
Pagi hari yang cerah lagi. Aku segera mengemasi barang-barangku untuk persiapan pulang. Hari ini aku banyak jajan, jadi sisa uang sakuku juga tidak akan cukup untuk sebulan.
Tokk.. tok.. tokk...
"Masuk saja, pintunya tidak dikunci."
"Hei, bagaimana semalam?"
Aku terkejut mendengar suara dari balik pintu, sontak kakiku terkantuk kaki kursi. Memang tidak memar, tapi itu menimbulkan suara yang cukup keras.
"E-eh, kau tidak apa-apa?"
Aku yang merasa tidak terluka sama sekali hanya mengangguk, kemudian mempersilahkan Delu untuk masuk.
"Apa kau akan pulang hari ini?"
"Tidak, ini baru rencana."
"Jadi, kapan kau akan pulang jika sudah mempersiapkan ini semua?"
"Mungkin besok atau lusa."
Sedih, itu yang aku rasakan saat ini ketika mendengar pertanyaan itu. Perasaan kemarin dia mencegahku untuk pulang, tapi kenapa sekarang pertanyaannya seperti memperintahkanku untuk segera angkat kaki dari sini?
"Aku akan mandi."
"Baiklah. Aku disini menunggumu."
Apa aku salah dengar? Dia akan menungguku selesai mandi dalam asrama perempuan? Bisa-bisa Chely dan yang lain akan berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana kalau...
"Apa?? Jadi, kau dan Delu semalam tidur berdua di asrama perempuan??"
"*Wah, tidak dapat dipercaya. Kupikir dia gadis baik-baik."
"Itu artinya dia dan Delu, mereka.."
"Dasar anak haram!"
"Iya, tidak tahu malu. Lebih baik usir saja dari sini*."
Beberapa pertanyaan dan hinaan terpampang jelas dalam benak dan pikiranku. Aku terlalu berpikiran negatif. Ini mungkin karena aku tidak tidur nyenyak semalam. Dengan secepat kilat aku kembali ke asrama untuk memperingatkan Delu, tapi sudah terlambat.
"...aku pikir begitu. Eh, Lia."
"A-aku... ini tidak seperti perkiraanmu!"
"Ada apa denganmu? Aku kemari hanya ingin menemuimu, tapi kulihat ada Delu disini."
Aku merasa sedikit lega, ternyata beberapa ingatan burukku tidak menjadi kenyataan yang jelas.
"Aku... akan segera kembali."
Merasa malu dengan apa yang terjadi, aku bergegas untuk ke pemandian dan meninggalkan mereka di asrama. Aku tidak tahu dengan keadaanku saat ini, apakah aku baik-baik saja atau tidak?
"Selamat pagi, Fisilia!"
Tiba-tiba seseorang menyapaku dari belakang. Suaranya tak asing didengar. Aku membalikkan badan untuk melihat sosok itu. Sungguh kejutan yang luar biasa.
"Neila."
"Hai, aku kembali. Mari ke pemandian bersama!"
Kejadian beberapa menit yang lalu adalah kejutan besar bagiku. Kami sekarang berada di sebuah pemandian wanita. Seperti sebelumnya, kami menghabiskan waktu bersama sambil berendam di air yang hangat.
"Jadi, bagaimana harimu tanpaku?"
"Hm, cukup baik."
"Apa hari ini akan ada tes lagi?"
"Kurasa tidak. Kudengar, para profesor akan mengadakan rapat penting, jadi--"
"Kelas tidak akan ada!"
Neila dengan semangat memotong ucapanku. Seharusnya aku marah, tapi tidak kulakukan. Aku hanya tersenyum simpul kearahnya yang tertawa puas dengan situasi saat ini. Belajar memang menyenangkan bagi sebagian orang, tapi sebagiannya lagi lebih menyukai jam kosong. Kalau untukku, aku tentunya ada dipihak keduanya.
"Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu untuk bermain di mesin Arcade ?"
"Ya, pasti menyenangkan."
__ADS_1
Selesai dengan urusan mandi, kami berpisah setelah turun dari portal dasar. Aku berjalan lambat ke asrama. Pertama kalinya dalam hidupku, aku tak memiliki sedikitpun gairah untuk hidup.
"Lihatlah, siapa yang kembali?"
"Kalian masih disini?"
"Tentu saja. Kami menunggumu sejak tadi. Apa rencanamu hari ini?"
"Aku akan ke Arcade dengan Neila. Apa kalian mau ikut?"
"Wah, ternyata kau mengenal Neila, ya?"
"Apa kau teman baiknya?"
Beberapa kalimat mulai diucapkan Delu menjadi sebuah alasan. Tak kusangka Delu dan Neila memiliki hubungan spesial, teman kecil. Aku pikir orang disekelilingku tak mengenal Neila, ternyata aku salah.
"Akhirnya, aku menemukan..."
Tiba-tiba orang yang sedang kami bicarakan muncul juga, panjang umur.
"Udel, kenapa kau ada disini?"
Dari pertanyaan itulah percakapan antara Delu dan Neila dimulai. Aku memilih untuk diam ditengah keasyikan mereka berdua. Chely yang melihatku mulai bosan langsung mengajakku keluar asrama tanpa sepengetahuan mereka. Seperti pepatah orang kuno 'jika sudah asyik berdua, dunia terasa milik mereka'. Kalau tidak salah begitulah.
"Aku tahu kau bosan. Jadi, aku mengajakmu keluar saat mereka tidak peduli."
"Mereka memang tak peduli."
"Oh, ayolah! Ini menjadi tidak menyenangkan lagi."
"Kurasa begitu."
"Lia, ada apa denganmu? Kau terlihat begitu tidak bergairah."
"Bergairah, kau pikir ribut diranjang."
"Apa?"
"Ayo, kita ke toko es krim. Kulihat penjualnya sedang membuka diskon."
"Benarkah??"
"Terima kasih. Datanglah kembali, ya?"
"Pasti, jika diskonnya ditambah lagi."
"Dasar bocah. Selanjutnya!"
Chely menghampiriku yang sedang duduk termenung dibangku sebelah toko es krim.
"Hei, ini aku belikan untukmu."
"Terima kasih, akan kuganti setelah kita kembali."
"Ah, jangan sungkan. Aku ingin mentraktirmu hari ini, terima atau buang?"
"Hm, baiklah. Kau teman yang baik."
"Tentu saja."
Kami hanya berbincang seperti biasa membahas pelajaran baru di Lv 2 nanti. Saat itu aku mulai berpikir, kalau nanti aku pulang itu artinya kelas Lv 2 harus dimulai dari awal. Tidak mungkin jika aku langsung masuk dan melewatkan pelajaran sebelumnya. Nilaiku bisa saja terancam hancur.
"Bagaimana artikel Elemennya?"
"Belum dilanjutkan, masih seperti biasa."
"Apakah kau mau menyelesaikannya bersamaku sekarang?"
"Bagaimana dengan Hedro?"
"Sudah kukirim surat pagi tadi."
"Apa ada kantor pos juga disini?"
"Tentu saja ada. Tapi, aku mengirimnya lewat Delu."
"Kapan dia akan mengirimnya ke Hedro?"
"Aku tidak tahu."
__ADS_1
Begitu polosnya Chely hingga tidak memikirkan soal kejadian beberapa jam yang lalu. Aku memutuskan untuk pergi ke asrama Hedro dan mengajaknya kerja kelompok.
Saat kami sedang dalam perjalanan ke asrama laki-laki, tidak sengaja kami melihat Hedro dekat toko hewan. Kami langsung menghampirinya disana, lebih tepatnya Chely yang menghampirinya lebih dulu.
"Apa kau sudah menerima pesanku?"
"Aku rasa belum. Ada apa?"
"Aku dan Lia berencana untuk mengerjakan tugas kelompok bersama."
"Wah, kebetulan sekali. Hari ini jam kosong dan aku juga sedang nganggur."
"Baiklah. Ayo, kita ke asrama!"
"Kau mau mengerjakannya di asrama, apa tidak akan mengganggu?"
"Kau benar."
Kami mulai berdiskusi untuk mencari tempat yang tepat. Aku rasa tempat terbaik untuk belajar dan selalu ingin kudatangi adalah...
"Satu untuk semua."
"Dan semua untuk satu."
"Permisi, bolehkah kami menggunakan tempat ini untuk belajar?"
Tak kusangka ternyata isinya pemuda tampan semua. Bagus juga untuk cuci mata.
"Hm, apa akan lama?"
"Aku rasa tidak. Kami hanya akan melanjutkan tugas kelompok yang kemarin."
"Baiklah. Berikan jalan anak-anak!"
"T-terima kasih. Kalian baik sekali."
"Tidak masalah. Jangan mengacau atau kami akan mengusir kalian dari sini !"
"Ehn, kami berjanji !"
Akhirnya kami bisa mendapatkan tempat untuk belajar dan sekaligus cuci mata, meski hanya beberapa menit saja.
"Pelajaran dimulai !"
Waktu telah berlalu cukup lama. Kami akhirnya selesai dengan tugas artikel ini. Aku meminta izin untuk kembali ke asrama lebih awal. Hari ini selain mengerjakan tugas, kami bertemu dengan pemuda tampan. Sebenarnya, hanya aku yang berpikiran begitu. Saat kami merasa bosan, para pemuda tampan itu mengajak kami bermain dan sesekali mengajari pelajaran Elemen.
"*Permainannya adalah lakukan atau katakan. Kocok dadu dan yang mendapat nilai terkecil harus memilih atau..."
Dia mengambil sesuatu didalam sebuah laci kecil dibawah meja. Sebuah botol berisi cairan terpampang dihadapan kami.
"Minum vodka sebotol jika tidak memilih keduanya."
"Mulai dari gadis cantik berambut cokelat disana. Ayo, kocok dadunya!"
Aku harap kali ini akan dapat keberuntungan. Semoga aku mendapat nilai besar, tapi kenyataannya...
"Oww, sayang sekali. Ambil kartunya dan bacakan yang keras!"
"Apakah kau pernah mencium seseorang? Jika tidak, ciumlah seseorang yang berada disebelah kananmu saat ini."
"Wow, bagaimana*?"
********. Permainan macam apa itu? Aku yakin beberapa orang pernah dijadikan korban disana. Mereka bisa saja mati sehabis minum vodka berkali-kali, karena pertanyaannya yang tidak masuk akal. Tapi, saat itu adalah kesialanku yang kedua datang.
"*Katakan atau lakukan?"
"A-aku pernah melakukannya!"
"Wah, tidak kusangka gadis polos sepertimu pernah memberikan first kiss-nya pada seseorang. Apakah dia seorang pria?"
"T-tidak. Dia Ibuku!"
Ketiga pemuda tampan dihadapan kami tertawa terbahak-bahak. Aku tahu jawabanku itu konyol, tapi cobalah untuk menghormati jawaban orang lain.
"Maksudnya, adakah orang lain yang pernah kau cium?"
"A-aku*.."
Dan disitulah semua dimulai. Dimana nama baik dan reputasiku hancur dihadapan teman-teman dan preman tampan berpakaian ksatria itu.
__ADS_1