Magic School

Magic School
A Day With Him


__ADS_3

Setelah semua kejadian itu berlalu, akhirnya para profesor rapat lagi. Kebetulan sekali aku sedang malas membaca dan menghapal, secara kemarin aku telah membuat anak orang mati kepanasan.


"*Fisilia!"


"Eh, kau."


Sosok yang memanggil itu mulai menghampiriku.


"Hei, a-apa kabarmu?"


"Ehm, aku baik. Bagaimana denganmu?"


"Ya, seperti biasa."


Kemudian, suasana canggung diantara kami mulai berkumpul. Rasanya sekolah ini panas sekali, seperti didalam oven. Aku mencoba untuk memberanikan diri menanyakan kegiatannya pagi tadi.


"K-kemana saja kau hari ini?"


Keringat mulai bercucuran di keningku, rasanya menggelitik. Tapi, aku harus menahannya.


"Aku ditugaskan kepala sekolah untuk ikut dengan Pak Jon."


"O-oh, begitu."


"Bagaimana harimu tanpaku, hm?"


Sejujurnya, aku sedari tadi sedang mencoba memikirkan kalimat untuk mengakhiri percakapan ini. Tapi, kenapa dia harus melanjutkannya?


"Ehm, a-aku b-baik saja."


"Hm, benarkah itu?"


Dia mulai mendekatkan wajahnya padaku. Sekarang saatnya untuk mengangkat daging dalam oven!


"Menyingkir kau!"


Tanpa sengaja aku mendorongnya terlalu keras hingga menabrak dinding dibelakangnya. Semoga saja setelah ini, dia tak masuk klinik.


"E-eh, a-apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?"


Aku tidak tahu apa yang kulakukan saat ini, tapi itu hanya membuatnya tersenyum miring. Melihatnya begitu, aku langsung berdiri dan pergi meninggalkannya. Tidak peduli bagaimana keadaannya besok*.


Aku malu, benar-benar malu untuk menghadapi Delu hari ini. Secara kan, kami berada di kelas yang sama. Mungkin ada baiknya aku meminta Chely untuk menjadi bodyguardku saja.


Aku bersiap untuk ke asrama Chely. Aku memilih untuk tak ke pemandian, karena itu berbahaya. Selesai dengan urusan asrama, aku langsung membuka pintu dan..


"Selamat pagi, cantik!"


Sontak aku menutup pintu sekeras-kerasnya dan itu menimbulkan suara yang sangat keras ditambah dengan teriakan seseorang.


BRUKAWW..!!


Aku kembali membuka pintu untuk melihat keadaannya dan itu sangat parah. Hidungnya mimisan gara-gara aku, dasar Fisialan. Aku menghampirinya, lalu membawanya masuk ke asrama. Tanpa diperintah, aku langsung mengambil kotak P3K dan segera mengobatinya.


"A-apa masih sakit?"


"Iya, sakit sekali."


Aku tahu itu sakit, tapi ekspresi genitnya tidak menggambarkan kesakitan.


"Aw, sakit!"


"T-tahanlah sedikit."


Itu pasti sangat pedih, seperti diputuskan cinta oleh kekasih. Selesai mengobatinya, aku segera merapikan kotak P3K dan menaruhnya ke tempat semula. Dia pasti akan baik-baik saja. Jika tidak pun, dia akan kubawa ke klinik sekolah.

__ADS_1


"Ehm, bagaimana?"


"Sangat sakit."


Ekspresi wajahnya menyebalkan, seperti tetangga yang suka ikut campur urusan orang lain. Sekarang sudah terlambat untuk pergi ke asrama Chely, karena tujuanku untuk menjauhi anak menyebalkan ini dan aku sudah bertemu, hore..


"Apa rencanamu saat ini?"


"Menjagamu."


"Apa?"


Fisilia Demonty, kau berdosa besar sekarang. Haruskah aku mengulang waktu?


"I-ini aku a-akan ke perpustakaan untuk membeli buku."


Itu alasan terkonyol yang pernah kukatakan selain, 'kekasihku adalah Taki-sama !" Tubuhku akan segera mati rasa setelah hitungan mundur dari dua.


"Aku akan menemanimu kesana."


Dia ini orang bodoh atau tak berakal? Meski aku yang mengatakannya, tapi bukankah dia lawan bicara yang seharusnya lebih memperhatikan kata-kataku tadi?


"Ehm, t-tentu saja setelah kau sembuh."


"Ini akan lama. Kita pergi sekarang saja, ayo!"


Sudah kuduga dia pura-pura sakit. Aku yakin ini kabar buruk setelah dia terluka sebanyak dua kali gara-gara aku.


Sesampainya kami di perpustakaan, aku langsung mencari sebuah buku. Apapun itu, aku tak peduli, yang penting dia bisa segera pergi.


"Apa yang sedang kau cari?"


"Ah, a-aku sedang mencari buku."


"Kau ini, aku tahu itu."


Tiba-tiba saja Delu memukulku pelan dengan sebuah buku. Tidak tahu sejak kapan dia sudah berada dibelakangku.


"S-sejak kapan kau disini?"


"Sejak kapan, ya?"


Dia terlihat sedang menggodaku. Saat ini, jarak kami pun begitu dekat. Rasanya aku mual dekat dia terlalu lama.


"M-menyingkirlah atau aku akan--"


"Mendorongmu hingga jatuh dan terluka, begitu?"


"K-kau.."


Geram dengan perkataannya itu, tanpa kendali aku menendangnya hingga terantuk meja. Terdengar ringisan alay yang dikeluarkan anak menyebalkan itu. Aku tak peduli dengannya dan langsung pergi begitu saja.


"Cih, dasar gadis."


Sesampainya di asrama Chely, aku langsung masuk tanpa seizin pemiliknya.


"Hei !"


Aku duduk di kursi tanpa menghiraukan teriakan Chely. Ia yang merasa dianggap angin hanya diam menunggu suara lain berkumandang.


"El, dia itu benar-benar, ya?"


Aku tidak tahu apa yang kukatakan pada Chely, tapi aku yakin dia tidak paham. Aku pun melanjutkan ucapanku yang belum terselesaikan tadi untuk memperjelasnya.


"Apa yang--"

__ADS_1


"Dia menyebalkan sekali, El."


"Dia sia--"


"Aku selalu dibuatnya kesal."


"Ya, tapi--"


"Dia bilang terluka, kemudian setelahnya berkata yang lain. Saat aku peduli, dia tidak pernah berhenti membohongiku dan itu sangat menyebalkan!"


"Hei, aku belum menyelesaikan ucapanku!!"


Tiba-tiba saja Chely berteriak padaku. Aku yang mendengarnya langsung bungkam sejuta kerinduan. Terlihat wajahnya kusut, sekusut plastik belanjaan. Kalau dilanjutkan bisa-bisa dia meledak dan menghancurkan satu sekolah. Tapi aku berharap itu terjadi, sungguh.


Beberapa menit berlalu begitu lama. Aku hanya terdiam di kursi, tidak bicara apapun. Chely juga tidak membuka topik sama sekali, aku hanya bisa menunggunya hingga berdering.


Tokk.. tok.. tokk...


Terdengar suara ketukan pintu. Berpikir positif saja, itu pasti Hedro yang datang. Aku masih diam, meski pintu hanya berjarak 3 cm dariku.


"Oh, Delu. Ada apa?"


Ternyata, aku salah. Baiklah untuk kali ini, perempuan selalu salah. Sekian.


"Apa kau sedang bersama Fisilia?"


Oh, tidak. Dia nekat hingga mencariku kemari. Chely melirik kearahku yang mulai menenggelamkan kepala di kursi. Saat itulah Chely membulatkan bibir tanda paham.


"Ehm, begitu. Apa yang kalian lakukan seharian?"


"Hehe.. sepertinya aku menakuti gadis itu."


"Wah, gerak cepat, ya?"


Mendengar ucapan menyebalkan Chely, aku langsung berjongkok dibawah meja tanpa bersuara, berharap dia tak menemukanku.


"Bukan begitu aku hanya--"


DUGG..!!


Akhirnya, kepala ini terkantuk juga. Sialnya, aku sudah pasti akan ketahuan ada disini.


"Suara apa itu?"


"A-aku rasa itu kucing."


Syukurlah, Chely masih memihak padaku. Aku akan melompat kedalam dekapannya untuk mengucapkan terima kasih sangat banyak, sebanyak cintaku padamu.


"Hm, apa kau membawa seekor kucing ke sekolah?"


"Ah, mungkin kucing dari kelas Teori Hewan Lv 1."


"Kelas itu kan, jauh dari sini."


"Oh, iya. K-kenapa begitu, ya?"


Chely sangat payah dalam membuat alasan. Sekarang, aku hanya bisa menunggu.


"Aku izin untuk masuk. Permisi, tuan rumah."


Delu masuk dengan izin dari Chely. Tamatlah riwayatku dalam satu detik.


"Hei, lihatlah yang kutemukan ini !"


"Oops.."

__ADS_1


__ADS_2