Magic School

Magic School
Basic Annoying


__ADS_3

Pagi hari yang cukup cerah. Aku bangun dari ranjang dan bergegas mandi. Aku ingin pergi ke toko tanaman herbal untuk dibawa pulang. Kebetulan uang sakuku hanya cukup untuk membeli satu barang saja. Ada baiknya aku kembali dan mengurus pengunduran diri secepatnya. Aku akan meminta Ibu untuk mengurus semuanya dengan kepala sekolah saat aku kembali nanti.


"Padahal baru 4 hari aku disini, tapi uang saku sudah menipis."


Aku segera pergi ke toko tanaman herbal untuk hiasan di rumah. Ketika aku membuka pintu asrama, anak laki-laki menyebalkan kemarin berdiri didepan pintu. Tidak tahu sejak kapan dia berdiam diri disana.


"Apa maumu?"


"Santailah, kawan. Aku hanya numpang lewat."


"Aku bukan kawanmu. Minggir!"


"Hei, jangan marah begitu."


Tanpa menghiraukan anak menyebalkan itu, aku langsung pergi ke portal dasar untuk sampai ke lantai 4.


Sesampainya disana, terlihat begitu panjang antrian berbaris disana. Parah sekali hari ini. Aku sudah dibuat kesal oleh anak tadi dan sekarang harus mengantri berjam-jam demi mendapat daun hijau. Aku bingung dengan murid disini. Toko berjajar rapi diberbagai tempat, tapi hanya satu toko yang laku disini. Kalau masalahnya jauh itu bukan alasan untuk mengantri panjang seperti ini, aneh.


"Lia."


"Apa?"


"Kita ke Fine Dining Fierre, yuk!"


"Tidak. Terima kasih."


"Ayolah. Bukankah kemarin itu kau mau kesana, ya?"


"Uang sakuku sudah menipis. Aku akan segera pulang hari ini."


"Apa?!!"


Teriakan Chely yang tiba-tiba itu membuat seisi ruangan bergetar, sehingga semua orang disana mulai memperhatikan kami. Aku segera menarik Chely ke toilet wanita disampingku dan menutup mulutnya.


"Jangan teriak."


Chely melepas tanganku yang membekap mulutnya dengan paksa sambil cemberut. Ini benar-benar sifat langka yang tak sering aku lihat pada gadis manis dihadapanku.


"Kenapa pulang?"


"Maaf."


Tak ada kata atau kalimat yang tepat untuk menjelaskan keadaanku saat ini. Aku memang senang tinggal di asrama dan belajar disini. Hanya saja sesuatu hal yang mengganjal ini harus segera disingkirkan, tapi bagaimana?


"Jangan pulang, Lia."


"Tapi, aku harus."


Setelah antrian hilang didepan toko tanaman herbal, aku pergi meninggalkan Chely untuk menghabiskan sisa uang sakuku.


"Aku ingin--"


"Maaf, Nona. Kami sudah tutup."


"Apa??"


"Tanaman herbal yang kami jual sudah habis semua."


"Sial sekali aku."


"Datang lagi nanti."


"Baiklah."


Saat berbalik dari toko, aku melihat sebuah angka dengan persen dibagian bawah meja.


"Diskon 50%??"


"Oh, kami sedang membuka diskon dan akan berakhir minggu depan."


"O-oh, begitu."


"Besok masih ada, jadi kau bisa kembali lagi kemari."


"Hm, tentu."

__ADS_1


Aku bergegas pergi dari toko tanaman herbal dan turun ke lantai dasar melalui portal.


Sesampainya di lantai paling bawah, aku melihat Chely dan Hedro sedang bercanda bertiga didepan toko jus. Tunggu, apa aku bilang bertiga?


"Fisilia, kemarilah!"


Baru saja akan pergi darisana, Hedro sudah memanggilku duluan. Terpaksa mau tidak mau harus menghampirinya kesana. Aku yakin akan ada kericuhan di toko jus dan viral seantero gedung sekolah.


"Oh, kau yang namanya Fisilia, ya?"


"Hn."


Malas berbasa-basi dengan kawan Hedro, aku hanya berdeham tidak jelas padanya sebagai jawaban 'iya'. Hedro mempersilahkan aku duduk, tetapi tidak disamping Chely seperti biasa.


"Jadi, kau akan pulang hari ini?"


"Tidak."


"Sungguh??"


Hedro dan Chely terdengar bersamaan mengucapkan kata 'sungguh' sembari menggebrak meja. Aku yang sedikit terkejut hanya menanggapi ketidakpercayaan mereka dengan anggukan singkat.


"Hm, kenapa?"


"Aku tidak jadi membeli tanaman herbal."


"Untuk apa?"


Mereka bertiga terlihat begitu serius mendengarkan cerita singkatku yang tidak begitu penting setiap kalimatnya. Merasa risih dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh keduanya, aku memilih untuk menyatukan semua jawaban dari setiap pertanyaan mereka menjadi sebuah cerita pendek.


"Lebih baik tetap tinggal, Fis."


"Tidak bisa."


"Tapi, kenapa?"


"Ada alasannya."


"Apa itu?"


"Eh, m-maaf."


Apa? seorang pembuat onar meminta maaf? Mantra apa yang merasukinya saat ini.


"Ehm, hari ini kita akan belajar lingkaran sihir."


"Biar kutambah, pasti berhubungan dengan mantra sihir lagi."


"Tepat sekali."


Menyebalkan sekali sekolah sihir ini. Sudah tidak dapat ijazah, sekarang setiap pelajaran dan tes harus menguasai mantra sihir. Haruskah aku menjadi kepala sekolah saja supaya bisa menjadikan penjara ini menjadi surganya remaja. Lagipula tak ada aturan untuk menjadi kepala sekolah harus anak cerdas, ini kesempatan emas untukku.


"Kepala sekolah disini tidak harus anak cerdas, kan?"


"Aku rasa semua orang bisa menjadi kepala sekolah."


Sudah kuduga itu benar. Impian baruku adalah menjadi kepala sekolah disini. Jujur saja, aku hanya ingin membuktikan bahwa anak berlevel rendah bisa lebih baik.


"Wow, kau ingin menjadi kepala sekolah disini, ya?"


"Bukan urusanmu."


"H-hei, kalian. Sudah saling kenal, jangan bertengkar lagi."


"Aku tak mengenalnya."


"Kau pikir apa maksudku mengajakmu kemari?!"


"Aku kemari karena ajakan Hedro."


"Aku yang menyuruhnya mengajakmu! Berterima kasihlah padaku, bukan Hedro!"


"Kau pikir aku peduli?"


"Wow, kawan."

__ADS_1


Hedro mencoba untuk melerai kami, tapi usahanya gagal. Anak menyebalkan itu membuatku kesal hingga kami tak hentinya adu mulut. Aku kasihan pada penjual jus yang terlihat ketakutan dengan ekspresi waswas. Aku rasa dia takut kami menghancurkan toko jusnya.


"Dasar menyebalkan!"


"Gadis sialan kau!"


"Hentikan, ini tempat umum!"


Kami berhenti bertengkar setelah Hedro menggebrak meja dengan cukup keras. Aku memilih untuk angkat kaki dari sana untuk masuk kelas lebih awal.


Pelajaran hari ini hanya satu, karena Pak Jon tidak mengajar kelas. Jadi, kami langsung belajar lingkaran sihir bersama Bu Sen. Profesor disini sepertinya sangat berbakat. Buktinya sebagian besar kelas disini diajar oleh profesor yang sama setiap harinya.


"Ok, mulai."


"Abra!"


"Bagus!"


Murid disini mungkin anak cerdas semua. Kelihatannya mereka dapat menguasai mantra sihir dalam waktu sekejap. Aku memang tak berbakat soal sihir, tapi ada pelajaran yang dapat aku kuasai dalam sekali kedipan mata.


"Besok kita kembali ke ramuan level 1. Semoga berhasil dengan tes besok."


Aku tidak masalah dengan tes besok, karena meracik merupakan salah satu dari keahlianku.


"Bagaimana harimu?"


"Baik, kau?"


"Tentu saja."


Aku melihat dengan jelas keanehan dalam diri Chely. Tatapan kagum itu pernah aku lihat pada kawan lamaku, Keela. Dia terlihat seperti itu ketika sedang jatuh cinta. Selain dari meracik, aku juga ahli dalam membaca eksresi wajah seseorang.


"Bolehkah aku bertanya?"


"Silahkan."


"Sejak kapan kau mengenal Delu?"


"S-siapa?"


"Delu. Teman Hedro, ingat?"


Oh, jadi nama anak menyebalkan itu Delu. Aku memang tidak akrab dengannya, tapi mengenal dia rasanya tidak.


"Kami hanya tidak sengaja berpapasan."


"Benarkah?"


Merasa risih dengan pertanyaan yang diberikan oleh Chely, aku mencoba untuk membelokkan topik kearah yang lain.


"Kau akan pergi bersama Hedro lagi, kah?"


"Aku rasa tidak."


"Tidak biasanya."


"Aku mau tidur lebih awal hari ini. Kita ke sauna, bagaimana?"


"Setuju."


Kami pergi ke sauna untuk menghabiskan waktu istirahat. Karena Pak Jon tidak masuk hari ini, jam pertama digunakan Bu Sen untuk mengajar kelas lingkaran sihir.


"Ah."


Menyenangkan sekali rasanya bisa menghabiskan waktu bersama kawan baikku, Chely. Biasanya aku dan Keela belajar bersama hingga tengah malam. Sekarang waktunya sangat terbatas untuk melakukan setiap aktivitas.


"Rasanya segar."


"Iya, aku jadi mengantuk."


"Kalau begitu kembalilah ke asrama dan matikan lampunya."


"Tentu saja. Selamat malam, El. Hoamm.."


Aku masuk ke asrama untuk beristirahat. Jam sudah menunjukkan pukul 6 malam. Aku dan Chely sempat tertidur sebentar di sauna, tepatnya sangat lama. Setelah bersantai di sauna aku langsung tidur tanpa menunggu waktu tidur. Aku yakin besok akan jauh lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2