
"Kau harus tetap bertanding, Nak. Kau telah melewati batas area."
Ia terlihat tidak senang jika aku menolak. Sepertinya akan ada pertarungan antar teman disini.
"Ini dia peserta baru kita, Chemistery!!"
Para penonton kembali riuh. Tapi, tidak dengan Delu. Dia menatapku cemas, aku jadi merasa bersalah padanya.
Lawan..!! lawan..!! lawan..!!
Mereka mulai bersorak kegirangan, berharap ada yang mati diantara kami. Aku tidak terlalu memikirkan mereka, karena tujuanku adalah untuk menyelamatkan Hedro. Meski aku tidak memiliki kemampuan dalam mengontrol sihir dalam tongkat, ya sudahlah.
"Ini tongkatmu, Nona."
Seorang gadis berjubah hitam muncul dan memberikanku sebuah tongkat.
"Mari, kita mulai pertandingannya!"
Kini, di area hanya ada aku dan Hedro. Chely mundur untuk beristirahat. Kurasa dia mengalami trauma setelah kejadian tadi.
"Ayo, majulah!"
"A-apa kau yakin? Aku tidak mau kau terluka."
"Jika kau berani melukai Chely, mengapa aku tidak?!!"
"Ah, aku.."
"Maju atau serang?"
"Itu tidak ada bedanya--"
BRUKK!!
"Hedro terjatuh! Dia terjatuhh! Para hadirin, ternyata gadis ini memiliki kemampuan hipnotis!"
Para penonton mulai bersorak lagi. Mereka terlihat sedang mengangkat sebuah papan nama bertuliskan 'Chemistery', aku bangga pada diriku sendiri. Tapi, ada juga yang bertuliskan 'Aku Mencintaimu Chemistery', itu sedikit menjijikan. Baiklah, lanjut ke pertandingan.
"Argghh... apa yang kau lakukan?"
"Ini pertandingan, kawan."
"Kau..!"
Hedro terlihat marah melihatku berlagak sedikit sombong, sejujurnya aku takut padanya. Kali ini dia yang pertama menyerangku, tapi beruntunglah aku cepat-cepat menghindar.
"Jangan lari kau!!"
Aku tidak mendengarkannya dan memilih untuk berlari memutar, tapi tetap saja tertangkap.
"Hahah.. kena kau!"
Sekarang aku takut, benar-benar takut. Dia terlihat lebih menyeramkan daripada pocong mumun yang sering kutonton di televisi.
"Kau bukan Hedro! Keluarlah kau makhluk buas!!"
"Apa katamu..?!"
Terlihat urat di keningnya mulai bermunculan, sekarang dia sudah benar-benar menyerupai monster.
"Musnahlah kau bagai api unggun!"
"Oh, ya?"
Hedro mendekat dan mengangkat daguku hingga tegak. Saat aku menatapnya, mata Hedro terlihat berwarna merah cerah. Mataku jadi sakit melihatnya, tapi seingatku Hedro memiliki sepasang mata berwarna biru. Kenapa tiba-tiba jadi merah?
"Dengarkan aku, disini pemimpinnya adalah aku! Cobalah untuk bersikap lebih sopan pada majikan!"
BRUKK!!
Dia melemparku ke sudut area. Aku tidak tahu kalau Hedro adalah pemilik dari tempat ini, sebelumnya dia tidak pernah menceritakannya padaku.
"Sepertinya pertandingan mulai panas, para hadirin!"
Ting.. ting.. ting..
__ADS_1
Sebuah lonceng tiba-tiba berbunyi, akhir dari pertandingan.
"Ronde 1 telah berakhir!"
Aku bangkit dari dudukku, berharap tidak ada luka dimanapun. Tapi..
"Aww..!!"
Tanganku terasa sakit. Untunglah sang pembawa acara dengan baik hati menawarkan bantuannya padaku. Meski begitu, tetap saja rasa sakit ini tidak juga hilang.
"Fisilia!!"
Terdengar Delu memanggilku dari kejauhan. Ia berlari kearahku dengan wajah khawatir. Entah kenapa, aku merasa ingin tersenyum melihat kedatangannya. Tapi sayang, pelindung itu masih saja belum hilang.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Iya, aku baik-baik saja. Apa kau mengkhawatirkanku?"
"Dasar keras kepala! Bagaimana tidak, kau turun dari kursi penonton dan berlari kemari !"
Aku melihat tatapannya yang tidak pernah kulihat, menenangkan. Rasanya seperti sedang melihat es batu dalam kulkas, sejuk.
"A-aku minta maaf.."
"Apa kau tahu, kau hampir mati terbunuh tadi?!"
Dia terus saja membentak dan mengoceh didepanku. Meski begitu, aku senang bisa melihat sikap manisnya kembali.
Gong..!!
"Para hadirin sekalian, pertandingan akan segera dimulai !"
Delu kembali ke kursi penontonnya dengan lesu. Aku tidak pernah melihatnya begitu khawatir padaku.
"Apa kau sudah mau menyerah?"
"Kau pikirkan saja sendiri."
Aku berlari kearahnya untuk melakukan penyerangan, tapi aku terlalu lambat.
BRUKK!!
Hedro menghindar dan menyerangku balik. Kali ini tanganku yang lain ikut merasakan sakit. Namun, aku terus berjuang supaya bisa segera keluar dari sini.
"Masih ingin lebih?"
"Boleh saja."
"Kau..!"
Hedro kembali menyerangku dengan tongkat sihirnya. Aku terangkat keatas dan dibanting kebawah dengan kuat olehnya. Itu sangat sakit, jika kau ingin tahu.
JEDERR!!
Kurasa, cuaca sedang tidak bersabahat. Tiba-tiba saja ada petir dari atap, sepertinya Hedro ingin bermain curang denganku.
"Baiklah, jika kau bisa mengubah cuaca. Maka aku akan mengurus suhunya."
WUSHH~~
Angin mulai bertiup kencang. Aku sudah mulai terbiasa sekarang dengan tongkat ini.
"Wow..!"
Aku terpukau dengan apa yang telah kuciptakan dari sebatang ranting kecil ini, sungguh hebat. Tanpa kusadari, aku telah membuat angin tornado yang sangat besar.
"Tak seperti yang kubayangkan rupanya."
Tanpa berpikir panjang, aku arahkan tornado itu pada Hedro. Tapi, aku salah sasaran. Tornado itu mengenai pelindung dan memantul kembali kearahku, jika aku tidak menghindar mungkin sudah dibawa olehnya.
"Waa-ah!!!!"
Tornado itu lebih memilih pria tua daripada anak muda. Tornado itu mulai menelan sang pembawa acara hingga bersendawa, tidak itu mustahil.
"Aku rasa, tornado lebih menyukai daging mentah."
__ADS_1
"Yah, sepertinya begitu."
Area duel sihir pun jebol gara-gara angin tornado yang telah kubuat menerobos keluar. Kami pun kembali dalam pertandingan.
"Mana yang kau bilang perubahan suhu?"
"Itu hanya kecelakaan. Cobalah untuk melawan dengan tangan kosong jika kau berani, pengecut!"
"Hei, ini duel sihir bukan bergulat. Tidak bisa bertarung dengan tangan kosong."
"Oh ya, kau benar. Itu artinya kau adalah pengecut sejati.."
Aku mengejeknya hingga kepalanya mengeluarkan banyak asap. Saat ini, otaknya sudah benar-benar kepanasan seperti mesin mobil. Hedro terlihat sangat murka dan ini adalah saatnya menjalankan rencanaku.
"Pengecut.. pengecut.. dasar pengecut! sudah tidak berani melawan, statusnya pun masih sendiri. Hohoho..."
"Apa kau bilang?! Cari mati, ya?!!"
Hedro mulai menyerangku kembali dengan tangan kosong seperti yang kuinginkan.
"Meleset!"
"Kau..!"
Aku mulai membaca mantra tanpa suara. Bukan mantra tornado, tapi ramuan. Aku berencana untuk membuat ramuan apel asam yang ditambah dengan lem kayu. Aku tak pernah mencobanya, tapi siapa tahu berhasil.
"Apel asam!"
Ramuannya sudah berhasil dibuat, sekarang hanya tinggal membawa Hedro masuk kedalamnya.
"Apa kau akan mengalahkanku dengan ini?"
"Kau akan tahu sendiri, pengecut!"
"Cih!"
Hedro kembali mengejarku yang mencoba untuk kabur. Sudah dipastikan jika aku berjalan memutar, maka dia akan masuk kedalam jebakanku.
"Baiklah. Apapun yang kulakukan, apapun yang kucampurkan semuanya akan berhasil.."
Aku berbisik mencoba untuk percaya pada diriku sendiri.
"Hei, kemarilah!"
"Aku tidak akan terkecoh kali ini !"
"Oh, memang tidak ada pengecohan."
Saat Hedro melompat diatas ramuan yang telah kubuat, aku langsung menendangnya masuk kedalam dan..
Swoshh...
"Jangan kacaukan ini, lem!"
Aku mulai mengeluarkan semua lem kayu yang kumiliki kearah Hedro. Tidak seperti rencanaku, lem itu mengenai wajahnya yang tampan.
"Hei, apa yang kau lakukan?!"
Ini adalah kesempatan bagus untuk merebut tongkat sihirnya, selagi dia tidak melihat.
PLETAKK!!
Ting.. ting.. ting...
Para penonton kembali bersorak lagi dan lagi. Akhirnya, ekspektasi tak menjadi realita. Pelindung itu pun mulai menghilang dan aku segera berlari menghampiri Delu yang turun dari kursi penonton. Saat jarak kami sudah dekat, aku melompat kearahnya.
"Kau berhasil, Fis."
"Heheh... aku tahu itu."
Merasa bangga pada diri sendiri, aku hanya menyeringai kearah Delu. Ia menarik hidungku hingga membengkak, sakitnya berkali lipat sekarang.
"Aww.. sakit!!"
"Siapa suruh kau menerobos area duel?"
__ADS_1
Aku hanya menggigit bibir dan menenggelamkan wajahku yang memerah ke dadanya. Ia mengusap kepalaku lembut, sehingga membuatku mengantuk.