa menjadi seorang lelaki yang bertanggung jawab. Dan setelah sekian lama mengenalnya, aku baru menyadari kalau dia itu cukup tampan.
__ADS_1