Magic School

Magic School
Forbidden Book


__ADS_3

Sudah lama aku tidak masuk sekolah. Sudah lama pula Delu tidak terlihat. Apa dia memang sesibuk itu?


"Hei, Lia! Buka pintunya!"


Terdengar suara teriakan Chely dari luar pintu. Aku pun segera membukanya.


"Ada apa?"


Kulihat di tangan Chely sudah tergenggam sebuah tas berukuran besar. Mungkin ada yang sedang ulang tahun hari ini atau bisa jadi dia mau memberikan sebuah kejutan pada seseorang dan memintaku untuk membantunya.


"Lia, bantu aku!"


"Membantumu untuk apa?"


Tanpa izin dariku, Chely langsung menerobos masuk. Anak ini semakin lama, semakin tidak ada sopan santunnya.


Aku pun menghampirinya yang sedang duduk diatas ranjangku sembari membuka tas yang ia bawa tadi. Ternyata, isinya adalah sebuah buku kuno. Sepertinya ada sesuatu yang tidak aku ketahui lagi.


"Apa itu?"


"Ini buku sejarah para penyihir terdahulu. Aku menemukannya di perpustakaan sekolah. Hebat, kan?"


Tak kusangka, di balik sifat pendiamnya itu, ternyata dia juga punya rasa keingintahuan yang besar. Chely membuka buku itu dengan perlahan. Begitu banyak debu yang bermunculan dari buku tersebut.


'Harap jangan dibuka jika bukan 18+'


Aku dan Chely saling menatap sembari mengernyitkan halis, bingung.


"Apa jangan-jangan isinya adalah..."


Tok.. tokk.. tok..


Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar. Chely segera menutup buku kuno itu dan menyembunyikannya dibawah ranjangku.


"Hedro. Ada apa?"


"Aku hanya ingin berkunjung saja. Sekalian melihat tugasmu."


"Oh, kebetulan sekali. Masuklah!"


Aku menarik Hedro untuk masuk. Pintunya kubiarkan terbuka seperti biasa supaya tidak terjadi salah paham.


"Oh, Chely. Kau juga disini, ya?"


"Eh, Hedro. Heheh.. sudah biasa."


Mereka pun saling mengobrol satu sama lain, sedangkan aku masih memikirkan mengenai isi buku kuno itu. Dan kenapa Chely menyembunyikannya saat Hedro datang?


"Hei, Fis!"


Sebuah tangan menepuk pundakku hingga tersadar dari lamunanku. Saat akan berbalik, tanpa sengaja aku menendang kaki kursi.


"Aduhh..!"


"Eh, ada apa denganmu?"


Hedro mendekat kearahku untuk memeriksa bagian mana yang sakit. Disisi lain aku melihat tatapan sinis yang tengah menatap kami tajam.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir."


"Oh, ok!"


Kami kembali mengobrol mengenai tugas dan sekolah.Terkadang Hedro mengungkit tentang Delu disana, membahas kegiatannya selama diluar sekolah. Aku sempat tersenyum secara sembunyi-sembunyi. Lega rasanya ketika mendengar bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja disana.


"Oh ya, Fis. Kudengar, tugasmu akan dikumpulkan sekitar 4 hari lagi. Apa kau sudah menyelesaikan semuanya?"


Aku baru ingat. Tugas itu harus secepatnya kuberikan kepada kepala sekolah. Tapi, aku terlalu malas untuk mengerjakannya.


"Itu benar. Sayangnya, belum semua kukerjakan."


"Apa kau memerlukan bantuan kami?"


"Eh, tidak perlu. Sudah merepotkan kalian sebelumnya."


"Tidak usah sungkan."


Chely hanya mengangguk dibelakangnya. Aku merasa beruntung sekali bisa kenal dengan mereka.


Tak terasa, hari sudah mulai gelap. Hedro dan Chely berpamitan untuk kembali ke asrama masing-masing. Setelah kepergian mereka, aku pun berniat kembali bergelut dengan buku dan pensil. Saat aku tengah mengerjakan tugas, salah satu kertas soalnya terjatuh.


"Kertas sialan! Tidak tahu diuntung! Lihat saja saat kalian sudah dinilai nanti, akan kubakar semuanya!"


Ketika aku turun dari ranjang untuk mengambilnya, aku menemukan sebuah buku dibawah ranjang. Kuraih buku itu untuk dikeluarkan. Jika diingat-ingat, ini kan buku kuno milik Chely.


"Kebetulan sekali. Heheh..."


Rasa penasaranku akhirnya bisa dipuaskan malam ini. Aku pun mulai membuka buku tersebut. Seperti sebelumnya, pesan di halaman pertama membuatku sedikit bingung.


"Seberbahaya apa memangnya buku ini?"


'Jangan pernah membuka halaman selanjutnya'


Meskipun sudah diperingati, rasa penasaran ini mengalahkanku. Aku pun membalikkannya lagi. Masih dengan tulisan tangan yang sama, tetapi pesan yang berbeda.


'Jika kau melanggar, maka kau akan menyesal'


Semakin lama, aku semakin ingin tahu. Saat halaman berikutnya akan dibalik, tiba-tiba dari luar pintu terdengar suara langkah kaki. Lalu, suara itupun berhenti dan berganti dengan suara bisikan tepat didepan asramaku.


"Apa kau sudah menemukannya?"


"Kurasa belum. Bagaimana denganmu?"


"Aku masih mencarinya. tapi tidak ada dimanapun."


"Sepertinya, buku itu telah dicuri oleh seseorang."


"Wah, yang benar saja. Jangan-jangan..."


Suaranya terdengar samar-samar, tapi semakin lama suara itu semakin jelas. Aku jadi penasaran, mungkinkah buku yang mereka maksud itu adalah buku kuno ini?


"Diam kau!"


"S-siapa tahu dia sudah kembali, kan?"


Mereka berbicara dengan begitu serius. Kira-kira besok akan ada peristiwa apa lagi, ya?

__ADS_1


Keesokan harinya, kepala sekolah memerintahkan semua murid untuk berkumpul di lantai 1.


"Kurasa hari ini akan ada pesta besar."


Chely berbisik kedekatku, membuatku sedikit merinding.


"Semuanya berkumpul ! Ibu ingin bertanya. Apakah diantara kalian ada yang meminjam buku dari perpustakaan?"


"Itu sudah biasa, Bu."


Seorang gadis yang memakai bandana berceloteh membuat murid lain pun ikut bersuara.


"Ibu ingin tahu. Apakah diantara kalian ada yang pernah melihat atau membaca buku sejarah lama?"


"Wah, itu tidak mungkin. Lagipula, kami lebih berminat pada buku mantra sihir daripada buku sejarah. Bukankah begitu, teman-teman?"


Semua murid kembali berteriak mengiyakan ucapan pemuda itu. Aku dan Chely hanya menyimak dalam diam. Aku melihat kegelisahan di wajahnya itu.


"Tidak mungkin kalian tidak ada yang tahu."


"Mungkin penjaga perpustakaan itu teledor, Bu."


Celoteh salah satu murid disana. Kelihatannya situasi saat ini akan semakin memburuk. Aku pun berbisik kearah Chely.


"Hei, El. Kau meninggalkan buku itu di asramaku."


"Benarkah?"


"Iya. Kau ini benar-benar ceroboh."


"A-aku tidak menyadarinya."


Selama kami mengobrol bersamaan dengan murid lain, kepala sekolah pun kembali berbicara dengan tegas.


"Kalau sampai ada diantara kalian yang mengambilnya. Tapi tidak mau mengaku, lihat saja nanti. Ibu jamin kalian tidak akan bisa lulus!"


Semua murid mengiyakan ucapan dari kepala sekolah dengan santainya. Saat aku melirik kearah Chely, dia terlihat semakin gelisah. Aku tahu itu karena wajahnya mulai dibanjiri oleh keringat basah.


"Chely. Tenang saja. Rahasiamu aman bersamaku."


"Ehm."


Akhirnya, kami pun dibubarkan. Chely memilih untuk ikut denganku ke asrama. Kalau begini, sudah pasti dia ingin mendongeng lagi.


"Fisilia. Bagaimana ini?"


"Aku juga tidak tahu. Lagi pula, kenapa kau mengambil buku itu tanpa permisi?"


Ia hanya memainkan jarinya. Aku yakin yang dia pikirkan sama itu pasti sama denganku, penasaran.


"Meski begitu, seharusnya kau jangan sampai mencurinya. Kau bisa membacanya secara sembunyi-sembunyi dan bercerita padaku setelahnya."


Kalau dipikir-pikir, aku ini cukup bijak juga. Tiba-tiba saja IQ-ku bekerja dengan baik.


"Begini saja. Kau kembalilah ke asramamu. Kita bicarakan soal ini lagi nanti. Aku masih ada banyak pekerjaan."


"Baiklah. Terima kasih, Lia."

__ADS_1


Aku hanya tersenyum simpul kearahnya, berharap keadaan akan baik-baik saja sampai esok hari.


__ADS_2