
Degg~~~
Saat ini, perasaanku mulai campur aduk seperti adonan kue. Ditambah dengan suhu ruangan yang membuatku begitu gerah. Dengan segera aku bangkit dari atas ranjang yang sudah dibanjiri oleh keringat, menjijikan.
"Hei, Fis!"
"Neila. Apa yang kau lakukan disini?"
"Seperti biasa. Mengajakmu pergi ke pemandian."
"Benarkah itu?"
"Sudahlah. Ayo, cepat jalan!"
Sesampainya di lantai 3, dari kejauhan aku melihat ada kerumunan didekat mesin Arcade. Mungkin disana sedang ada pertandingan satu lawan satu, kelihatannya menyenangkan.
"Neila, sepertinya disana ada sesuatu yang menarik. Bagaimana kalau kita kesana untuk melihatnya?"
"Tapi, bukankah kita akan pergi ke pemandian?"
"Sebentar saja. Ayo!"
Aku menarik lengan Neila dengan paksa dan menerobos kerumunan yang ada. Betapa terkejutnya aku ketika melihat sesuatu yang menarik perhatian seluruh murid disana.
"Eh, itu kan..."
"Itu Hedro! dan..."
"Kekasihmu."
"A-apa mak--"
BRUKK !!!
Tiba-tiba seseorang yang berada dibelakang kami menabrakku dan Neila secara bersamaan. Alhasil kami berdua tersungkur ke tengah kerumunan.
"Fisilia?"
"Heheh.. aku ceroboh sekali."
Merasa malu dengan apa yang telah kulakukan dihadapan umum, aku pun segera bangkit dan merapikan pakaianku. Lalu, Hedro mendekat kearah Neila untuk membantunya.
"Berikan tanganmu!"
"Eh, t-terima kasih."
Kini, yang menjadi pusat perhatian adalah kami. Aku yang merasa tidak enak badan karena kepanasan langsung angkat suara.
"A-apa yang kalian lakukan disini?"
Mereka berdua hanya terdiam sembari memalingkan wajah kearah lain. Aku mulai memperhatikan keduanya dengan tatapan tajam.
"Apakah kalian baru saja bertengkar?"
"Tidak."
Hedro dan Delu menjawabnya secara bersamaan. Ketika aku melirik kearah Neila, ia terlihat tidak nyaman berada disini. Jadi, aku putuskan untuk menggiringnya keluar dari kerumunan yang sangat pengap itu. Kami kembali ke tujuan awal, mandi bersama.
"Ah, aku merasa lebih santai sekarang."
__ADS_1
"Soal kejadian tadi, apa kau terluka?"
"Tidak. Oh ya by the way, apa yang mereka lakukan disana hingga menarik perhatian begitu banyak orang, ya?"
"Aku juga tidak tahu."
Beberapa jam telah berlalu. Selesai dari pemandian, kami berniat untuk kembali ke asrama. Setelah berpisah dengan Neila, aku segera mempercepat langkahku supaya bisa cepat sampai ke asrama. Tapi, tiba-tiba saja ada seorang profesor muda yang menghampiriku dengan tergesa-gesa.
"Kepala sekolah memanggilmu ke ruangannya."
"Baik."
Aku pun bergegas pergi ke ruang kepala sekolah. Belum sampai disana, tanpa sengaja aku melihat Hedro dan Delu. Keduanya terlihat sedang berbicara serius dan sesekali Delu juga mendorong Hedro dengan kasar. Aku mencoba untuk mengabaikan mereka dan kembali ke tujuan utamaku.
Sesampainya di ruang kepala sekolah, pintunya terlihat terbuka. Ketika kuintip dari luar, ternyata tidak ada siapapun didalam. Awalnya aku ingin kembali ke asrama, tapi sebuah suara tegas menghalangi langkahku.
"Kalian ingin mencari masalah disini, hah?!"
"Tidak, Bu."
"Nah, berani menjawab!"
"Ibu sendiri yang bertanya."
"Oh. Begitu, ya?"
"Ibu tadi berkata 'hah'. Jika bukan karena itu untuk apa aku menjawab."
Terlihat disana ada seorang anak laki-laki yang dijewer telinganya hingga mengaduh kesakitan. Aku sempat terkekeh sebelumnya atas pernyataan konyol anak laki-laki itu.
"Oh, Fisilia. Masuk saja lebih dulu!"
Aku segera masuk kedalam ruangan yang berjarak 3 kaki dari sampingku. Hari ini pasti akan ada masalah yang menimpaku lagi. Kejadian di arena duel itu sudah cukup menjadi pengalaman terburukku.
"Maaf, membuatmu menunggu."
"Tidak masalah, Bu."
"Kalian yang diluar. Cepat masuk!"
Tak kusangka, ternyata anak laki-laki yang tadi kulihat adalah Hedro dan Delu. Sekarang aku benar-benar ingin tertawa jika memang benar orang yang dijewer tadi itu adalah Delu.
"Duduk!"
Mereka memilih untuk duduk disamping kanan dan kiriku. Kini, aku merasa seperti seorang tersangka atas pembunuhan berencana.
"Sebelum itu, saya ingin mengucapkan selamat datang kembali untukmu, Fisilia."
"S-saya, Bu?"
"Iya. Kau sudah boleh bergabung kembali dalam kelas."
Aku yakin ini bukan mimpi, tapi rasanya seperti mimpi saja. Kurasa mulai hari ini tugas sudah akan menumpuk, hanya untukku.
"Oh ya, satu lagi. Ambil beberapa buku di perpustakaan yang sudah kusiapkan. Kau bisa memintanya pada penjaga perpustakaan disana. Dia akan memberikan apa saja yang harus kau lakukan dengan semua itu."
"Baiklah. Kalau begitu, aku permisi."
"Baik. Kau bisa keluar sekarang. Dan untuk kalian tetap disini."
__ADS_1
"Baik, Bu."
Sesampainya di perpustakaan, aku langsung menghampiri penjaga yang berada disana. Ia memberiku banyak tumpukan kertas dan buku. Aku jadi merasa ragu kalau ini semua benar-benar harus kukerjakan sendiri.
"..dan ini adalah buku yang berisikan tentang teori hewan. Tugasmu hanya menyalin ulang halaman 23 sampai 35."
"Apa kau serius??"
"Tentu saja. Aku tidak pernah bercanda soal tugas sekolah, karena ini menyangkut pekerjaanku."
"Ya. Kau takut dibebas tugaskan, begitu?"
"Jaga ucapanmu gadis muda. Kerjakan saja apa yang sudah kuperintahkan padamu."
"Hm, baiklah. Kira-kira, kapan aku bisa mengumpulkan semua tumpukan kertas sialan ini?"
"Kapan saja kau bisa, tapi hanya akan diterima oleh profesor sampai bulan depan."
"Apa? Bulan depan??"
Aku benar-benar ingin menelan kepalanya yang berbentuk oval itu. Dia sangat menyebalkan, sungguh. Kuharap penjaga itu segera angkat kaki dari sini. Baru sehari bertemu sudah membuatku muak saja.
Hari-hariku berlalu hanya untuk menatap dan mencoret-coret kertas. Aku bahkan belum sempat sarapan tadi pagi. Arloji dipergelangan tanganku juga sudah menunjukkan pukul 3 sore.
"Seharian ini aku hanya berdiam diri didalam asrama dan tidak ada satupun teman yang ingat padaku!!"
"Siapa bilang?"
Tiba-tiba pintu kamarku dibuka oleh seseorang, sontak aku bersembunyi di balik bantal empuk yang sebelumnya kujadikan tempat duduk.
"Hei, ini aku."
Lega rasanya setelah melihat siapa sosok yang membukakan pintuku, Delu.
"Seharian didalam sini, apa tidak bosan?"
"Aku sibuk. Temui aku lagi nanti."
"Apa kau perlu bantuan?"
"Tidak. Terima kasih."
"Sungguh?"
Aku hanya mengangguk tanpa meliriknya sedikitpun. Aku masih sibuk dengan beberapa lembar kertas dan buku-buku ini hingga tidak memperhatikan lawan bicaraku. Melihat kesibukanku dalam mengotak-atik laci dan kotak pensil, Delu langsung pamit begitu saja tanpa basa-basi lagi.
Malam hari pun tiba, tapi tugasku masih amat sangat banyak sekali. Aku baru menyadari bahwa seharusnya aku menerima bantuan dari Delu tadi.
"Argghhh.. Fisilia bodoh! Kenapa kau mengabaikannya? Lihatlah sekarang, kau harus kerja lembur bagai kuda sehari tiga malam!"
Penyesalan memang selalu muncul diakhir cerita, tapi kisahku masih berlanjut. Hari esok akan menjadi hari tersibukku, karena masih ada sekitar 120 lembar kerja lagi yang belum kuselesaikan. Tapi untungnya, waktu yang diberikan untuk mengerjakan semua ini cukup banyak.
"Hufftt... meski begitu, tetap saja akan sulit bagiku untuk mengerjakannya sendiri."
Cklek..!
"Kudengar ada yang sedang membutuhkan bantuan."
Seseorang tiba-tiba membuka pintu kamarku tanpa mengetuknya terlebih dahulu, dasar tidak sopan.
__ADS_1