Magic School

Magic School
Strange Part


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu begitu cepat. Aku mulai terbiasa dengan sekolah ini. Kurasa, aku akan undur jadwal pulangku.


"Hei, apa yang sedang kau lakukan?"


Tiba-tiba dari belakangku terdengar suara seseorang. Sudah kuduga, itu pasti gadis manis berkuncir.


"Kelihatannya, bagaimana?"


"Hehe.. ok, ok."


Aku kembali melanjutkan aktivitas yang terhalang tadi. Chely yang merasa sudah biasa keluar masuk asramaku, tidak segan lagi untuk menyerobot masuk tanpa izin.


"Kau akan pulang sekarang, ya?"


Suara Chely mulai terdengar lagi. Kali ini suaranya terdengar lebih manja, tidak seperti sebelumnya. Aku memilih untuk mengabaikan Chely daripada menjawab pertanyaan salinan itu lagi.


Selesai dengan aktivitas pertama, aku langsung mengambil beberapa kertas berisi tulisan yang tergeletak diatas meja. Aku mengumpulkan semua dan merapikannya kedalam sebuah buku.


"Hei, kenapa aku diabaikan?"


"Hm, tidak."


Setelah itu, aku menaruhnya dalam tas. Disini, di tempat ini aku belajar banyak hal. Aku mengabaikan Chely bukan tanpa alasan. Aku ingin lebih memfokuskan diri pada beberapa lembaran kertas dihadapanku.


"Apa yang akan kau lakukan dengan semua itu?"


"Ini buku diary milikku."


Aku mengambil buku tadi dan menunjukkannya pada Chely. Buku diary ini berisi banyak kenangan dan pengalaman anehku sepanjang masa. Setiap aku sedih atau senang, semua itu akan kucurahkan pada buku diary ini.


"Jadi, kau memiliki sebuah buku curhat?"


"Ya, begitulah."


"Bolehkah aku membacanya?"


"Tidak. Buku ini berisi semua pengalaman pribadi yang hanya aku saja yang boleh membukanya."


Aku langsung mengembalikan buku itu kedalam tas sebelum Chely merampasnya dariku. Hari ini kami hanya akan masuk kelas Lingkaran Sihir Lv 1, dikarenakan Pak Jon sedang ditugaskan oleh kepala sekolah bersama murid lain.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Mempelajari mantra lingkaran sihir, mungkin?"


"Membosankan. Bagaimana kalau kita bermain dengan para ksatria saja?"


"Itu konyol. Lebih baik kita menemui Delu dan Hedro saja."


"Ekhem.. cie yang sudah berteman."


"A-apa maksudmu?"


Tanpa menjawab pertanyaanku tadi, Chely langsung menggeretku ke asrama laki-laki untuk menemui Hedro dan Delu. Sayangnya, disana kami hanya bertemu dengan Hedro saja. Sedikit kecewa dengan apa yang kulihat, tapi aku tak boleh terlihat peduli pada anak menyebalkan itu.


"Apa yang sedang kau lakukan disini, Hedro?"


"Oh, kalian. Aku hanya sedang jalan-jalan saja, kalau di asrama terus membosankan. Bagaimana dengan kalian?"


"Kami ingin menemuimu dan Delu. Eh, dimana Delu?"


"Oh, dia ikut bersama Pak Jon melaksanakan tugas dari kepala sekolah."

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari Hedro membuatku sedih, hanya sedikit. Aku belum sempat berterima kasih atas semua perbuatan baiknya padaku. Haruskah aku mengikutinya?


"Wah, sayang sekali. Kami tadinya ingin mengajak kalian bermain sebelum kelas dimulai."


"Wah, kebetulan. Aku ikut kalau begitu."


"Ayo!"


Chely kembali menggusurku ke tempat lain. Semangatku kembali pudar seperti sebelumnya. Rasa bersalah terus menghantuiku semalaman dan aku ingin segera mengakhirinya, tapi tidak bisa sekarang.


"Bagaimana kalau ke taman di lantai 5?"


"Adakah taman disini?"


"Tentu saja. Ikuti aku!"


Kami mulai mengekori Hedro dari belakang menuju portal cepat. Tak memakan waktu lama, kami pun sampai di lantai 5. Tempatnya indah dan sejuk sekali. Tapi, kenapa taman dibangun di lantai 5?


"Taman ini menjadi tempat hiburan para murid di sekolah sihir. Kita bisa duduk santai sambil mengobrol, bahkan memotret pemandangan yang ada."


"Wah, tapi kenapa harus di lantai ini?"


"Oh, kalau soal itu masih menjadi misteri. Tidak ada yang tahu alasan mereka membangun taman didalam sekolah."


"Mungkin mereka kurang memperluas halaman belakang."


"Bisa jadi."


Aku merasa sedikit lebih tenang berada disini. Jika aku tahu lebih awal soal taman ini, mungkin kehidupanku takkan penuh tekanan seperti saat ini.


"Mau bermain ayunan?"


"Bolehkah?"


Chely berlari kearah ayunan diikuti dengan Hedro. Aku hanya berjalan santai dibelakangnya dan memandang sekitar. Rasanya tidak cukup sekali untukku mengagumi sekolah ini.


"Lia, ayo naik!"


"Tidak, kalian saja."


Hedro dan Chely asyik bermain ayunan, sedangkan aku hanya duduk manis di bangku taman yang kosong. Tiba-tiba dari sampingku terdapat seseorang yang ikut duduk. Aku tak menghiraukannya dan lanjut menikmati indahnya taman disini.


"Sendirian saja, ya?"


"Tidak."


"Bolehkah aku duduk bersamamu disini?"


"Tentu."


Padahal dia duduk sudah dari tadi, tapi minta izinnya baru sekarang. Aku kembali pada aktivitas menghaluku. Seandainya ada seorang pemuda tampan yang mengajakku berjalan-jalan, aku pasti akan rajin menghapal mantra sihir setiap hari.


"Hei, melamun saja."


Sesosok misterius menyenggolku hingga tersadar dari lamunan. Lama-kelamaan disini bisa membuatku stres. Dia hanya tersenyum kearahku sambil sesekali mengedipkan matanya, mungkin dia kelilipan. Aku mencoba untuk bergeser menjauh, tapi menyebalkannya dia juga ikut bergeser mendekat.


"Permisi."


Aku sudah tahu trik itu sebelumnya, jadi jangan coba-coba untuk mengulangnya kembali. Aku langsung pergi dan menghampiri Chely yang masih asyik bermain ayunan.


"Hei, kau kemari. Kenapa muram?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, aku langsung menumpahkan semua yang kurasakan dan bercerita panjang lebar tentang orang aneh tadi. Tapi, tiba-tiba dia menghilang begitu saja. Apakah itu..


"Jangan berpikiran negatif lagi. Lupakan yang sudah terjadi dan duduklah bersamaku."


Aku hanya mengiyakan ajakan Chely tanpa menolaknya. Aku jadi penasaran dengan sosok tadi. Dia itu manusia atau makhluk astral, ya?


"Sekolah ini angker juga."


"Apa katamu?"


"Aku lihat seekor kucing bertopi."


"Dimana dia?"


"Dimana Hedro?"


"Aku tidak tahu. Dia bilang ada perlu sebentar."


Beberapa jam telah berlalu dan kami masih berada di taman. Kelas akan dimulai sekitar 6 menit lagi.


"Oh, ya. Soal kucing tadi, dia ada dimana?"


"Kau ini, dasar bodoh. Mana ada kucing bertopi!"


"Tapi, tadi kau bilang.."


"Aku hanya asal bicara, konyol."


Tiba-tiba Hedro datang sembari membawa keranjang berisi gulungan. Sepertinya gulungan mantra. Pasti kita akan diberi tugas kelompok lagi.


"Darimana saja kau?"


"Aku disuruh membagikan gulungan ini pada setiap murid untuk penilaian."


"A-apa? Sudah penilaian lagi?"


"Iya atau tidaknya yang pasti ini harus segera dibagikan. Tolong bantu aku!"


Hedro membagikan tumpukan gulungan yang ia bawa pada ku dan Chely. Setelah itu, kami diberikan peta sekolah supaya tidak tersesat.


"Berpencar!"


Sore hari pun tiba. Akhirnya, kami selesai dengan tugas Hedro. Setelah kubagikan gulungan terakhir, aku memilih untuk pergi ke pemandian.


"Ah."


Masih seperti biasa, hangat. Ketika sedang asyik berendam, aku mendengar suara dari luar pemandian. Sepertinya para profesor sedang mendiskusikan sesuatu.


"Bagaimana kalau lain kali gabungkan saja murid baru?"


"Ide bagus. Tapi, apa mereka akan baik-baik saja?"


"Kurasa, itu tidak masalah. Jika mereka tidak ikut, lantas kapan mereka akan belajar mengenai dunia luar?"


Sepertinya mereka membicarakan tentang murid yang akan diikut sertakan dalam pencarian token sakura. Aku jadi penasaran, kira-kira dalam event itu ada barang apa saja, ya?


"Kita lihat saja besok."


Akhirnya, selesai juga. Aku segera kembali ke asrama untuk istirahat. Mataku sudah sangat lelah sepertinya.


Saat dalam perjalanan ke asrama, tiba-tiba seseorang memanggilku dari belakang.

__ADS_1


"Fisilia!"


Suaranya tidak asing. Aku membalikkan tubuh dan sebuah kejutan dia kembali secepat ini.


__ADS_2