Magic School

Magic School
Troublesame


__ADS_3

Tok.. tokk.. tok..


"Masuklah."


Ternyata, yang datang itu adalah Chely. Aku menatapnya yang terlihat begitu murung.


"Ada apa?"


"Seharian ini aku tidak melihat Hedro."


Memangnya dia sepenting itu bagimu, ya? Lalu, bagaimana denganku? Kelihatannya Chely sama sekali tak menanyakan keadaanku saat ini.


"Mungkin dia sedang sibuk."


"Apa yang sebenarnya ia sibukkan hingga tak ingat padaku?"


"Memangnya dia begitu penting bagimu, ya?"


Chely hanya terdiam setelah mendengar pertanyaanku itu. Tanpa dia jawab pun, aku sudah tahu jawabannya pasti 'iya'. Tapi, jujur saja aku juga sedang merindukan seseorang. Jadi aku sangat paham bagaimana perasaannya saat ini.


"Kurasa, kita dalam posisi yang sama."


"Apa maksudmu?"


"Aku yakin kau tahu maksudku."


Setelah berkata demikian, aku bangkit dari ranjang untuk pergi mandi. Sebelumnya, aku telah mengajak Chely juga. Tapi dia menolak, ia memilih untuk menungguku didalam asrama.


Tak lama kemudian, aku pun kembali. Aku tidak ingin membuat Chely menunggu terlalu lama disana.


"Chely.."


Sesampainya disana, kulihat ada Hedro yang sedang asyik mengobrol dengannya. Aku langsung masuk kedalam, berniat untuk mengganggu keduanya. Tentu saja aku iri melihat kedekatan mereka berdua.

__ADS_1


"Eh, Fisilia. Kemarilah!"


Setelah menaruh handuk mandi, aku pun menghampiri Hedro dan Chely.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?"


"Lia. Apa kau tahu?"


"Tahu apa?"


"Delu tidak akan berada disini selama beberapa hari."


"Sungguh? Bagaimana denganmu? Kudengar, kau akan kembali dalam waktu 7 hari. Kenapa sudah muncul lagi disini?"


"Heheh.. itu memang benar. Tapi, aku meminta Mami untuk segera mengembalikanku ke sekolah."


"Seingatku, kau baru pulang beberapa hari saja. Kenapa sudah mau kembali?"


Chely hanya menyeringai lebar kearahku. Itu tidak terlihat imut lagi, melainkan menyebalkan. Jadi, tujuannya kemari hanyalah untuk memberitahuku tentang keadaan Delu, ya? Soal dia khawatir pada Hedro itu, pasti hanya akal-akalannya saja. Seketika, aku pun merasa sedikit sesak saat mengulang kembali ucapan Chely tadi.


"Ah, apa?"


"Kenapa bertanya balik?"


Sesaat, aku pun terdiam. Lalu, melangkah keluar asrama, mencoba untuk menghirup udara segar.


Ketika sedang asyik menyendiri di Perkemahan, tiba tiba dari sampingku muncul seseorang yang terlihat tidak asing. Sepertinya aku pernah melihat orang ini sebelumnya. Tapi, dimana ya?


"Permisi, bolehkah aku duduk disini?"


Aku baru ingat. Dia ini adalah orang aneh misterius yang ada di taman waktu itu. Aku bisa mengetahuinya, karena dia melakukan hal sama seperti yang sebelumnya dia pernah lakukan padaku.


"Bolehkah aku menemanimu disini?"

__ADS_1


"Apakah kau tidak ada kelas untuk diikuti?"


Bukannya menjawab, orang itu hanya terkekeh geli disampingku. Benar-benar aneh.


"Kenapa kau hanya sendirian saja disini?"


"Kau sendiri. Bagaimana?"


Lagi-lagi makhluk aneh itu hanya terkekeh tidak jelas, membuat risih saja. Aku pun bangkit dari dudukku dan pergi darisana. Tapi, orang aneh itu menahan tanganku.


"Tuan, tolong lepaskan tanganku!"


"Kenapa terburu-buru begitu? Mari, bersantailah dan nikmati pemandangan yang ada."


"Maaf, tapi aku sedang sibuk hari ini."


Masih dengan posisi yang sama. Dia tetap tidak mau melepaskan tangannya dariku, meskipun aku sudah berusaha untuk memberontak. Ini membuatku sangat jengkel.


"Apa sebenarnya maumu?"


"Aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersamamu."


Kata-katanya itu terlalu jujur untuk diucapkan. Kurasa otaknya sedikit bermasalah.


"Permisi."


Aku melepaskan tangannya dariku secara paksa. Kemudian, aku pun berlari menjauh.


"Jangan ikuti. Jangan ikuti."


Sepanjang perjalanan ke asrama, aku terus berbisik berharap dia tidak mengikutiku dari belakang. Bahayanya lagi, jika dia mengikutiku hingga asrama. Mungkin setiap hari aku akan selalu diteror olehnya.


"Akhirnya, sampai juga."

__ADS_1


Saat aku masuk kedalam asrama, ternyata sudah tidak ada orang. Chely pasti sudah kembali bersama dengan Hedro. Aku memilih untuk merebahkan diri diatas ranjang untuk menenangkan pikiranku sejenak. Lama kelamaan, mataku jadi terasa berat. Aku pun langsung memejamkan mataku.


__ADS_2