Magic School

Magic School
Tour Failed


__ADS_3

Hari-hariku terlewatkan begitu saja dengan sia-sia. Sekolah hanya membuat otakku kepanasan, bahkan sulit untuk bekerja lagi.


"Tugasku hanya tinggal sedikit lagi, tapi.."


Tok.. tokk.. tok..


Tiba-tiba saja, ada seseorang yang mengetuk pintu. Ini adalah kesekian kalinya ada tamu yang datang ke asramaku.


"Iya. Siapa?"


"Ini kami, Hedro dan Chely."


Aku kenal suara ini. Sudah lama sejak Delu meninggalkan sekolah untuk berpetualang dan hanya mereka berdualah yang masih menemaniku hingga saat ini.


"Ada apa?"


"Ayo, kita ke tempat yang menyenangkan!"


"Oh, teman-teman. Aku sangat ingin ikut dengan kalian. Tapi, tugasku masih begitu banyak."


"Tenang saja. Serahkan pada kami berdua!"


Kupikir dengan ucapannya itu tugasku akan lebih cepat selesai. Tapi...


"Wah, kepala sekolah itu benar-benar menyebalkan!"


"Sudah kukatakan. Semua ini tidak akan pernah selesai, meskipun kalian ikut membantu."


Aku kembali ke meja belajarku untuk mengambil beberapa buku yang tertumpuk disana.


"Apa kau akan membaca semuanya?"


"Tentu saja. Kita cari jawabannya disini."


"Itu tidak akan mudah, Lia."


"Aku tahu. Tapi, tidak ada salahnya mencoba kan?"


Kami mulai menyelesaikan tugasku dengan sungguh-sunggh. Aku sangat beruntung bisa memiliki teman-teman yang baik seperti mereka. Jika saja kami bertemu lebih awal, mungkin kehidupanku akan lebih berwarna.


"Aku menemukannya. Jawaban essai nomor 3 adalah Elemen Kegelapan. Aku benar, kan?"


"Hm, mungkin."


"Hedro, aku serius."


Seserius apapun kami dalam belajar, tetap ada candaan disela-sela kesibukan kami.


"Oh ya, Hedro. Apa yang sedang Delu lakukan saat ini?"


Tiba-tiba saja Chely menanyakan sebuah pertanyaan yang sebelumnya ingin kutanyakan pada Hedro. Aku benar-benar berterima kasih pada Chely.


"Dia ditugaskan untuk mencari Peri yang hilang di Kedalaman Brilliant."


"Apa gunanya itu?"


"Peran Peri di sekolah ini sangatlah penting."


"Seberapa pentingnya itu?"


"Sangat penting, Chely. Para Peri membantu pembangunan di sekolah ini."


"Sekolah ini dibangun dengan bantuan Peri, ya?"


"Tentu saja. Setiap kelas dan fasilitas sekolah dibangun dengan bantuan Peri Pekerja."


Sekarang aku mengerti. Semua masalah pembangunan sekolah akan diserahkan kepada Peri Pekerja. Jadi kesimpulannya, peran Peri di dunia sihir sangatlah penting, terutamanya Peri Pekerja. Banyak sekali yang dapat kupelajari disini. Beruntung sekali, murid-murid disini tidak ada yang pelit ilmu.


Beberapa jam telah berlalu begitu cepat. Akhirnya, kami selesai dengan tugas-tugas yang merepotkan ini. Semuanya tidak akan pernah selesai kalau bukan karena bantuan dari kedua temanku.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita keluar sekarang?"


"Kemana?"


"Sudah. Ikut saja!"


Hedro mengajak kami keluar asrama untuk mencari hiburan. Seperti yang sudah terjadi sebelumnya, kami gagal bersenang-senang gara-gara tempat romantis yang dikunjungi waktu itu.


"Kemarilah, kalian!"


"Wah, tempat apa ini?"


Tempat yang kami kunjungi kali ini, cukup menarik. Dekorasinya yang elegan terlihat begitu menawan. Rasanya aku ingin segera masuk kedalamnya untuk melihat lebih.


"Ini adalah Sushi Bar."


"Ayo, kita coba masuk kedalam!"


"Tenang dulu. Aku belum memberitahu tentang.. eh!"


Aku dan Chely langsung menerobos masuk kedalamnya. Tempat ini cukup ramai pengunjung. Tidak seperti tempat yang pernah kukunjungi sebelumnya, Fine Dining Fierre. Tempat ini jauh lebih bagus.


"Pelayan, aku pesan Onigiri."


"Aku ingin mencoba Teh Macha-nya."


"Baik. Bagaimana dengan, Tuan?"


"Oh, tidak. Terima kasih. Onigiri dan tehnya saja."


"Silahkan, tunggu."


Senangnya bisa menikmati sushi lagi setelah sekian lama. Rasanya seperti kembali ke masa sekolah menengah dulu.


"*Cobalah, Fis!"


"A-aku sedang diet. Kalian saja."


Happ..


"Wah, enak sekali."


"Aku bilang juga apa. Ayo, ayo, dimakan semuanya!"


"Baiklah. Karena kau yang bilang, aku tidak akan sungkan lagi."


Nyam.. nyamm..


Ingatan bersama teman lama pun kembali tertayangkan, hari-hari yang indah. Tak terasa, pesananku sudah datang saja.


"Wah, cepat sekali."


"Bukan cepat. Tapi, memang karena kau sendiri yang terlalu banyak melamun."


"A-aku tidak.."


"Sudah. Sudah. Ayo, cepat dimakan! Nanti dingin tidak akan enak."


"Hedro. Apa kau mau mencoba tehku?"


"E-eh, tidak perlu. Kau saja."


"Ayolah, Dro. Mau, ya?"


"Ehm, baiklah. Jika kau memaksa."


Chely terlihat sengaja mendorongnya kemulut Hedro hingga bibirnya memerah, karena tehnya masih panas.


"HUAAA... PANASS!!!"

__ADS_1


"Hahah.."


"Chely. Apa kau sengaja?!"


"Memang iya."


Mereka memang benar-benar pasangan yang serasi. Aku jadi iri melihatnya. Mereka terus saja menebarkan kemesraan dihadapanku. Seketika jiwa jombloku menggebu. Dengan sengaja aku menarik seseorang yang berada dibelakangku untuk bergabung bersama kami.


"Hei, tampan! Apa kau mau mencoba Onigiri ini?"


"Ah, t-tidak. Terima kasih."


"Oh, ayolah. Jangan malu-malu."


Tanpa meliriknya, aku langsung memasukkan Onigiri bulat-bulat kedalam mulutnya. Mataku masih memandang kearah Hedro dan Chely dengan kesal. Sampai sebuah tangan menepuk pundakku.


"Hei, Lia. Apa kau ingin membunuh anak orang?"


"Eh, apa?"


Aku kembali melirik kearah pemuda yang kusuapi secara paksa tadi. Wajahnya terlihat memerah. Jika aku tak melepaskan Onigiri itu dari mulutnya, sudah pasti nyawanya tidak akan lama lagi.


"Oops.. m-maafkan aku."


Huekk~~


Pemuda itu tiba-tiba memuntahkan semua Onigiri dalam mulutnya. Sekarang aku benar-benar merasa bersalah.


"A-apa kau baik-baik saja? Aku bawa ke klinik, ya?"


"Tidak perlu! Aku permisi. Lain kali jika kau ingin membunuh seseorang, carilah orang yang sudah bosan hidup."


Pemuda itu menggebrak meja dengan kesal, lalu pergi meninggalkanku begitu saja. Pandangan para pengunjung mulai teralihkan kearahku. Mereka menatapku dengan begitu aneh.


"Heheh.. Dōzo omeshiagarikudasai..!"


Setelah selesai menyantap makanan disana, akhirnya kami keluar juga. Hedro dan Chely yang melihatku begitu murung mencoba untuk menghibur.


"Lia. Bagaimana kalau kami mengajakmu ke Penemuan Artefak?"


"Tidak tertarik."


"Ehm, bagaimana kalau Observatori Luar Angkasa? Disana ada banyak.."


"Tidak mau."


Mereka terus mencoba untuk memikirkan hal yang menyenangkan. Aku hanya diam tak bergeming, menunggu ajakan mereka yang lainnya.


"Ayolah, Lia. Kami bingung harus mengajakmu kemana lagi."


"Bagaimana kalau ke Teh Romantis?"


"Aku sudah sangat kenyang oleh Macha tadi."


"Baiklah. Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke Museum Penemuan?"


"Membosankan. Lia, kita kemari untuk mencari hiburan dan bukannya membuat hidup semakin buram."


Baiklah. Sekarang aku mulai merasa sangat bosan. Kami pun memutuskan untuk memikirkan tour selanjutnya sembari berjalan tak tentu arah.


"Kita kembali saja, yuk!"


"Tidak."


Hedro dan Chely sama-sama menolak ajakanku untuk kembali asrama. Menurutku daripada berjalan-jalan tidak jelas disini, lebih baik kita kembali.


"Sudahlah. Kita lanjutkan esok hari saja, ya?"


"Kurasa, Fisilia ada benarnya juga."

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu, kita kembali mengerjakan tugasmu saja Lia."


Hedro hanya mengangguk setuju. Wah, jadi merepotkan kalian. Tapi, ada untungnya juga. Tugasku jadi lebih cepat selesai kalau dibantu oleh mereka berdua.


__ADS_2