Magic School

Magic School
Finally Get Help


__ADS_3

"Siapa yang mengizinkanmu untuk masuk?"


Sosok yang membuka pintu itu pun menampakan wujudnya dihadapanku dengan tanpa rasa malu sedikitpun.


"Pintumu tidak terkunci. Bukankah artinya masih bisa menerima tamu untuk masuk?"


"Ini sudah waktunya tidur."


"Ya. Aku tahu itu."


Belum kupersilahkan Delu untuk duduk, ia sudah lebih dulu menempati kursi dan menggesernya mendekat kearahku. Ia terlihat sedang memperhatikan setiap buku dan kertas yang ada diatas ranjangku.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


"Sibuk."


"Wah, tak disangka. Gadis pembolos sepertimu ini bisa sibuk juga, ya?"


"Diam kau!"


Kesal dengan ucapannya barusan, aku pun memalingkan wajah kearah lain. Bisa-bisanya dia mencari masalah disaat tidak tepat seperti ini, menjengkelkan sekali.


"Jika tidak ada kepentingan lain, segeralah angkat kaki dari sini."


"Jangan terburu-buru begitu. Aku kemari hanya untuk membantumu."


"Membantuku mengacaukan semua ini, ya?"


"Tentu saja tidak. Tapi, kelihatannya kau tidak suka dengan keberadaanku disini."


"Itu memang benar. Kau hanya membuat masalah setiap saat."


"Apa maksudmu..?"


"Maksudku adalah kau selalu datang membawa masalah padaku. Selain itu, kau juga telah membuat banyak kekacauan dalam hidupku. Dan lagi, sejauh ini kau tidak pernah membantuku sama sekali. Bahkan, bila diingat kembali, kedatanganmu tidak pernah membawa hal positif padaku!"


Sungguh suasana malam yang sangat menegangkan. Disaat itu pula, aku merasa tidak dapat mengendalikan diriku sendiri. Kelihatannya, diriku yang lain telah mengambil ahli. Delu hanya diam tak bergeming.


"A-aku benar-benar minta maaf.."


Seketika mataku membulat penuh. Saat itulah kesadaranku mulai kembali.


"Mungkin kau benar. Aku hanya membuat masalah bagi semua orang."


Oh tidak. Sepertinya dia akan mencurahkan isi hatinya padaku hingga menjelang pagi hari.


"Maaf telah merepotkanmu. Aku akan kembali ke asrama."


Ternyata, itu semua tidak terjadi. Dia bangkit dari kursi dan melangkah pergi.


"Selamat malam."


Sekiranya itulah kata terakhir yang dia ucapkan padaku. Setelah Delu pergi, otakku terasa kosong. Jadi kuputuskan untuk melanjutkannya besok, sekaligus ingin meminta bantuan Chely supaya membantuku mengerjakan semua ini, kuharap dia tidak keberatan.


*Kringg~~~*


Matahari mulai terbit dari arah timur. Aku bangun dengan malas dan segera mandi untuk pergi ke asrama Chely. Tapi nyatanya,


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."

__ADS_1


"Hei, Chely!"


"Oh, Lia!"


Aku berlari menghampirinya. Ia terlihat sedang menggusur sekoper baju untuk dibawa pulang. Aku tahu apa yang akan dia lakukan saat ini.


"Aku sudah menduga itu, El."


"Heheh.. aku tahu kau akan merindukanku di lain hari."


"Dasar bodoh! Tentu saja aku akan merindukanmu gadis manis berkuncir!"


"Ekhem.."


Aku sampai tidak menyadari bahwa disana juga terdapat Hedro yang sedang berdiri disampingku sembari melipat kedua tangan di dadanya.


"Kuharap, aku tidak terlewatkan apapun."


"Ah, Hedro. Tentu saja tidak. Kau dan aku akan mengantarnya hingga ke ujung dunia."


"Oh, jadi begitu. Seberapa bencinya kau hingga ingin mengusirku sejauh mungkin, hah?!"


"Sejauh.. cintamu pada Hedro."


Kata terakhir yang kubisikkan pada Chely membuatnya membatu. Perkataanku tadi sudah pasti tepat sasaran, buktinya wajah Chely berubah menjadi warna merah.


"Lia, kau benar-benar menyebalkan!"


Aku berlari kebelakang Hedro mencoba untuk menghindari amukan gadis itu. Tapi, apa yang terjadi pasti sudah direncanakan. Mereka terjatuh bersamaan hingga saling tindih menindih.


*BRUKK!!*


Jika hamba-Nya tidak mau berkata jujur, maka Tuhanlah yang akan bertindak. Tuhan memang sangat adil. Kupikir pepatah memang tidak pernah salah. Hanya saja yang kulihat disini bukanlah jatuh tertimpa tangga, melainkan tertimpa jodoh.


"Sepertinya aku masih ada banyak pekerjaan di asrama, jadi selamat bersenang-senang untuk kalian berdua.."


"Hei, Lia! Tunggu saja pembalasanku!"


Aku berlari secepat yang aku bisa menuju ke portal dasar. Tapi pada akhirnya, aku tak sengaja menabrak seseorang hingga mengotori seragamnya.


"Hei, kalau jalan itu pakai mata!"


"Maaf, tapi aku menggunakan mata untuk melihat bukan untuk berjalan."


"Kau..!"


"Kau.. tepat sekali, begitu kan maksudmu?"


Gadis dihadapanku itu terlihat kesa, sehingga wajahnya menjadi merah semerah lipstik yang sering digunakan oleh Ibu untuk pergi ke acara arisan.


"Minggir kau gadis culun!"


Tidak ingin mencari masalah didalam sekolah, aku memilih untuk tidak menghiraukannya saja.


Sesampainya di lantai 2, aku bergegas kembali ke asrama untuk melanjutkan beberapa lembar kerja lain yang belum sempat diselesaikan. Sepertinya hari ini akan sulit untuk dilewati.


"Ayolah, Fisilia! Kau pasti bisa!"


Aku kembali memfokuskan diri kearah lembaran kertas dihadapanku. Mengingat kemarin, aku jadi terpikirkan tentang Delu.

__ADS_1


"Mungkinkah aku terlalu kasar padanya?"


Sepanjang perjalanan pulang pergi ke asrama, aku sama sekali tidak melihat keberadaannya dimana pun.


"Ya sudahlah. Lagipula dia bukan anak kecil lagi."


Beberapa jam berlalu begitu cepat. Aku baru menyelesaikan materi Elemen, Ramuan dan Ilmu Kimia. Berikutnya, aku akan melanjutkan ke Sejarah yang sudah pasti lebih banyak dari materi yang lain.


"Huh! Menyebalkan sekali. Kenapa aku tidak diizinkan untuk ujian lisan saja?"


*Tok.. tokk.. tokk..*


Aku yakin itu pasti anak menyebalkan yang kemarin, maksudku Delu. Bagus kalau dia datang hari ini. Sekalian saja aku meminta maaf padanya soal kejadian semalam. Aku bangkit dari ranjang untuk segera membukakan pintu.


"Aku benar-benar minta maaf padamu Del.. eh!"


"Hai, ini aku Hedro."


Ternyata aku telah salah paham dengan ketukan pintu itu. Seharusnya kupasang kata kunci di pintunya. Orang bodoh seperti Delu pasti tidak akan bisa memahaminya.


"Ada apa?"


"Aku hanya ingin menyampaikan salam dari Chely untukmu."


"Oh, kalau begitu berikan salamku balik padanya."


"Dia sudah tidak berada disini lagi, Fis."


"Apa dia benar-benar akan pergi jauh?"


"Tidak. Dia hanya sedang diliburkan oleh sekolah. Minggu depan juga sudah kembali."


"Oh, baiklah."


Hedro hanya tersenyum simpul kearahku. Tidak tahan dengan kecanggungan yang akan segera datang, aku segera membukakan pintu untuk mempersilahkan Hedro masuk.


"Wah, kamarmu berantakan sekali."


"Iya. Jika bukan karena mereka, semua ini tidak akan terjadi."


Aku menunjuk kearah tumpukan buku dan kertas diatas ranjang. Semuanya terlihat berserakan dimana-mana. Apa ini salah satu hukuman karena telah menerobos *tour* kelas lain?


"Apa yang sedang kau kerjakan?"


"Hanya menjalankan hukuman karena telah membolos."


Hedro menghampiri meja belajarku dan mengambil selembar kertas yang tergeletak disana, kemudian membacanya dengan begitu teliti.


"Oh, ini pelajaran yang sebelumnya diajarkan di kelas Teori Hewan Lv 1."


"Sungguh? Jadi, kalian sudah masuk kelas Teori Hewan, ya?"


"Belum lama. Apa kau perlu bantuan?"


"Ah, iya. Tentu. Terima kasih, Hedro."


"Tidak perlu sungkan."


Aku mengangguk dengan semangat. Akhirnya, ada juga yang mau membantuku mengerjakan semua kertas sialan ini. Tapi jika diingat lagi, bukankah Delu juga pernah menawarkan bantuannya padaku?

__ADS_1


__ADS_2