Magic School

Magic School
Comeback!


__ADS_3

Hari ke hari mulai berlalu dengan begitu cepat, aku berdiri didepan ruang kepala sekolah dengan gugup. Hari ini adalah hari terakhir pengumpulan tugas. Sebelumnya, Chely sudah menawarkan bantuan untuk membawa semua lembaran ini. Tapi, aku menolaknya dan memilih untuk membawanya sendiri. Aku tidak mau merepotkannya lagi.


Tok.. tokk.. tok..


"Masuklah."


Suara dari dalam mempersilahkanku untuk masuk. Aku pun membuka pintu dan menaruh semua lembar kertas yang kubawa keatas meja.


"Bu, ini semua tugas yang kau minta. Saya sudah selesai mengerjakannya."


"Hm, kerja bagus. Kamu boleh keluar sekarang."


"Terima kasih, Bu."


Saat aku sudah menggapai gagang pintu, kepala sekolah memanggilku dari belakang. Firasatku mulai buruk, semoga saja dia belum membaca salah satu lembar kerja diatas meja itu. Tulisanku benar-benar sangat buruk.


"Tunggu. Ibu ingin meminta sedikit bantuanmu."


"Bantuan apa?"


"Tolong kamu jemput profesor dan muridnya di Hutan Brilliant. Kamu tahu tempatnya, kan?"


"Iya, Bu. Saya berangkat sekarang."


"Hm, OK!"


Aku pun keluar dari ruang kepala sekolah untuk pergi menjemput profesor. Aku rasa murid yang bersamanya itu adalah Delu, karena kudengar dia ditugaskan untuk pergi kesana. Akhirnya, setelah sekian lama kami bisa bertemu lagi.


Sesampainya di gerbang sekolah, aku meminta izin pada penjaga disana untuk pergi keluar. Semua murid yang ada disini dilarang untuk keluar masuk gerbang sekolah seenaknya, benar-benar penjara.


"...dan ini juga. Jika kau tersesat, kau bisa mengikuti petunjuk dari peta."


"Baik. Terima kasih. Aku berangkat."


"Hati-hati. Titip salah untuk si tampan..."

__ADS_1


Suara penjaga wanita itu terdengar samar-samar. Aku tidak tahu, siapa pria tampan yang dia maksud?


Dalam perjalanan ke hutan, aku diberikan banyak bekal makanan dan beberapa senjata. Bukankah itu sekolah sihir, tapi kenapa mereka menyimpan banyak sekali senjata disana?


Srekk~~ Srekk~~


"Siapa itu?"


Semak-semak yang berada disampingku itu tiba-tiba bergerak. Kalau bukan hewan buas, itu pasti seseorang.


DUARR..!!


Suara ledakan terdengar begitu jelas dari balik pepohonan yang tidak jauh dariku. Aku mendekatinya dengan perlahan. Betapa terkejutnya aku ketika melihat apa yang terjadi disana.


"Apa yang.."


Tiba-tiba tanah berguncang, angin berhembus kencang. Kulihat, bebatuan didekatku pun mulai mengapung di udara.


"Tidak bisa dimaafkan!!"


SYUUHH~~


"Mati kau!!"


Aku langsung berjongkok di balik semak-semak. Tak disangka, sesuatu melompat diatasku.


"Huwaaa..!!"


Perlahan-lahan aku mundur kebelakang. Sepertinya, peperangan telah berakhir dengan pahlawannya yang wafat lebih awal.


"Gawat.."


ROARR..!!


Ternyata, itu adalah monster. Kurasa dia penjaga hutan ini. Wajahnya terlihat begitu mengerikan, buruk sekali.

__ADS_1


"M-mundur! Aku peringatkan kau, aku memegang senjata disini !"


Monster itu tak menggubrisnya dan langsung menyerangku. Aku berlari menjauh sembari mengarahkan senjataku kearahnya.


DORR..!!


Tanpa disengaja, senjata itu mengeluarkan pelurunya. Aku tahu, seharusnya aku tidak mengambil *shotgun*. Untunglah pelurunya meleset.


Monster itu melompat tinggi dan mendarat tepat dihadapanku. Tidak ada pilihan lain, selain membunuhnya.


"Maaf, sobat."


JEDORR!!


Begitu banyak darah yang mengalir dibagian dadanya. Aku jadi kasihan monster itu. Dia marah sebab diganggu, itu pasti.


"Fisilia!"


Tiba-tiba dari kejauhan terdengar seseorang memanggil namaku.


"Siapa?"


"Ah, untung kau datang."


"Kau.. Tapi, bagaimana bisa?"


"Iya. Ini aku, gurumu. Oh ya, apa yang sedang kau lakukan disini?"


"Aku diperintahkan untuk menjemput seseorang disini."


Ia hanya mengangguk singkat. Ternyata, profesor itu adalah Pak Bet. Tapi seingatku, bukankah Pak Jon yang sebelumnya ditugaskan untuk pergi ke hutan. Kenapa jadi dia?


"A-aku mengerti. Lalu, bagaimana dengan murid yang ikut denganmu?"


Raut wajahnya berubah menjadi murung. Kurasa ada sesuatu yang terjadi padanya.

__ADS_1


"Maksudmu aku, ya?"


Suara itu..


__ADS_2