
Cahaya terang mulai menyinari wajahku. Mata ini terasa berat untuk dibuka.
"Hmm.."
Aku mencoba berteriak, berharap ada yang bisa mendengarnya.
"Fisilia, bangunlah!"
Terdengar sebuah suara yang bergema meneriakkan namaku.
"Hei, cepat buka matamu jika kau masih hidup!"
Suara itu semakin lama, semakin keras hingga membuat gendang telingaku sakit.
"Sadarlah, Fis. Kumohon.."
Kali ini suaranya melemah bagaikan ponsel yang kehabisan baterai. Mendengarnya membuatku kembali berusaha untuk membuka mata.
"Aww.."
"Fisilia, akhirnya kau sadar juga."
"Hmm.."
Meskipun aku sudah berusaha, suaraku tetap tidak mau keluar. Tapi, untungnya aku sudah bisa membuka mata. Tak lama kemudian, dokter pun datang.
"Apa pasien sudah sadar?"
"Iya, dok. Tolong periksa dia!"
Pandanganku terlihat begitu buram, tapi saat mencoba untuk membuka mata lebih lebar, tiba tiba muncul sebuah cahaya.
"Hei, jauhkan itu!"
"Ah, maaf. Aku hanya sedang memeriksamu."
Delu mendekat kearahku dengan wajah khawatir.
"Bagaimana, dok?"
"Oh, dia sudah lebih baik sekarang. Jangan banyak bergerak supaya cepat pulih."
"Aku baik-baik saja. Pergi sana!"
"M-maaf mengganggu. Saya akan kembali ke ruangan. Selamat beristirahat!"
Dokter itu tersenyum palsu. Aku hanya memutar bola mata setelah ia keluar dan menutup pintu.
"Kau ini apa-apaan?!"
"Ada apa denganmu?"
"Kau tadi sudah menerobos penonton dan sekarang kau telah memarahi seorang dokter yang tidak bersalah."
"Lalu?"
Delu pun mulai mendekatiku. Kini wajahnya hanya berjarak sekitar 4 cm dariku. Benar-benar membuat sesak.
"Lalu, kau telah merepotkanku sebanyak dua kali."
"M-memangnya kenapa?!"
Seingatku dalam kamar pasien sudah disediakan AC, tapi kenapa aku merasa begitu panas?
"Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu berkeringat?"
Aku tidak menjawab pertanyaannya dan memilih untuk mengalihkan pandangan kearah lain.
"Wajahmu terlihat memerah, apa kau demam?"
"A-aku.."
Tangannya mulai menyentuh keningku dengan lembut. Apa mungkin musim panas sudah menyebar begitu cepat?
__ADS_1
"Menjauhlah kau!"
Aku pun mendorong Delu supaya menjauh. Tapi sayangnya, dia tidak selemah yang kukira. Tidak ada memar di tubuhnya akibat terkatuk lagi.
"Apa aku melukaimu, Sayang?"
"Aku tidak.. aww!!"
Tanganku terasa sakit. Kupikir rasa sakit ini akan segera hilang, tapi kenapa semakin parah saja?
"Jangan banyak bergerak!"
"Ta-tanganku sakit.."
Aku hanya meringis kesakitan. Delu yang melihatnya langsung mendekat.
"Kemarilah, biar aku melihatnya."
Tanpa ocehan apapun, aku berikan tanganku padanya. Wajahku terasa panas lagi sekarang.
"K-kenapa dengan tanganku?"
"Dokter bilang tanganmu patah. Untunglah aku cepat-cepat memberi pertolongan pertama, sehingga tidak terjadi pembengkakan pada lenganmu."
Seperti dugaanku sebelumnya. Sekarang tanganku tidak bisa digerakkan sama sekali. Aku tidak yakin, apakah aku bisa mengikuti kelas hari ini?
"Sebaiknya, kau beristirahat saja. Untuk saat ini lebih baik kau jangan mengikuti kelas sebelum tanganmu benar-benar pulih."
Delu seperti seorang cenayang yang sedang membaca pikiranku, tebakannya tepat di pusat otakku.
"Aku harus masuk hari ini juga!"
"Jangan keras kepala. Ingat, semua ini tidak akan pernah terjadi jika kau tidak menerobos area duel !"
Benar juga apa yang diucapkan oleh Delu itu. Seharusnya, aku berpikir dulu sebelum bertindak supaya tidak berakhir sial seperti ini.
"Kenapa? Apa kau baru menyadari kesalahanmu?"
"A-aku tahu itu! Berhenti menceramahiku!"
"Aku hanya mengingatkanmu."
"Berhentilah peduli padaku, Delu! Aku sudah muak dengan dirimu!"
Merasa kesal padanya, aku langsung menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku. Untuk saat ini, moodku benar-benar kacau.
"Ehm, baiklah. Jika itu yang kau inginkan, aku akan pergi."
Ada sedikit rasa bersalah dalam diriku, karena sudah mengusirnya dengan kasar. Tapi sungguh, aku sedang tidak ingin diganggu hari ini.
Beberapa jam berlalu. Aku merasa begitu bosan berada disini, pengap. Aku bangkit dari kasur untuk pergi mencari udara segar diluar.
"Tempat ini lebih tepat disebut neraka daripada klinik."
Selama perjalanan, aku terus bergumam tanpa henti. Saat sedang asyik bicara sendiri, tanpa sengaja aku melihat sekumpulan orang yang terlihat tidak asing bagiku.
"Hai, Fisilia!"
Ternyata itu Chely. Tapi yang kulihat itu tidak hanya Chely, Hedro dan Delu juga datang menjengukku. Kupikir Delu benar-benar tidak ingin menemuiku.
"Apa yang kalian lakukan disini?"
"Eh ini, aku ingin minta maaf padamu."
"Tidak. Semua itu bukan salahmu, Hedro."
"Aku juga ingin minta maaf, Lia. Gara-gara aku, kau jadi terlibat masalah hingga berakhir di klinik. Sekali lagi maaf.."
Berkali-kali Hedro dan Chely meminta maaf padaku, namun pandanganku terus mengarah pada Delu.
"Hei, apa kau mendengarkan aku?"
"Ah, apa?"
__ADS_1
"Kau.. eh!"
Tiba-tiba Delu menepuk pundak Chely dari samping mengisyaratkan untuk diam sejenak.
"Sebaiknya, kita biarkan Fisilia untuk beristirahat."
"Hm, tapi aku masih merindukannya.."
"Chely, bukankah kau masih memiliki urusan setelah ini?"
"Oh iya, artikelku!"
"Apa Bu Sen memberi tugas kelompok lagi?"
Aku langsung angkat suara saat mereka mengucapkan kata 'tugas'. Tentu saja aku panik, secarakan aku sudah bolos selama 3 hari.
"Oh, tidak. Ini hanya tugas individu saja, tapi kau jangan khawatir. Kami sudah meminta izin pada profesor supaya tidak mengadakan tugas kelompok untuk sementara waktu."
Sebenarnya, aku ingin secepatnya kembali ke asrama. Terlalu lama disini membuatku gila. Otakku terasa begitu kosong karena terlalu lama menganggur.
"Lia, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Selain menjengukmu, kami juga membawakan buku catatan dan beberapa lembar kerja yang harus diselesaikan."
"K-kalian..."
Merasa direpotkan olehnya, aku langsung memeluk Chely dengan erat.
"Ekhem, ingatlah masih ada kami disini."
"Ah, Hedro! Kau ingin mencari perhatiannya Lia, ya?"
Wajahku kini kembali memerah mendengar gurauan Chely. Tapi disisi lain, aku melihat raut wajah suram disana. Kurasa hari ini sudah cukup merepotkan teman-teman.
"Oh, Lia. Apa kau mulai tertarik pada Hedro?"
"T-tidak. Itu mustahil. Bukankah kau yang sudah tertarik padanya, El?"
Aku kembali menggoda Chely hingga ia mengeluarkan ekspresi kesal. Tetapi tetap saja, aroma kesedihan masih terasa disekitarku. Udara diluar pun terasa lebih dingin dari biasanya.
"Baiklah semua, pesta selesai. Kembali ke asrama kalian."
"Huh, dasar pengatur. Sampai jumpa, Liaku!"
"Semoga lekas sembuh, Liaku!"
"Hei, Lia itu milikku!"
"Baiklah. Berarti kau milikku."
"Hedro sialan!!"
Mereka pun saling kejar-kejaran hingga menjauh dari hadapanku. Sekarang hanya tersisa kami berdua saja. Delu menutupi tubuhku yang mulai menggigil dengan jaket yang ia bawa.
"Istirahatlah."
Hanya itu yang ia ucapkan. Ini pertama kalinya Delu bersikap dingin padaku, tidak seperti biasa. Ia mulai berjalan menjauh, tapi aku dengan cepat menahannya dari belakang.
"A-apa kau marah padaku?"
Delu berhenti didepanku tanpa berbalik sedikitpun.
"Tidak."
"K-kau kesal padaku, ya?"
Masih dengan posisi yang sama. Ia menjawab pertanyaanku dengan singkat.
"Tidak."
"L-lalu, kenapa daritadi kau hanya diam dan..."
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku barusan, Delu berbalik dan menarik lenganku hingga jarak kami begitu dekat. Aku hanya diam sembari menatapnya takut-takut.
"Aku tahu kau membenciku. Tapi, izinkan aku untuk selalu menjagamu setiap saat aku mau."
__ADS_1
Degg~~~