Magic School

Magic School
First Test


__ADS_3

Pagi hari yang cerah di sekolah baru. Aku bangun pagi sekali untuk kembali mempelajari mantra yang belum sempat dihapal.


Tok.. Tok... Tok..


Aku segera bangkit dari ranjang dan menghampiri pintu. Pasti orang menyebalkan yang kemarin datang lagi. Mungkin dia akan memarahiku karena belum mandi.


"P-pagi, Fisilia!"


"Oh, kau. Selamat pagi!"


Aku rasa dia tak datang karena pagi pertama di sekolah baru Chely menyapaku. Dia bangun pagi untuk menghapal mantra kurasa.


"B-bagaimana semalam?"


"Tidak ada satu katapun mantra yang masuk kedalam otakku."


"Ehm, aku yakin kau bisa melewati tes kali ini."


Mendengar itu, aku merasa sedikit lega dan tersenyum kearah Chely. Dia hanya tersenyum malu-malu dihadapanku dengan wajahnya yang mulai memerah.


Setelah Chely kembali ke asramanya, aku bergegas untuk mandi lebih awal. Sudah kuduga akan banyak toilet dan sauna yang digunakan para siswa disini. Kalau dilihat lagi sebenarnya sekolah ini memiliki toilet premium disetiap asrama. Tapi, anehnya mereka masih suka menumpang di toilet siswa lain.


Setelah mandi selama 1 jam, aku pergi ke kantin untuk sarapan. Ketika sedang mencari kantin di lantai 1, aku melihat sebuah restoran mewah dekat portal dasar. Mungkin baru dibangun atau aku tak melihatnya kemarin.


Aku masuk kedalamnya mencoba apa yang disajikan oleh restoran tersebut.


"Selamat datang!"


"Aku ingin tahu menu spesial disini."


"Menu spesial hari ini adalah Rib Eye Steak."


Makanan disini terlihat mewah dan lezat. Tidak seperti yang ada di kantin. Sekolah ini punya segalanya.


"Terima kasih."


Setelah sarapan di restoran mewah, aku pergi untuk berkeliling sekolah. Kelas yang ada disini cukup banyak. Selain itu, terdapat berbagai dekorasi yang tertata begitu rapi didekat beberapa toko dan kelas.


"Fasilia!"


Ketika sedang asyik berkeliling sembari mengagumi bangunan yang ada, terdengar seseorang memanggilku dari belakang.


"Ada apa?"


"Eh, aku hanya ingin memberitahu bahwa kelas akan segera dimulai."


"Oh, baik. Apa kau sudah menguasai mantra itu?"


"A-aku sudah menghapalnya."


Mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan gadis manis dihadapanku ini, tak kusangka dia penghapal yang hebat. Mungkin jika otaknya dijual bisa mencapai jutaan atau miliar.


"Kau kejam, El."


"E-eh, j-jangan menangis. Aku yakin kau akan segera bisa menguasainya."


Sedih dengan kabar yang menegangkan dari Chely, aku hanya bisa pasrah seperti yang biasa ku lakukan di sekolah lama, menyerah ketika ada ujian mendadak.


Jam pertama dimulai. Seperti yang dijanjikan kemarin, kami akan menjalankan sebuah tes pertama di hari pertama sekolah. Kabar baiknya aku absen terakhir dan kabar buruknya aku masih belum menguasai mantranya.


Absen disini sesuai dengan pendaftaran kemarin. Aku terakhir mendaftar dan tentunya mendapat nomor absen terakhir. Biasanya kalau soal tes aku selalu bisa menghadapinya. Tapi kali ini, praktek macam ini harus dikuasai dalam satu malam. Itu benar-benar mustahil.


"Sekarang, Fisilia!"

__ADS_1


Terkejut mendengar namaku dipanggil, aku segera maju kedepan kelas untuk mempraktekan apa yang kemarin dipelajari.


"OK, mulai."


Aku hanya bisa pasrah dengan takdir bahwa aku akan gagal dalam tes pertama ini. Ketika mantra mulai kubacakan, terlihat dari bangku belakang Chely membuka lebar-lebar gulungan miliknya. Aku yang sudah biasa melihat contekan dengan lihai memutar tanganku sembari melirik kearah Chely untuk membaca tiap kata dalam gulungan itu.


Untungnya sebelum tes aku sudah membaca mantra dalam gulungan tersebut, sehingga tak sulit bagiku untuk membacanya.


BOOMM~!!!


"Apel asam."


Tes berakhir dan aku berhasil. Aku mendapat nilai A+ seperti siswa yang lainnya. Tak kusangka, ternyata tes ini sangat menyenangkan.


"Asyik!!"


"A-apakah kau mau ke toko ramuan?"


"Tentu saja. Daripada antri panjang seperti kemarin. Ayo!"


Aku menarik tangan Chely kearah toko ramuan. Hari ini aku begitu semangat untuk mengikuti kelas selanjutnya. Mungkin karena kecurangan yang berbuah manis.


"Apakah kau memiliki ramuan pelumpuh?"


"Silahkan."


"Terima kasih."


Di toko ramuan tersedia berbagai jenis cairan berwarna-warni. Uang sakuku sepertinya akan habis untuk membeli semua itu. Menurutku, ini lebih baik daripada membeli suling untuk kelas musik.


"Eh, Fisilia. Aku lapar."


"Kalau begitu kita pergi ke restoran mewah disana saja."


"M-maksudmu Fine Dining Fierre."


"Apa?"


"I-itu tempat yang kau maksud. Tapi, makanan disana mahal-mahal, Fisilia."


"Tapi, enak dan lezat."


"Hehe.. sudah pasti. Bagaimana kalau kita ke toko es krim saja?"


"Kalau begitu, ayo!"


Aku menarik tangan Chely menuju toko es krim. Aku memang tidak tahu dimana letaknya, tapi Chely akan memberitahunya dibelakangku.


"Dua es krim rasa... kau mau apa, El?"


"Ehm, vanilla saja."


"OK. Es krim vanilla dua."


"Silahkan."


Aku langsung menyantap es krim vanilla dengan lahap. Rasanya sudah lama sekali aku tak makan es krim favoritku.


"Lezatnya."


"Ehm, Fisilia. Kau mau masuk kelas sekarang?"


"Tidak perlu terburu-buru. Kita berkeliling mencari hiburan saja dulu."

__ADS_1


Aku mengajak Chely pergi ke berbagai tempat yang ada di sekolah. Ini sangat menyenangkan sekali. Aku bisa mendapat semuanya yang kuinginkan disini. Sayangnya tidak gratis.


"El, itu tempat apa?"


"Itu mesin Arcade. Kau mau coba kesana?"


"Wah, boleh."


Chely mengajariku cara menggunakan mesin tersebut. Ternyata tak sesulit yang kukira. Kemudian, Chely mengajakku sembari memberitahukan nama dan fungsi setiap ruang yang ada. Kali ini ia mengajakku ke tempat yoga. Tidak seperti tempat yoga yang sering kulihat, disini tersedia karpet bercorak dengan tiga buah kotak bening disampingnya.


"Kau mau mencobanya?"


"Bagaimana cara kerjanya?"


"Kau hanya perlu duduk dan bersantai."


Chely benar-benar seorang sensei. Dia tahu segalanya dan pandai melakukan semua itu. Mungkin dia bisa menjadi seorang presiden. Tapi, kenapa harus presiden? Sedangkan disini kita tidak belajar politik.


Pelajaran kedua dimulai. Sekarang kami akan diajari Pak Jon lagi. Tetapi, kali ini kita tak belajar sejarah, melainkan totem dasar. Disini kami disuruh untuk mengeluarkan api dari sebuah patung kayu dengan wajah aneh.


"OK, mulai."


"Tarian api."


Wushh~~


Praktek yang sangat hebat dan luar biasa keren. Aku tak pernah belajar bahkan melihatnya. Aku masih berpikir, bagaimana api itu bisa keluar dari dalam patung? Kalau dengan menggunakan logika itu mustahil.


Pelajaran totem dasar selesai. Kami semua bubar dari kelas. Aku merasa sangat lelah sekali. Hari ini kami belajar praktek terus tanpa materi sedikitpun. Memang hanya dua pelajaran saja yang biasa diajarkan setiap kelas.


Aku baru sadar bahwa disini siswanya ada ribuan. Mungkin karena itu setiap pelajaran hanya mengajarkan dua pelajaran saja. Kurasa itu lebih baik daripada empat pelajaran dalam satu hari dan itu hanya mempelajari materi saja.


Aku pergi ke pemandian wanita karena sauna sedang digunakan. Malas menunggu, jadi aku lebih memilih untuk pergi ke pemandian wanita saja.


"Fisilia."


"Ada apa?"


"Hai, aku Neila."


"Salam kenal."


Aku tidak begitu banyak bergaul disini karena siswanya terlihat cuek. Kali ini aku mendapat seorang teman baru lagi, kurasa. Sepertinya dia sangat memperhatikanku hingga tahu namaku.


"Hehe.. sepertinya kau tidak mengenalku."


"Memang."


"Kalau begitu, maukah kau datang ke asramaku besok?"


"Untuk apa?"


"Kita akan pesta bantal, bagaimana?"


Tunggu sebentar. Kita baru kenal dan dia mau mengajakku ke asramanya. Chely saja tak pernah mengajakku ke asramanya meski sudah cukup akrab.


"Tenang. Aku tidak ada niat jahat."


"Pemandiannya sudah kosong. Aku masuk dulu."


"Aku tunggu besok."


Gadis ini sedikit mencurigakan. Tapi, sudahlah tidak perlu dipikirkan. Lebih baik aku mandi dan segera kembali ke asrama untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2