
"Aku ingin pulang."
Hari ini kepala sekolah mengizinkanku untuk pulang. Sebelum pulang, aku ingin mengunjungi Teh Romantis. Sebelumnya, di tempat inilah kami menghabiskan waktu bersama. Kejadian kemarin kembali terbayang dalam ingatanku, menyenangkan. Tiba-tiba wajahku terasa memanas dan jantungku berdetak lebih cepat. Aku pun segera membuang semua ingatan tentang anak menyebalkan itu.
"Hei, Fisilia!"
Terdengar Chely memanggilku dari kejauhan. Dia menghampiriku dengan tergesa-gesa.
"Ada apa denganmu?"
"Hosh.. hosh.. itu, klinik."
"Klinik, maksudmu?"
"Ikut denganku!"
Chely menarikku dari kursi menuju asrama laki-laki. Mungkin dia sedang merindukan Hedro, sehingga malu menemuinya sendiri.
"Hosh.. hosh.. sudah cukup. Aku lelah sekali."
"Siapa yang menyuruhmu untuk berlari terbirit-birit seperti tadi?"
"Hosh.. ini darurat, kau tahu?"
Aku hanya diam mendengar ucapan tidak jelas darinya. Dia bilang darurat, tapi membawaku ke asrama laki-laki. Kalau begitu, apanya yang darurat?
"Kau terlambat. Dia sudah dibawa ke klinik."
"Bagaimana keadaannya?"
"Dia baik-baik saja. Beruntunglah, dia segera dibawa ke klinik."
"Syukurlah."
Aku sedikit bingung dengan obrolan mereka, sepertinya serius sekali.
"Siapa yang sedang kalian bicarakan? Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Ikuti aku!"
Jawaban yang Hedro berikan tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.
"Beristirahatlah, saya akan kembali saat kau sudah benar-benar pulih."
Terdengar seorang suster sedang berbicara dengan pasiennya. Mungkin, pasien itu yang dimaksud oleh Hedro dan Chely tadi.
"Baiklah. Terima kasih."
Tiba-tiba saja aku merasa tidak asing dengan suara pasien didalam. Tanpa meminta izin pada susternya, aku memberanikan diri untuk melihat pasien itu sendiri.
"Delu."
Betapa terkejutnya aku ketika masuk kedalam kamar pasien, ternyata itu Delu yang sedang berbaring lemah diatasnya.
"Eh, kau sudah datang."
"Saya permisi, selamat beristirahat!"
Aku segera menghampiri Delu untuk melihat keadaannya. Untunglah aku menyimak setiap percakapan Hedro dan Chely tadi, jadi aku tidak akan menjadi wartawan disini.
"Apa yang terjadi padamu?"
"Tidak ada. Ini hanya kecelakaan kecil."
Rasanya air mata ini akan segera meluncur dari pelupuk mataku, tapi dengan sekuat tenaga aku menahannya.
"Oh, begitu."
"Apa kau khawatir padaku?"
"A-apa maksudmu?"
"Kau terlihat sedikit pucat."
__ADS_1
"T-tidak ada. Beristirahatlah supaya kau bisa segera pulih."
Aku membalikkan badan dan keluar dari ruangan meninggalkan Delu. Lebih baik aku tidak terlalu mengkhawatirkannya.
"Hei, kau. Kemarilah!"
Tiba-tiba seorang suster yang tak jauh dariku memanggil. Aku pun menghampirinya.
"Ada apa?"
"Apa kau ada kelas hari ini?"
"Tidak. Aku akan pulang."
"Kebetulan sekali. Kami disini sedang membutuhkan seorang relawan untuk membantu."
"Apa?"
"Aku yakin kau mendengarnya dengan jelas. Aku memanggilmu kemari untuk meminta bantuan kecil."
Suster itu pun membawa keluar sebuah seragam putih bersih dan memberikannya padaku.
"Aku sedang ada urusan mendadak, jadi tidak bisa merawat pasien hari ini. Bisakah kau menggantikanku?"
"Tapi, aku tidak memiliki kemampuan medis."
"Tidak masalah. Aku akan memberitahukan beberapa tugas yang perlu kau lakukan selama aku tidak ada disini."
"Baiklah, dengan senang hati."
Kami pun pergi untuk berkeliling terlebih dahulu. Dia memberitahukan setiap tempat yang ada, beserta tugas yang harus aku lakukan. Selesai dengan tour singkat kami, ia pun pamit pergi. Sebenarnya, aku masih bingung dengan tempat disini.
"Tugas pertamaku adalah menyiapkan makanan untuk pasien."
Tugas ini cukup mudah untuk dilakukan. Aku segera pergi kebagian makanan yang tersedia disana. Kemudian, aku membawanya ke ruangan yang telah kucatat tadi.
"Ini dia.."
Tak kusangka ini akan terjadi. Ternyata, pasien yang kurawat saat ini adalah...
Dia memerintah bagaikan bos saja disini. Sepertinya aku harus kerja ekstra sabar. Aku pun segera menghampirinya dan menaruh makanan yang kubawa diatas meja.
"Apa kau tidak dengar ucapanku tadi? Suapi aku!"
"Kau bukan bosku! Apa hakmu memerintahku?"
"Ingat, aku pasien sekarang."
"Sialan!"
Tanpa pikir panjang, aku langsung mengangkat makanan itu dan mulai menyuapinya. Lihatlah, betapa menyebalkannya dia saat tersenyum licik seperti itu.
"Berhentilah menatapku!"
"Kenapa? Kau kan cantik."
"Makan saja!"
Dengan sengaja aku menyendok penuh bubur dan memasukkannya kedalam mulut Delu. Wajahnya kini mulai memerah, karena tidak dapat menahan muatan bubur dalam mulutnya.
"Apa kau ingin membunuhku?"
"Maafkan aku, Tuan. Kau terlalu menyebalkan untuk menjadi seorang pasien."
"Kau.."
Kali ini dia terlihat marah dan itu aku jadikan hiburan tersendiri. Menyenangkan rasanya bisa membalas si anak menyebalkan. Aku merasa puas kali ini.
"Ayo, buka mulutmu!"
"Tidak mau."
"Tuan, kau harus makan banyak supaya cepat sembuh."
__ADS_1
"Aku sudah sembuh."
Dia kelihatannya benar-benar marah padaku. Tapi, menjaganya sudah menjadi tanggung jawabku.
"Satu lagi saja, ya?"
"Baiklah."
"Bagus.."
"Tapi, aku tidak mau kau menyuapiku dengan menggunakan sendok."
"Oh, apa kau mau aku menggunakan sumpit?"
"Dasar konyol. Aku tidak menyuruhmu menggunakan sumpit, tapi.."
Tiba-tiba saja, tangannya menyentuh daguku. Kini, aku mulai merasa kepanasan akibat perlakuannya padaku.
"A-apa kau ingin disuapi dengan daguku?"
"Bodoh, aku ingin kau menyuapiku dengan mulutmu!"
Kalimatnya memang terdengar tidak santai, tapi tatapannya terlihat mengancam jika aku menolak.
"A-aku tidak mau! Meskipun kau sekarang pasien, kau tidak seharusnya melecehkan seorang suster imut sepertiku!"
"Hm, imut ya?"
Tidak seperti Delu yang kukenal, kali ini tatapannya terlihat seperti hewan buas yang akan menerkam mangsanya. Tapi demi harga diri, aku harus berani menghadapinya.
"Y-ya, kau pikir saja sendiri. Aku pergi !"
Tanpa basa basi lagi, aku segera merapikan nampan yang kubawa tadi untuk dikembalikan ke tempat asalnya. Tapi, tiba-tiba saja Delu menarikku keatasnya. Untunglah tidak terjadi kecelakaan piring pecah.
"A-apa yang kau lakukan?!"
Aku mencoba untuk melepaskan diri darinya, tapi itu sia-sia. Dia itu lelaki, tentu saja aku kalah kuat darinya.
"Aw. Kau melukai ku, sayang."
"Lepaskan aku, bodoh!"
Sekuat apapun aku mencoba untuk meloloskan diri, tetap saja tidak berhasil. Meski dia sedang sakit dan terbaring lemah saat ini, tenaganya tidak ada yang berkurang sedikitpun. Dia mulai menarikku semakin dekat dan tanpa kusadari, ternyata dia mengincar bibirku. Dengan sengaja aku menggigitnya dan menarik diri.
"Dasar monster! ******** kau! Aku tidak mau mengurusmu lagi !"
Setelah turun dari atasnya, aku pun keluar tanpa membawa nampan berisi makanan itu. Sudah cukup kesal dengan perilakunya hari ini. Sebelumnya dia menyebalkan, tapi disana aku juga melihat sikap manisnya. Dan sekarang, dia terlihat seperti hewan buas yang kelaparan.
Selesai dengan semua urusan klinik, suster pun kembali. Aku langsung mengembalikan seragam yang ia berikan padaku dan mengucapakan terima kasih.
"Eh, tunggu! Ini untukmu, terima kasih sudah menjaga pasienku."
"Oh, tak apa. Aku melakukannya dengan senang hati."
"Terimalah, aku memaksa."
"Ehm, baiklah. Sekali lagi terima kasih."
"Terima kasih kembali."
Suster itu baik sekali. Semoga saja dia memiliki cukup kesabaran untuk menghadapi pasiennya itu. Hari ini aku tidak jadi pulang lagi, karena suster itu telah berbaik hati dengan memberi uang sebanyak 1200 padaku. Ini akan cukup untuk satu bulan disini, atau mungkin lebih.
"Selamat malam. Apa istirahatmu cukup?"
"Oh, suster. Aku sudah lebih baik sekarang."
"Sepertinya gadis itu melakukan tugasku dengan baik."
"Dia hanya pengganti, begitu?"
"Iya. Mohon maaf, tadi saya ada sedikit urusan. Sekarang saya permisi."
Setelah suster itu pergi, Delu hanya memandang langit malam yang penuh bintang. Terlihat sebuah senyuman mulai terukir diwajahnya yang tampan. Ia menyentuh bibirnya sendiri sembari terkekeh kecil.
__ADS_1
"Gadis itu benar-benar manis. Ah, apa yang telah merasukimu Delu? Kau ini parah sekali."