
"Pagi hari lagi."
Dengan rasa kantuk yang belum juga sirna, aku bangun 6 menit lebih awal. Mungkin tidur menjelang malam bukanlah ide yang bagus.
"Lia, bangunlah!"
Terdengar teriakan dari pintu. Sepertinya Chely bangun pagi sekali, bahkan lebih pagi dariku. Dengan malas kuraih gagang pintu dan membukanya. Betapa terkejutnya aku ketika melihat siapa yang ada di depan pintu bukanlah sosok gadis manis berkuncir, melainkan seseorang yang wajahnya tak enak dipandang.
"Hai."
"Hn. Apa maumu?"
"Jangan marahlah. Aku ingin minta maaf soal kemarin."
"Oh, lalu?"
"B-bisakah kita berteman?"
Tanpa menjawab pertanyaan konyolnya itu, aku langsung menutup pintu dan kembali tidur. Dia sudah membentakku kemarin dan sekarang memintaku untuk menjadikannya teman. Aku penasaran dengan makhluk ini, apa mungkin dia dengan tak sengaja meminum sebuah ramuan kebaikan?
"Fis, hello!"
Wah, dia masih didepan pintu ternyata. Kita lihat seberapa lama ia akan bertahan disana.
"Maafkan aku! Kumohon!"
Teriak saja sekeras kau bisa, Delu. Aku tetap tidak akan mau membukakan pintu itu untukmu, si pembuat onar. Bisa saja dia ada niat lain melakukan ini padaku, mungkin.
"Lia, bukalah pintunya."
"Ah, aku takkan tertipu lagi."
"Ini aku, Chely."
Sungguhan Chely. Aku pikir sedari tadi Delu lah yang membuat-buat suara imut Chely. Pasti dia membantu anak menyebalkan itu untuk membujukku agar mau berteman dengan Delu.
"Apa?"
"M-maaf."
"Itu saja? Aku mau mandi. Menyingkirlah kau dari hadapanku!"
Dengan kasar aku menabrak Delu dan pergi ke pemandian wanita. Aku melangkah 40 cm lebih lebar dari biasanya untuk menghindari anak menyebalkan itu.
"Dor!!"
Tiba-tiba dari samping kiriku muncul sebuah kepala. Aku terkejut hingga menggetok kepala itu cukup keras.
"Aww!!"
"Oops.."
Tanpa kusadari, ternyata itu adalah Neila. Dia gadis cerewet yang sok asik kemarin. Anak ini muncul dimana-mana. Saat aku sedang bersama Chely, dia tidak datang ke kehidupanku sama sekali.
"Kau kejam, Fis."
"Aku pikir tadi itu apa?"
"Bukan apa, tapi siapa?"
"Kau mau ke pemandian juga?"
"Tentu saja. Kita kesana bersama, yuk!"
Neila menarik tanganku kearah portal untuk ke pemandian di lantai 3. Aku dengar disana pemandiannya jarang digunakan dan tak panjang dengan antrian.
Sesampainya di lantai 3, aku melihat Hedro bersama Chely sedang berbincang akrab di Fine Dining Fierre. Aku selalu ingin kesana, tapi sesuatu menghalangiku untuk pergi kesana.
"Ada apa?"
"Oh, tidak."
Aku mencoba untuk mengalihkan pandangan supaya disana mereka tak melihatku. Aku langsung masuk ke tempat pemandian bersama Neila. Sepertinya kami akan menjadi teman baik mulai sekarang.
"Ah."
Kami berdua menikmati berendam di pemandian yang hangat.
"Hei, apa kau mengenal Hedro?"
"Iya, awalnya kami kelompok belajar."
__ADS_1
"Bagaimana dengan teman dekatnya, Delu dan Sonia?"
"Hanya Delu."
Kemudian, aku mulai menceritakan awal pertama bertemu dengan Chely, Hedro dan Delu. Aku bercerita dari awal hingga akhir dan sesekali menjawab pertanyaan dari Neila. Aku juga menceritakan kisah sedih mengenai impianku menjadi seorang profesor.
"Jadi, kau mau jadi profesor, ya?"
"Ya, tapi aku bukan anak cerdas."
"Hm, seingatku kau anak cerdas di SMA Town Simulator, kan?"
"Iya. Prestasiku tak sehebat yang kau kira, bukan?"
"Awalnya, aku juga seorang murid disana sebelum kemari."
"Benarkah??"
Aku tak percaya dengan apa yang dikatakan Neila. Itu artinya, aku tak sendiri disini. Kupikir semua orang disini paham sihir sejak kecil. Ternyata, anak biasa juga ada yang masuk kemari.
"Pertama mendaftar, aku juga tidak tahu kalau ini sekolah sihir."
"Berarti kita sama. Aku baru tahu beberapa hari sebelumnya."
"Kalau begitu, kau setuju kalau kita berteman, kan?"
"Tentu saja. Siapa yang menolakmu?"
"Ingat, ya! Aku bukan Prodigy."
"Aku tak peduli. Siapapun kau, aku tak akan pernah bisa mendapat ijazah disini."
"Kau ini konyol sekali."
Kami tertawa bersama dan menghabiskan waktu hanya untuk mengobrol di pemandian.
Setelah mandi, kami pergi ke kantin untuk sarapan pagi. Sehabis makan, kami masuk kelas Sejarah Lv 1. Seharian ini aku belum bertemu dengan Chely sama sekali. Semoga saja dia tidak marah karena aku tak menemuinya selama ini.
"Sebutkan nama Penyihir Terkenal!"
Kelas hening seketika saat Pak Jon memulai pelajaran. Aku yang tidak biasa dengan kelas sepi langsung angkat tangan.
"David Bronzefield."
Kelas masih hening seperti sebelumnya. Lebih baik aku angkat tangan lagi.
"143."
"Benar. Selanjutnya, sebutkan mantra terkenal!"
Jangkrik kembali berbunyi ditengah heningnya kelas. Biasanya di sekolah lamaku selalu ramai oleh teriakan para murid di kelas. Kami selalu semangat kalau ada tanya jawab seperti ini. Bukannya disini ada anak cerdas, tapi kenapa tidak beraksi?
"Abracadabra."
"Hm, bagus sekali. Siapa namamu?"
"Fisilia."
"Kau sangat pandai, Fisilia. Kau pasti Prodigy baru."
"Aku hanya murid biasa."
Dengan santai kujawab setiap pertanyaan dengan kejujuran 100%.
"Hm, pertanyaan selanjutnya dijawab, ya?"
Pak Jon membuka buku mantra sihir. Sepertinya pertanyaan kali ini harus dijawab dengan cara dipraktekan.
"Coba salah satu dari kalian praktekan cara meracik obat, selain Fisilia!"
Tiba-tiba semua murid membulatkan mata sempurna. Aku yang tak peduli karena ini bagian murid lain, hanya menatap malas kearah Pak Jon. Tanpa sengaja aku melirik Chely dan Hedro yang terlihat panik. Padahal, setahuku mereka pandai soal sihir. Chely yang kemarin mengajariku cara meracik, kenapa harus panik?
"Kalian masih ingat, kan?"
Tidak tahu sudah berapa kali Pak Jon bertanya. Masih tidak ada yang mau angkat suara.
"Baik. Fisilia, maju!"
"Baik, Pak."
Pak Jon memanggilku kedepan kelas. Aku yang sudah biasa berhadapan dengan penonton hanya mengiyakan panggilan Pak Jon.
__ADS_1
"Cobalah untuk meracik sebuah obat!"
Tanpa menjawab, aku langsung mengambil bahan-bahan dan mulai meracik. Tak lama kemudian,
Boomm..!!
"Obat!"
"Bagus sekali!"
Semua murid di kelas membulatkan kedua mata mereka. Aku tahu mereka sudah biasa dengan sihir, tapi kali ini mereka terlihat seperti bayi kecil yang baru melihat pelangi di langit biru.
Prokk.. prokk.. prok...
Riuh murid mengisi seluruh kelas Sejarah Lv 1. Mereka semua bertepuk tangan kagum, kurasa. Untuk kali ini aku tak bisa membaca ekspresi para murid.
Kelas berakhir ditambah dengan tugas artikel baru dari kelas Elemen Sihir Lv 1. Seperti biasa, Bu Sen memberi tugas kelompok lagi.
"Sekarang apa?"
"Ada ide, Lia?"
"Bagaimana dengan Elemen Cahaya? Tidak sulit dan tidak terlalu mudah juga."
"Wah, kau jadi terlihat seperti profesor."
Aku berharap ucapan Hedro itu menjadi kenyataan. Tidak apa jika aku menjadi profesor langsung tanpa kuliah hingga S3 seperti kemauan orang tuaku.
"Mari, kita mulai tugasnya!"
Chely terlihat bersemangat untuk membuat tugas artikel kali ini. Aku yang melihatnya ikut semangat juga.
"Apa lagi?"
"Matahari?"
"Bintang?"
Wah, mereka membuatku bingung lagi. Artikel yang dimaksud disini tentang Elemen, bukannya tata surya.
"Ayolah--"
"Aku tahu!"
"Apa?"
"Kita istirahat saja, yuk!"
Dasar si konyol Hedro. Kita sedang serius, tapi dia hanya bercanda. Sebenarnya, aku juga sudah lelah. Kami merapikan meja dan kembali ke asrama masing-masing. Aku pergi ke pemandian terlebih dahulu sebelum kembali ke asrama.
"Fisilia."
"Hei."
"Kerja bagus di kelas tadi."
"Terima kasih. Aku membaca setelah Pak Jon bertanya."
"Cukup rajin bagi seorang profesor cilik."
Itu memang julukanku, tapi sudahlah. Aku langsung mengajak Neila ke pemandian wanita untuk bersantai.
"Apa kau mau ke pemandian lagi?"
"Aku tidak bisa, karena hari ini aku harus bersiap untuk berpetualang besok."
"Petualang? Sungguh??"
"Ya, kau tahu. Besok ada Event Sakura dan kami harus mencari token Sakura untuk mendapat dekorasi dan kelas baru yang sangat terbatas."
"Wah, banyak yang bisa kupelajari disini."
"Hehe.. begitulah. Aku harus bersiap, Fis. Sampai jumpa!"
"Baiklah. Sampai jumpa!"
Aku merasa sedikit sedih, tapi itu termasuk tugas. Aku segera ke pemandian sebelum penuh.
"Ah."
Aku merasa lebih santai berada disini. Uang sakuku sisa 350 lagi. Aku harus bisa bertahan disini suka atau tidak suka.
__ADS_1
"Hoamm.."