Magic School

Magic School
The Kind-Hearted Jerk


__ADS_3

Kepalaku terasa sedikit sakit. Seingatku kemarin sedang berendam di pemandian wanita, tapi kenapa tiba-tiba ada didalam asrama?


"Selamat pagi, Fisilia!"


Seseorang masuk dari pintu tanpa seizinku. Sudah dipastikan dia bukan gadis manisku.


"Siapa kau?"


"Ini aku, kawan."


Sosok familiar itu menampakan wujudnya dihadapanku. Oh, itu si anak menyebalkan. Seenaknya saja masuk kedalam asrama perempuan tanpa izin. Aku yakin dia bukan lelaki sejati, pengecut.


"Kenapa kau kemari?"


"Santailah, sobat. Aku kemari ingin memberimu bubur ayam."


"Aku tidak tertarik."


"Makanlah, Fis."


"Aku tidak mau!"


"O-oh, baik."


Delu melangkahkan kaki keluar pintu. Dia pasti menaruh sebuah ramuan dalam bubur itu untuk meracuniku.


"Bubur itu tak beracun. Segeralah pergi mandi setelahnya!"


Dia meninggalkan bubur diatas meja dan pergi begitu saja. Nada suaranya aku tidak suka, sedikit menekan.


Tanpa mempedulikan bubur ayam dari Delu, aku memilih untuk langsung mandi pagi ini. Aku akan bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal pada Neila. Dia bilang kemarin kalau ia akan pergi berpetualang. Beruntung sekali Neila itu.


"Ah, air yang hangat."


Selesai mandi aku langsung mempersiapkan beberapa lembar kerja untuk diberikan pada Bu Sen. Kami memang belum selesai dengan artikel mengenai Elemen Cahaya, tapi sebelumnya kami telah menyelesaikan artikel pertama, Elemen Kegelapan. Aku meminta agar artikelnya disimpan padaku supaya bisa diserahkan pada Bu Sen lebih awal. Bukan aku tak percaya pada Hedro dan Chely, hanya saja aku yang lebih sering bertemu dengan para profesor.


"Permisi, saya ingin menyerahkan tugas pada Bu Sen."


"Oh, dia sedang keluar sebentar. Tunggu saja disini."


"Baiklah."


Aku duduk disebuah sofa dekat pintu masuk. Lebih baik aku menunggunya daripada lupa.


"Dasar pemalas."


Tiba-tiba seseorang dengan jas biru tua panjang masuk dari pintu yang berada disampingku. Ia terlihat sangat marah.


"Eh, ada tamu. Siapa yang sedang kau cari?"


"Saya sedang menunggu Bu Sen kembali."


"Oh, dia sedang ke toilet sebentar. Tunggu, ya?"


"Baik, Pak."


"Eh, jangan panggil Bapak. Aku profesor muda disini, heheh..."


"Oh, maafkan saya."


"Tidak perlu begitu. Anggap saja aku kakak seniormu."


Sebenarnya dia itu siapa? Ingin cari mati denganku. Sudah tahu aku ini benci dengan senior. Kakak kelas itu hanyalah pengganggu bagiku. Dia lebih pantas menjadi adik kelas. Wajahnya terlalu polos dan cupu untuk ukuran dewasa.


"Oh, Fisilia."


"Eh, Ibu. Saya kemari ingin menyerahkan tugas artikel pertama mengenai Elemen."


"Oh, terima kasih. Kau boleh pergi sekarang."


"Baik."


Aku membungkuk hormat, kemudian keluar dari ruangan yang berisi para profesor itu.

__ADS_1


"Cih! Kakak senior katanya."


Masih dengan pikiran yang sama, aku berjalan dengan langkah besar layaknya seorang pria jantan. Aku memang dikenal dengan ketomboyanku di sekolah dulu. Sekarang aku telah berubah total, setelah bergabung dengan para murid rajin disini.


"Fisilia, tunggu!"


Ketika sedang asyik melamun, aku dikejutkan dengan teriakan dibelakangku. Suara yang aku rindukan selama beberapa jam ini.


"Gadis manis!"


Aku berlari menghampiri dan memeluknya erat.


"A-ada apa?"


"Aku hanya merindukanmu."


"Kita sudah bertemu kemarin, kan?"


"Hehe.. tentu saja."


Aku hanya menyeringai lebar memamerkan barisan gigi rapiku.


"Oh, iya. Tadi Delu ke asramamu, ya?"


Tebakan Chely membuat jantungku goyah. Badanku menjadi lemas bagaikan orang yang tak makan selama berhari-hari. Aku hanya memutar bola mataku 83°, tapi tidak itu menyeramkan.


"Ya, apa kau yang menyuruhnya?"


Merasa penasaran dengan kebenaran yang tersembunyi, aku langsung to the point. Bukankah aneh bila didatangi dan disapa oleh anak menyebalkan yang sok akrab itu? Bagiku, ya.


"Aku tak menyuruhnya sama sekali."


Kejujuran yang bagus, Chely. Bagus sekali bekerja sama dengan anak menyebalkan itu untuk menarik perhatianku. Sampai kapanpun aku tidak akan mau berteman dengannya. Bagiku Chely, Hedro dan Neila sudah cukup. Aku hanya butuh yang setia, bukannya pembuat onar.


"Delu bercerita padaku, katanya kau tertidur di pemandian wanita semalam."


Ternyata dia yang mengubah wallpapernya. Ingatanku ini tak pernah salah. Aku sudah menduga bahwa sebelumnya aku sedang berada di pemandian. Tapi, kenapa dia bisa masuk ke pemandian wanita?


"Dia melihat keramaian di depan pemandian wanita di lantai 3. Seseorang memberitahu Delu kalau ada seorang gadis yang pingsan di pemandian. Saat dia memeriksanya, itu kau yang sedang tertidur di pemandian selama 2 jam lamanya."


"Dan.. kau tahu. Pakaianmu itu.."


Jangan katakan padaku kalau pakaian ini digantikan juga oleh Delu. Anak menyebalkan itu sebaiknya membiarkan aku tidur di kursi saja.


"Tenang saja, itu aku yang ganti. Dia membantuku selama kau tidak sadarkan diri. Kau tahu, dia terlihat begitu panik semalam."


Aku akan menarik kata-kataku kembali. Baiklah, kuakui dia anak yang baik. Akan kuucapkan maaf dan terima kasih padanya hari ini juga.


Pelajaran pertama di kelas Ramuan Lv 1. Sesuai perjanjian, hari ini kami akan tes bersama Bu Sen.


"Untuk meracik obat ada beberapa bahan yang perlu kalian ketahui. Pastinya kalian sudah tahu itu dan saat ini adalah waktunya untuk menunjukkan semua yang kalian bisa."


Aku siap dan selalu siap. Kali ini aku akan membuktikan kalau aku juga bisa menjadi anak cerdas.


"Fisilia, giliranmu!"


"Baik."


Aku maju dengan penuh percaya diri. Aku hanya ingin berada satu tingkat lebih tinggi dari para anak cerdas.


"Ok, mulai."


Aku mulai memasukkan setiap bahan yang tersedia satu-persatu sesuai catatan yang telah kupelajari sebelumnya.


Boomm..!!


"Obat!"


Akhirnya, aku berhasil mendapat nilai A+ untuk kedua kalinya. Memang di kelas sebelumnya aku curang, tapi kali ini aku melakukannya sendiri.


"Kerja bagus, Lia."


"Kita yang terbaik."

__ADS_1


Kami tertawa lepas ditengah ramainya kelas. Di jam istirahat ini aku berniat untuk menemui Delu untuk meminta maaf, sekaligus mengucapkan terima kasih padanya. Chely tak bisa menemaniku hari ini, karena dia sudah lapar duluan. Aku akan mengajak Delu untuk makan siang bersama, karena Chely meninggalkanku kelaparan disini.


"Nah, itu dia si anak menyebalkan."


Aku berlari kecil untuk menghampirinya yang sedang mengantri di kantin. Tidak seperti biasanya kantin ramai dengan pengunjung.


"Delu!"


Aku terpaksa berteriak memanggilnya, karena dia hampir tenggelam dalam antrian, tapi tak luka dalam.


"Eh, Fisilia. Ada apa?"


"A-aku ingin mengajakmu makan siang bersama!"


Jujur saja, itu bukan niat pertamaku datang menemuinya. Aku terpaksa mengeluarkannya dari segerombol murid lapar disana dan mencari udara segar.


"Apa kau bilang tadi?"


"A-aku ingin mengajak, bukan! Me-meminta! Eh, anu.."


Delu tersenyum kearahku dan sesekali tertawa kecil. Aku merasa bodoh sekali dihadapan anak menyebalkan ini. Bukannya membantu untuk membenarkan ucapanku, dia malah tertawa mengejek kearahku.


"Hahah.. kau lucu sekali."


Aku yang merasa malu hanya bisa diam tak bergeming. Lebih baik masuk kelas saja. Pelajaran akan segera dimulai juga, kan?


"A-aku akan kembali ke kelas."


Dengan berlari sekuat tenaga, aku pergi meninggalkan Delu yang masih tertawa kecil melihat tingkah tak biasaku.


"Bapak hanya akan memberi kalian tugas hari ini. Setiap murid ambil satu buku dan pelajari. Kalian boleh bubar atau tetap di kelas."


Tugas lagi, menyebalkan. Aku sudah lelah dengan yang namanya tugas. Lebih baik kubawa tugas ini untuk dipelajari di asrama saja.


"Aku duluan."


Chely yang tak biasa ditinggalkan hanya cemberut sambil mengangguk singkat. Aku yakin dia akan menghabiskan waktu bersama Hedro, lagi.


Beberapa jam berlalu. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan aku masih melihat buku.


Tokk.. tokk... tokk...


"Masuk!"


"Kau belum tidur?"


Aku yang terkejut melihat kehadiran Delu langsung melompat ke ujung ranjang. Pandanganku sedikit buram, sepertinya karena terlalu lama menatap buku.


"Hei, ini aku."


"O-oh, iya aku tahu."


"Masih belajar, ya? Rajin sekali."


"A-apa yang kau lakukan disini?"


"Hanya memastikan kau sudah tidur atau belum."


Aku yang merasa sedikit gugup berhadapan dengan Delu hanya bisa diam dan kembali menatap buku.


"Bolehkah kita belajar bersama?"


"O-oh, t-tentu saja."


Beberapa menit telah berlalu, rasa canggung mulai menjalar di tubuhku. Semoga dia cepat kembali ke tempat asalnya.


"Ehm, i-ini sudah waktunya tidur."


"Wah, kau benar. Tidak terasa sudah selama ini."


"Heheh... i-iya, kau benar."


"Aku akan kembali. Selamat tidur, Fisilia."

__ADS_1


Delu melambaikan tangan kearahku sembari menutup pintu. Aku yang biasanya percaya diri saat menghadapi seseorang, kali ini merasa begitu gugup. Ada apa denganku hari ini??


__ADS_2