Magic School

Magic School
Secrets Revealed


__ADS_3

Hari ketiga di sekolah baru. Kali ini aku berniat untuk membersihkan asrama sebelum mandi. Sudah dua hari tinggal dan sisa uang sakuku tinggal 450 lagi, menyedihkan. Aku akan mencoba berhemat supaya tidak pulang cepat ke rumah. Kulihat antrian diluar sana sangat panjang sekali.


"Kalau aku pulang dan kembali lagi nanti, pasti asramanya sudah penuh semua."


Setelah selesai dengan urusan bersih-bersih, aku bergegas untuk mandi di pemandian wanita. Hari ini aku sedang malas pergi ke sauna mewah.


"Fisilia."


Setengah perjalanan ke pemandian terhenti oleh panggilan dibelakangku. Suaranya terdengar tidak asing.


"Oh, kau."


"Kenapa kau tidak pergi ke sauna?"


"Aku sedang malas pergi kesana."


Kami pun berbincang-bincang ringan selama perjalanan ke pemandian wanita. Gadis disampingku ini tak habisnya mengoceh dan berkicau. Sejujurnya aku merasa sedikit tidak nyaman, tapi apa boleh buat. Lagipula dia yang menghampiriku kemari.


"Aku akan pergi mandi."


"Sampai jumpa."


Beberapa jam telah kugunakan untuk menghabiskan waktu di pemandian. Aku malas untuk bertemu dan mendengar kicauan gadis itu lagi. Aku berharap diluar ada Chely yang sedang menungguku. Akan lebih baik jika aku kembali ke asrama dengannya untuk menghindari Neila.


Akhirnya selesai juga dengan urusan mandi. Aku keluar dan mencari sosok manis berkuncir dua, tapi tak menemukannya dimanapun. Ada baiknya jika aku segera kembali ke asrama. Berharap tak bertemu dengan gadis cerewet yang sok asik itu.


"Chely."


Akhirnya aku dapat menemui gadis manis itu dalam perjalanan ke asrama.


"Eh, aku mencarimu kemana-mana."


"Ehehe.. maafkan aku, El. Kau sedang apa disini?"


"Aku baru saja akan pergi ke asramamu."


Setelah bertemu dengan Chely, aku merasa sedikit lega. Selama perjalanan, kami membahas tentang pelajaran hari ini. Dia memberitahuku bahwa beberapa bulan lagi kami akan pindah ke kelas Sejarah Lv 2. Profesor juga memperintahkan kepada kami semua untuk mempersiapkan diri sebelum masuk ke level 2.


"Aku tak sabar lagi. Kira-kira aku bisa bertahan tidak, ya?"


"Apakah kau akan keluar dari sekolah sihir, Fisilia?"


"Hehe.. uang sakuku sudah mulai menipis. Oh ya, apa tadi kau bilang? Sekolah sihir?"


"Itu memang--"


"Hei, kalian! Segera masuk kelas!"


Saat sedang asyik berbincang, tiba-tiba seorang profesor mendatangi kami. Aku dan Chely segera turun dari lantai 2 untuk mengikuti pelajaran hari ini.


Di jam pelajaran pertama, kami pergi ke kelas kloning diri level 1. Disini mulai terlihat ganjilnya ada dimana. Mungkin maksud dari Chely itu memang benar ini adalah sebuah sekolah sihir. Tapi, bagaimana mungkin?

__ADS_1


"Ok, mulai."


"Klon."


Wushh~~


Sudah kuduga itu. Profesor disini sangat tegas dan profesional. Tentu saja, karena mereka adalah seorang penyihir. Itu sebabnya kenapa dari hari pertama sekolah aku merasa asing dengan materi yang dipelajari disini.


"Selanjutnya, kalian akan belajar klon ganda di level 2."


Pelajaran kedua, kami ditugaskan untuk membuat sebuah artikel mengenai elemen sihir. Tugas kali ini Bu Sen mengizinkan setiap siswa untuk membentuk kelompok masing-masing tiga orang. Aku memilih untuk bersama Chely saja. Orang ketiganya terserah siapapun itu asalkan dia dapat diandalkan.


"Hei, boleh bergabung?"


Ketika aku dan Chely sedang berdiskusi, ada seorang anak laki-laki yang menghampiri kami. Dia terlihat cukup keren. Kebetulan kami kurang satu orang untuk menjadi sebuah kelompok belajar. Aku mempersilahkan dia untuk bergabung dalam kelompok.


"Apa elemen yang akan kalian pilih?"


"Kami masih bingung."


"A-apa kau punya ide?"


"Bagaimana kalau elemen air?"


"Pfftt.. bagiku itu tidak cukup ekstrim."


Aku memang sangat menyukai sesuatu yang berbau ekstrim. Itu sebabnya kenapa aku menolak untuk memilihnya. Air sangat sering ditemukan dimana saja, bisa dikatakan itu terlalu mudah.


"Air itu terlalu sering ditemukan. Semua orang akan banyak juga yang memilihnya."


"K-kalau begitu. Elemen kegelapan saja, bagaimana?"


"Aku setuju. Lebih ke tantangan."


"Ide bagus, El."


Kami setuju dengan ide Chely. Disitu kami mulai menuliskan elemen kegelapan dan sesuatu yang berhubungan dengannya.


"Apa saja?"


"Warna."


"K-kekuatan."


Belum terbiasa dengan sekolah sihir, aku bingung harus memasukan pendapat dalam artikel tersebut. Secara disini diperlukan ilmu sihir dan aku tak memilikinya sama sekali.


"Kita mulai dengan ramuan."


"Ehm, bagaimana dengan jamur gaib?"


"Apa itu?"

__ADS_1


"I-itu sebenarnya materi di level 2. Kurasa tak apa jika kita masukkan kedalam artikel ini."


Tanpa putar otak lagi, aku segera menuliskan apa yang diucapkan oleh Chely. Aku yang tak memiliki ilmu sihir dan semacamnya, hanya menyimak apa yang mereka diskusikan berdua. Aku disini juga bekerja, sekedar menulis sebenarnya.


"Haduh.. otakku panas."


"Ehm, Fisilia. Apa kau ada ide?"


"Hah?"


Ketika sedang asyik berimajinasi, aku terkejut saat Chely menepuk bahuku dan bertanya. Padahalkan aku tidak tahu apa-apa disini. Aku saja baru tahu kalau sekolah ini adalah sekolah sihir. Dan sekarang ditugaskan untuk memberi pendapat mengenai elemen sihir yang sebelumnya tidak pernah kupelajari.


"M-maaf, El. Aku saja baru sadar kalau selama ini aku belajar di sekolah sihir."


"Apa?!!"


Mendengar teriakan itu, aku terkejut sampai menendang meja dihadapanku.


"Ouch! Kenapa?!"


Merasa kesal dengan apa yang anak laki-laki itu teriakan, tanpa sengaja aku menaikkan volume suaraku.


"Kau baru tahu ini sekolah sihir? Berasal darimana kau?"


Melihat ekspresi wajah anak laki-laki itu, aku menarik napas dan membuangnya perlahan. Aku mulai menceritakan kisah hidupku, mulai dari tempat tinggal dan sekolah lama hingga saat mendaftar ke sekolah sihir ini. Kedua orang dihadapanku terlihat kaget dan terdapat tatapan tak percaya.


"Keren."


"J-jadi, selama ini kau bukan Prodigy?"


"Apa maksudmu?"


Chely mengaku bahwa selama ini dia menaruh kecurigaan padaku. Dia mengira aku manusia dengan otak super cerdas atau yang biasa disebut Prodigy. Di sekolah sihir ini ada banyak tradisi dan aturan yang tidak aku ketahui. Chely dengan senang hati menjelaskan semua dengan sedikit bantuan dari anak laki-laki disampingnya itu.


Sekolah sihir berjalan layaknya sekolah pada umumnya. Hanya saja disini para murid Apprience akan belajar selama 1 tahun 8 bulan untuk bisa lulus dan mendapat gelar Mage Lv 1. Siswa biasa tak bisa menjadi profesor. Hanya murid dengan julukan Prodigy sajalah yang bisa menjadi profesor setelah lulus nanti, sulit juga.


"Aku mengira kau anak cerdas itu."


"Di sekolah lama nilai dan prestasiku adalah yang terbaik. Disini aku hanya Novice."


"Aku akan mengajarimu beberapa mantra sihir. Oh ya, namaku Hedro."


Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis. Sepertinya aku tidak berguna disini. Aku sebelumnya berharap bisa meraih gelar profesor, tapi kalau hanya murid cerdas saja yang mampu, untuk apa aku disini.


"Ehm, salam kenal. Aku Chely dan ini Fisilia."


"Salam kenal untuk kalian. Mulai besok kita harus bisa berteman baik."


Chely tersenyum ramah kearah Hedro sembari menenangkanku yang sudah mulai frustasi. Mungkin lebih baik aku pindah sekolah saja daripada pulang dengan membawa gelar tak berguna nanti. Aku tidak bisa kuliah jika hanya mendapat gelar saja. Aku harus mendapat ijazah dan juga rapot. Sekolah ini benar-benar konyol.


Hari ketiga di sekolah sihir berjalan cukup baik di awal dan buruk diakhir. Meski aku senang karena mendapat teman baru bernama Hedro, tapi tetap saja aku kesal dengan aturan dan tradisi konyol yang dibuat sekolah. Semoga saja hari esok berjalan dengan sangat baik.

__ADS_1


__ADS_2