
Ingatan mengenai kejadian yang telah terjadi sebelumnya masih menghuni didalam otakku. Entah mengapa, kemarin aku seperti tidak melihat Delu, melainkan monster. Tak kusangka dia memiliki jiwa iblis yang begitu menyeramkan. Aku tidak mau melihatnya lagi.
"Hei, bagaimana keadaanmu?"
"Hm, baik."
"Kenapa kau masih berbaring diatas ranjang dan bukannya bersiap?"
"Memang ada apa?"
"Hari ini penilaian, apa kau lupa?"
Astaga, seharusnya aku pulang kemarin. Sudah jatuh ketimpa tiang pula, dasar aku.
"Aku tidak akan mengikutinya."
"K-kenapa?"
"Kau tahu, aku seharusnya sudah pulang kemarin."
"Baguslah, kalau kau tidak jadi pulang."
"Bodoh. Aku sudah izin sebelumnya pada kepala sekolah, mungkin sekarang aku sudah absen."
Semangatku benar-benar sudah pudar bagaikan obor yang tertiup angin, wushh..
"Cepatlah bersiap, aku menunggumu diluar!"
Setelah berkata demikian, Hedro keluar dari kamarku. Dengan malas aku pun bangkit dari ranjang untuk pergi mandi.
"Ah."
Nyaman, itulah yang kurasakan. Hari ini Hedro terlihat bersemangat sekali. Aku merasa ada sesuatu yang tidak kuketahui disini. Jangan katakan kalau ini akan ada hubungannya dengan monster itu.
"Hei, kau yang didalam cepat keluar!"
Tiba-tiba seseorang meneriakiku dari luar. Merasa kesal dengan teriakan dan ketukan kasar itu berkali-kali, aku langsung menyelesaikan mandiku dengan cepat.
"Tidak perlu teriak begitu! Aku baru memakainya sebentar, eh!"
Terkejut dengan apa yang kulihat, aku pun mengusap mata dengan kasar.
"Hei, jangan diusap begitu!"
Aku rasa mataku tidak salah lihat. Mendengar suara itu, aku benar-benar tidak percaya bahwa dia monster berjiwa iblis yang kemarin kurawat. Tapi, apa yang dia lakukan di wilayah para wanita?
"Maaf, aku sedikit kasar padamu kemarin."
"A-apa yang kau lakukan disini?"
"Mencarimu, memangnya apa lagi?"
"Untuk apa?"
Masih dengan ekspresi dan tatapan yang sama. Aku masih tidak percaya dengan keberadaannya saat ini. Sebenarnya, aku sedikit takut karena kejadian kemarin masih menghantuiku hingga kini.
"Aku tahu, aku salah. Maafkan aku, ya?"
Dia meminta maaf padaku, apa ini mimpi atau ekspektasi?
"Hei, kenapa kau menatapku seperti itu?"
Dia terlihat berbeda hari ini atau mungkin tidak. Bukankah dia seharusnya sedang beristirahat di klinik?
"K-kau seharusnya berada di klinik saat ini. Kondisimu belum benar-benar pulih, sebaiknya kau beristirahat sekarang."
Dengan penuh paksaan, aku mendorong Delu dari belakang menuju ke klinik terdekat.
__ADS_1
"E-eh, aku baik-baik saja."
"Tidak. Kau baru sakit sehari dan sudah bilang sehat, kapan kau mau berpikir?"
Aku terus mendorongnya sembari berkicau seperti burung pipit, berisik. Padahal, suster di klinik tidak secerewet aku. Mungkin jika aku menjadi seorang suster, tidak akan ada yang mau berobat ataupun dirawat olehku.
Tiba-tiba Delu berbalik menghadapku. Tanpa sengaja aku menabraknya dari depan.
"Ouch!"
"Eh, m-maaf. Apa hidung atau dahimu tergores?"
"Kau pikir dadamu ini pisau apa?"
Aku hanya meringis kesakitan sambil mengusap-usap hidung mancungku. Oh lihatlah, gara-gara menabraknya hidungku jadi pesek.
"Bisa jadi, jika aku mengubahnya dengan sebilah pisau tajam."
"Jangan main-main kau!"
"Hahah.. aku hanya bercanda, manis."
Wajahku sekarang memanas akibat lelucon psikopatnya itu. Aku lebih baik pergi, daripada jadi tomat bakar.
"Aku pergi !"
"Hei, tunggu!"
Tanpa mempedulikan teriakannya, aku terus berjalan hingga sampai ke portal cepat. Sesampainya di tempat tujuan, tempatnya terlihat asing bagiku. Apa benar aku tidak salah lantai?
"A-aku pasti salah menginjak portal."
Tempatnya begitu luas hingga aku lupa darimana asalku tadi. Tapi beruntunglah aku, karena disini hanya berjajar asrama mewah.
"I-ini bukan asramaku."
"Eh, ini tempat apa lagi?"
Sepertinya aku sudah tersesat disini. Sekolah ini terlalu luas dan aku tak pernah menggunakan portal cepat sebelumnya. Bagi para murid baru diberi portal dasar untuk sementara hingga lulus kelas Lingkaran Sihir Lv 2. Setelah itu, dia baru diizinkan untuk menggunakan portal cepat. Dan aku, menguasai sihir saja belum bisa apalagi lulus kelas sihir.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Aku melirik arloji dipergelangan tanganku. Jam sudah menunjukkan pukul 12, itu artinya kelas akan segera dimulai. Aku benar-benar panik kali ini.
"Kelas akan segera dimulai dan akan ada penilaian. Bagaimana ini?"
Semua orang dihadapanku terlihat sibuk sendiri. Mereka bulak-balik dari satu kelas ke kelas yang lain. Tak lama kemudian, aku mulai memperhatikan aktivitas mereka.
"Wah, kelas idamanku."
Terlihat kumpulan murid yang sedang tour bersama pembimbing mereka. Tanpa memikirkan risikonya, aku segera melompat masuk kedalam barisan tersebut. Tour pertamaku, mengunjungi Safari Peri. Aku sudah pernah kesana, tapi belum mengenal isinya.
"Baiklah anak-anak, kali ini kita akan mempelajari tentang Peri Pekerja."
"Aku ingin bertanya, apa ia juga pekerja keras sesuai dengan namanya?"
"Ya, tentu saja. Peri Pekerja selalu bekerja setiap saat tanpa istirahat, tapi jika tugasnya telah selesai mereka akan kembali ke sarangnya masing-masing."
Ilmu ini akan sangat bermanfaat untuk Teori Hewan Lv 1. Kebetulan sekali aku membawa buku catatan beserta bolpoin, aku langsung menuliskan semua yang dijelaskan oleh pembimbing.
Tour selanjutnya, kami mengunjungi Museum. Seperti kunjungan pertamaku dengan Delu, disini yang kutahu hanyalah kerangka hologram.
"Ada yang tahu kerangka itu asli atau tidak?"
"Tentu saja asli, inikan tempat dimana sejarah dimulai."
"Pandai, tapi itu bukan jawaban yang benar."
__ADS_1
"Aku tahu. Kerangka itu bukanlah kerangka asli, melainkan hologram."
"Cerdas. Semua kerangka disini tidak asli, karena ini hanya dikhususkan untuk para pengunjung."
Beberapa jam berlalu, aku merasa puas dengan tourku hari ini. Sebelumnya tour bersama Delu gagal total, tapi semua itu sudah dibayar lunas.
"Baiklah, aku siap untuk kelas baru. Tapi, bagaimana caraku kembali?"
Tidak ada siapapun yang kukenal disini, meski sempat mengobrol dengan salah seorang murid saat tour. Kami belum sempat berkenalan, mungkin dia menganggapku teman sekelasnya.
"Apa kau melihat Fisilia?"
"Tidak. Ada apa dengannya?"
"Dia seharian ini tidak masuk kelas."
"Apa dia ada di asramanya?"
"Tidak ada. Bagaimana ini?"
"Kita berpencar untuk mencarinya."
Siang telah berganti malam. Aku masih dalam keadaan yang sama, tersesat. Seharian tidak masuk kelas dan hanya berdiam diri entah dimana, nilaiku pasti D- .
"Bagaimana?"
"Tidak ada dimanapun."
"Aku akan mencarinya di lantai 3 dan kau mencari di lantai 1."
Jarum jam sudah menunjuk ke angka 7, itu artinya sebentar lagi tengah malam. Aku menenggelamkan wajahku dalam diam, menahan isakan.
"Aku berharap ada seseorang yang datang membawaku pulang. Aku tidak peduli dia anak menyebalkan bermulut sutra yang suka membuat onar."
"Apa kau tadi bilang aku bermulut katun?"
"Hiks.. kubilang sutra buk--"
Betapa terkejutnya aku saat melihat sosok yang menjawab doaku. Tanpa basa basi aku langsung memeluknya erat berharap bisa merasa lebih baik.
"Tenang saja, aku ada disini."
Mendengar ucapannya aku langsung melepas semua tangis yang kutahan selama berjam-jam.
"E-eh, stt... jangan berisik."
Delu menekan kepalaku ke dadanya untuk membuatku diam, tapi itu membuatku tidak bisa bernapas.
"Hiks.. kau ini !"
"Maaf. Ayo, kita pulang!"
Kami pun turun ke lantai 2. Aku yang masih merasa ketakutan terus menggenggam lengan Delu erat. Dia tidak risih sama sekali dengan perlakuanku padanya. Akhirnya, kami pun sampai di tempat tujuan. Saat aku melangkah, kakiku terasa tidak bertenaga dan aku pun mulai lunglai.
"Eh, apa kau baik-baik saja?"
"Iya, aku baik-baik saja."
Delu dengan cepat menjongkok dan menjatuhkanku keatas punggungnya.
"Hei, apa yang kau lakukan?!"
"Diam saja."
Dari kejauhan, terlihat Hedro dan Chely sedang berdiri didepan asramaku.
"Lia!!"
__ADS_1