
"Untuk mendapatkan rasi bintang yang diinginkan, pertama kau harus tahu terlebih dahulu apa bintangmu."
Sudah berjalan lima hari dan aku masih dalam kesibukan yang sama, mengerjakan laporan sialan yang merepotkan ini. Bahkan, aku sampai mengajak Hedro untuk bergabung.
"Baiklah. Aku mengerti."
Selesai dengan tugas Ilmu Perbintangan Lv 1, aku langsung mengambil gulungan mantra untuk dipelajari. Tentunya aku akan sangat membutuhkan bantuan Hedro untuk ini.
"Jamur gaib!"
BOOMM..!!
"Kau berhasil, Fisilia!"
Akhirnya, kerja kerasku selama ini tidak sia-sia. Aku sudah menguasai banyak mantra sihir. Ini tidak akan terjadi jika bukan karena bantuan Hedro. Tiba-tiba saja ingatan sebelumnya kembali terlintas dalam benakku. Ingatan mengenai seseorang yang selama ini tak pernah menampakkan wujudnya dihadapanku. Sosok yang sudah lama kurindukan.
"Hei, apa yang sedang kau pikirkan?"
"Ah, itu. Aku hanya sedang mengingat kembali mantra Lingkaran Sihir Lv 2."
"Jangan sampai ada yang terlupakan. Semua itu sangat penting dan akan diulang kembali di kelas Lv 3."
"Benarkah? Aku jadi ragu. Apakah otakku ini benar-benar sudah merekam semuanya dengan baik?"
Hedro menepuk bahuku pelan. Ia mencoba untuk menenangkanku agar tidak ragu lagi terhadap kemampuan sendiri.
"Jangan khawatir, Lia. Aku ada disini untukmu."
Aku harap Delu yang mengucapkan itu padaku. Tapi, aku rasa dia tidak akan pernah kembali lagi. Setelah kejadian itu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi.
"Oh ya, kau harus ikut aku sekarang."
"Memangnya ada apa?"
"Sudah. Ikut saja!"
Hedro menarik lenganku keluar dari asrama. Tanpa alasan yang jelas, ia membawaku ke sebuah tempat asing yang letaknya tidak jauh dari asrama perempuan.
"Tempat apa ini?"
"Ini adalah Toko Permadani Terbang. Kau harus mencobanya, Fis."
Kulihat disekelilingnya ada cukup banyak jenis karpet dengan berbagai macam corak yang unik. Kalau aku ajak Mama kemari, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya.
"Oh, ada pelanggan. Betrsya, cepat kemari. Kita kedatangan pelanggan baru!"
Tiba-tiba dari balik pintu berhiaskan rangkaian ronce, keluar seorang gadis berpakaian ala Hindia yang sedang menaiki sebuah permadani.
"Selamat datang, Kak Hedro!"
"Halo, Betrysa!"
"Wah, kelihatannya Kakak membawa seorang gadis kemari. Apa tidak ada niat untuk memperkenalkannya padaku?"
"Oh ya, ini Fisilia. Dia adalah salah satu teman sekelasku, selain Delu."
Nama itu membuatku kembali teringat akan dirinya. Aku begitu asyik melamun sampai tidak memperhatikan obrolan kedua orang dihadapanku ini.
"Hai, Kak Fisilia! Bolehkah aku memanggilmu Kak Lia?"
Hedro menepuk pundakku pelan. Aku yang sedari tadi melamun tidak jelas, akhirnya sadar juga.
"A-apa?"
"Hei, apa Kakak melamun?"
"Ah, apa? T-tidak. Oh ya, kenalkan aku Fisilia."
__ADS_1
"Ehm, Kak Hedro sudah memperkenalkanmu sebelumnya."
Aku ini benar-benar konyol sekali hingga membuat diri sendiri malu dihadapan orang baru. Ini semua tidak akan pernah terjadi jika bukan karena anak menyebalkan itu. Tapi termasuk salahku juga, karena terlalu sering memikirkan tentangnya.
"Ada apa, Fis?"
"Ah, a-aku baik-baik saja. Sudah dulu ya, aku masih ada urusan. Sampai jumpa!"
"Eh, Fis.."
Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari meninggalkan mereka berdua. Seharusnya aku tak melakukan ini. Tapi sudah malu juga, jadi apa boleh buat?
"Dia itu.. kenapa?"
"Hm, kurasa dia sedang sibuk."
"Oh, begitu. Bagaimana kalau sekarang kita ke belakang? Aku baru saja membuat sebuah permadani, lho."
"Oh, ya? Aku yakin hasil karyamu itu pasti sangat cantik, sama seperti pembuatnya."
"Heheh.. Kakak ini bisa saja."
Hari ini aku hanya sendirian didalam asrama. Tidak ada yang menemani selain buku dan kertas yang masih bertumpuk diatas meja. Biasanya, pada saat seperti ini Delu akan datang untuk menggangguku. Tapi sekarang, menampakkan batang hidungnya saja tidak.
"Dasar Delu sialan! Anak menyebalkan! Tidak berguna!"
Tok.. tokk.. tokk..
Kudengar ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar. Tanpa beranjak dari ranjang sedikitpun, aku berteriak dari dalam kamar.
"KALAU MAMPU BUKA SAJA. PINTUNYA TIDAK DI KUNCI !"
BRAKK..!!
"Bisakah kau tidak berteriak seperti itu padaku?!"
"Ada apa?"
"Kudengar, kau sedang bersama Hedro tadi."
"Oh, memang iya. Tapi, aku sudah meninggalkannya di Toko Permadani Terbang."
"Kenapa?!"
"Santailah, sobat. Jangan pikir aku sedang bertengkar dengannya. Kulihat dia sedang asyik mengobrol dengan adiknya."
"Apa kau bilang? Hedro memiliki seorang adik?"
"Kupikir begitu. Jadi daripada mengganggu mereka, lebih baik aku pulang saja."
Masih dalam posisi yang sama, merebahkan diri. Kuperhatikan Chely dari kejauhan. Dia terlihat begitu gelisah setelah tahu keberadaan Hedro saat ini.
"Apa kau merindukanku?"
"Ah, a-aku tidak datang untukmu."
"Lalu, apa kau datang untuk Hedro?"
"A-apa maksudmu?"
Sudah kuduga, bahwa Chely itu benar-benar menyukai Hedro. Sepertinya aku harus segera memberitahukan ini padanya.
Waktu telah berlalu berjam-jam, aku dan Chely masih hanyut dalam kesunyian. Tidak ada satupun diantara kami yang membuka pembicaraan. Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri, begitupun juga Chely.
Tok.. tokk.. tok..
"Masuklah. Pintunya tidak dikunci."
__ADS_1
"Hei, Fisilia."
Ternyata Hedro, kurasa dia datang pada saat yang tepat. Chely dengan cepat memperbaiki posisi duduknya.
"Masuklah, Dro."
Setelah mempersilahkan dia masuk, suasana pun kembali sunyi. Kami saling diam dan tak berbicara sama sekali. Aku masih tidak hentinya memikirkan Delu. Kenapa dia tidak kemari? Apa yang dia lakukan saat ini? Dimana dia sekarang? Aku tidak tahu.
"A-apa kalian hanya melakukan ini sedari tadi?"
"Iya."
Aku dan Chely menjawabnya dengan bersamaan, lalu kami kembali diam.
"Baiklah. Aku punya sebuah tebak-tebakan."
Hedro kembali berbicara. Kini, kami mulai mengalihkan pandangan kearah Hedro.
"KUCING, KUCING apa yang tidak ada akhlak?"
Tanpa berpikir keras, kami hanya menggeleng tidak tahu.
"Jawabannya adalah KUCINGta dia yang sudah bersuami."
Ba dum tss..
Tidak ada satupun tawa yang menggema. Hanya ada suara hembusan angin lembut dari luar.
"Sudah lama berdiam diri. Apa kalian tidak lelah?"
Hedro benar. Sepertinya, jalan-jalan adalah salah satu jawaban dari pertanyaan itu.
"Ini tempat hiburan pertama yang akan kita kunjungi."
Setelah sepakat untuk pergi keluar, Hedro mengajak kami pergi ke sebuah Rumah Kaca Bunga. Ia menjelaskan banyak hal kepada kami mengenai isinya.
"Semua jenis bunga ditanam disini, termasuk juga tanaman herbal."
"Cukup menarik. Apa lagi?"
Selanjutnya, Hedro mengajak kami ke Pelatihan Penerbangan. Ia mencoba untuk melompat kedalamnya tanpa pengaman. Itu membuat kami berdua khawatir, tapi kurasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan sama sekali.
"Lihatlah, teman-teman! Ini sangat menyenangkan!"
Tertarik dengan apa yang kulihat didepan mata, aku pun ikut melompat kedalamnya. Benar-benar menyenangkan.
"Lalu, apa lagi?"
Selesai bermain-main di Pelatihan Penerbangan, Hedro mengajak kami ke tempat lain.
"Ini dia."
"Apa ini?"
"Ini adalah Perahu Romantis."
Aku dan Chely saling menatap dan menggeleng kuat, tanda tidak setuju.
"Tidak. Carikan tempat lain!"
"O-oh, baiklah."
Kemudian, ia mengajak kami ke tempat yang terlihat sama seperti sebelumnya.
"Ini adalah Petualangan Romantis."
"Tidak."
__ADS_1
Aku dan Chely sama-sama menolak untuk pergi ke tempat yang sudah dicantumkan kata "romantis". Kedatangan kami kemari hanya untuk mencari hiburan, bukannya berkencan.