
Pagi hari kembali menyinari kehidupan suramku. Aku segera bangun dari atas ranjang untuk pergi mandi. Hari ini pasti aku akan dihukum oleh profesor karena meninggalkan kelas tanpa surat izin.
Tokk.. tok.. tokk...
Tidak seperti biasa, tiba-tiba aku merasa seperti mendengar suara ketukan pintu.
Tokk... tok.. tokk..
Suara dari balik pintu itu kembali berbunyi, berarti aku sudah sadar seutuhnya dari tidurku. Aku pun menghampiri gagang pintu dengan malas. Sekarang dihadapanku telah berdiri seorang lelaki berseragam, Delu.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Aku baik-baik saja."
"Baguslah kalau begitu."
Tiba-tiba ingatanku tenggelam ke masa sebelum hari ini. Tanpa disadari, mataku menatap kearah Delu. Dia yang melihatku menatapnya melambai-lambaikan tangan.
"A-apa ada yang salah denganku?"
"Tidak. Aku masuk dulu."
Saat akan berbalik badan, Delu menarik tanganku keluar dari kamar.
"Hei, apa yang kau lakukan?"
"Ikut saja denganku."
Aku pun pasrah dan memilih untuk mengikutinya. Ia mengajakku pergi ke Teh Romantis yang tidak jauh dari asrama perempuan.
"Kenapa kau mengajakku kemari?"
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu."
Tiba-tiba saja wajahku terasa panas seperti berdiam diri dihadapan api unggun. Aku menggelengkan kepala, mencoba untuk membuang pikiran anehku itu jauh-jauh.
"Apa kau mau teh lemon atau es teh?"
"Terserah."
"Aku tidak menemukannya dalam menu."
"Dasar bodoh."
Delu terkekeh geli kearahku. Aku hanya bisa diam mengalihkan pandangan darinya. Saat aku memandang keluar jendela, terlihat Chely dan Hedro sedang jalan berdua. Mereka sepertinya sangat bahagia.
"Apa yang kau lihat diluar sana?"
"Tidak ada."
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pesanan kami datang juga. Aku merasa kurang bernafsu makan, jadi kusingkirkan teh itu. Delu yang melihatku langsung menurunkan cangkir teh yang hampir diminumnya.
"Ada apa?"
"Tidak ada."
"Apa kau tidak menyukainya?"
"Aku hanya sedang tidak bernafsu makan."
"Benarkah?"
Delu langsung menarik lenganku keluar darisana meninggalkan dua cangkir teh yang masih terisi penuh.
"Hei, apa yang kau lakukan?"
"Ikut saja."
Merasa tenagaku kurang kuat, aku hanya bisa mengekorinya dari belakang tanpa mempedulikan sekitar.
"Ayo, masuklah!"
Delu mengajakku ke sebuah tempat yang terlihat asing, tapi kelihatannya cukup bagus. Tertarik dengan apa yang kulihat, aku pun mengikuti Delu untuk masuk kedalam.
"Tempat apa ini?"
__ADS_1
"Ini adalah Duel Sihir."
"Apa itu?"
"Lihat saja nanti."
Tett..teretetett... tetet...
Terdengar suara terompet mulai dibunyikan. Dari balik tirai disana, keluarlah seorang pria tua yang sedang membawa toa.
"Para hadirin sekalian, duel sihir akan segera dimulai !"
Para penonton bersorak riang sembari mengangkat papan yang bertuliskan nama para petarung kali ini. Aku tidak mengerti, jadi hanya bisa duduk diam di kursi penonton.
"Inilah.. para juara-juara bertahan kita!"
Tiba-tiba, muncul seorang pria dengan jubah penyihir dari atas karpet. Itu hebat sekali, mungkin aku bisa mengikuti duel sihir ini saat sudah lulus kelas nanti.
"Marilah, kita sambut mereka semua!"
Teriakan demi teriakan mulai menghancurkan gendang telingaku. Delu yang melihatnya langsung menyodorkan penutup telinga.
"Terima kasih."
Aku mulai memasangkannya pada telingaku dan kembali fokus pada ocehan sang pembawa acara.
"Baiklah, mari kita absen! Disini ada Jophiar sang ahli telekinesis!"
Jika diperhatikan, penampilannya cukup menarik. Tapi, kurasa dia terlihat lebih bagus lagi jika tubuhnya tertutupi oleh jubah. Kulihat para penonton dibelakangku ini mulai tergoda dengan postur tubuhnya yang "wow".
"Selanjutnya, disini kita memiliki sang ahli teori, Nona Meneth!"
Kupikir maksudnya adalah kacang. Tak kusangka, ternyata penyihir seperti dia bisa diterima juga dengan penampilan yang kurang sopan seperti itu.
"Ada lagi idola para wanita, yaitu Gebson sang ahli waris."
Pertandingan macam apa ini? Kupikir dia lebih hebat dari yang lain, tapi kemampuanpun tidak ada hanya pewaris. Pantas saja menjadi idola para wanita konyol, materialistis.
"Dan satu lagi pria sempurna, yaitu Kuroku sang ahli membuat zombie!"
"Terakhir, kejutan untuk semuanya. Disini kita memiliki dua orang murid lulusan Lv 1 yang akan mengikuti duel sihir tahun ini !"
Tiba-tiba suasana mulai menegang, setelah datang sepasang penyihir lagi. Kemunculan mereka membuat lampu sorot menari diatas keduanya, aku jadi penasaran.
"Mari kita sambut, ini dia para generasi muda kita, Hedro dan Chely!"
"Apa-apaan ini?!"
Aku teriak sembari menggebrak kursi. Untunglah disana terlalu berisik, sehingga tidak ada satupun yang mendengarnya, kecuali Delu.
"Ada apa, Fis?"
"Marilah, kita mulai duel ini !"
Aku yang terkejut dengan pemandangan itu hanya melongo tidak percaya.
"Hei, kau kenapa?"
"Ah, a-aku baik."
Sekarang aku mengerti maksud dari kedekatan mereka saat itu, ternyata ini yang direncanakan keduanya.
Sepanjang pertandingan duel, aku hanya melamun dan tidak memperhatikan tiap trik yang mereka lakukan disana. Aku hanya memandang kosong kearah lain panggung.
"Pemenangnya adalah Jophiar!"
Prokk... prok..prokk..
"Akhirnya kita sampai diakhir acara, dimana kedua penyihir kecil akan bertanding!"
"Ah, ini dia."
Aku mulai memperbaiki posisi dudukku menjadi tegak. Kedua peserta terakhir mulai bermunculan dari atas karpet. Aku mulai fokus memperhatikan mereka berdua dengan saksama, khawatir terjadi pertumpahan darah.
"Aku akan mengalahkanmu."
__ADS_1
"Oh ya, kita lihat saja nanti."
"Menyerah atau kalah?"
"Belum coba belum tahu."
Duel pun dimulai. Sebelum itu, aku melihat mereka sedang berbisik. Kini, rasa khawatirku mulai menggebu.
"Apa mereka akan baik-baik saja?"
"Tentu, tenang saja. Ini hanya duel sihir, jadi tidak akan ada yang terluka."
Meski begitu, kulihat mereka seperti hewan buas yang ingin saling membunuh satu sama lain. Tak kuasa menahan kekhawatiran dalam hatiku, aku langsung turun dari kursi penonton.
"Hei, apa yang kau lakukan?!"
Aku mengabaikan Delu, bahkan aku mengabaikan semua penonton yang meneriakiku karena sudah menerobos area duel.
"Matilah kau!"
Aku berlari sekuat yang aku bisa untuk menghentikan duel ini. Sepertinya jika aku tidak datang, salah satu dari mereka pasti akan berakhir di klinik.
"M-menjauhlah, a-aku peringatkan kau! Aku, aku punya.."
"Apa? Kau punya otak cemerlang?"
"A-aku.."
"Kalau begitu, berikan!"
Hedro mulai mengangkat tongkat sihirnya keatas dan mengarahkannya pada Chely.
"Matilah kau!"
"Hedro, hentikan!"
Sringg..!!
"Jauhkan itu.. sekarang!"
"Fis.. Fisilia! Apa yang kau lakukan disini?!"
Hedro mulai menarik kembali tongkat sihirnya. Syukurlah, aku belum terlambat untuk menghentikan Hedro. Tempat ini sudah seperti alam liar, untuk bertahan hidup kita harus memakan atau dimakan.
"Kenapa kau ada disini?"
"Apa kau sudah gila?! Chely bisa saja berakhir di klinik, jika aku tidak menghadangmu!"
Saat aku menatapnya aku seperti tidak melihat Hedro, yang kulihat sekarang adalah makhluk buas menyeramkan. Tiba-tiba, pupil matanya membesar dan makhluk itu sudah tidak terlihat lagi.
"Chely.. a-aku benar-benar mi--"
"Wah, sepertinya kita kedatangan tamu atau bisa dibilang peserta baru."
"Fisilia, pergi darisana!"
Terdengar dari kejauhan Delu menyuruhku keluar dari area, tapi sudah terlambat. Sepertinya ini tempat terlarang, buktinya sesuatu semacam perisai pelindung mulai menutupi jalan keluarku.
"A-apa yang..."
"Para penonton sekalian, sepertinya kita memiliki satu peserta lagi disini ! Mari kita sambut.. siapa namamu, Nak?"
Terkejut dengan apa yang ditanyakan pria tua dihadapanku ini, aku dengan cepat memberi nama palsu padanya. Aku mengartikannya sebagai misteri kimia.
"Chemistery."
"Apa kemampuanmu?"
"Ahli dalam meracik ramuan, obat juga memiliki sertifikat resmi sebagai seorang profesor cilik."
Pembawa acara itu terlihat kebingungan dengan apa yang kukatakan. Aku hanya ingin sedikit sombong saja, dia tidak boleh meremehkan seorang Fisilia anak dari Gulion Demonty.
"Ekhem, baiklah. Mari kita sambut, gadis bersetifikat y-yang ahli dalam bidang k-kimia dan... murid terbaik dalam kelas ramuan..!"
Sudah kuduga, dia akan kalah denganku. Jangan sampai aku mengajakmu duel, Paman. Kulihat para penonton mulai terdiam mendengar kata terakhir dari pria tua ini. Aku hanya terkekeh melihat tingkah konyolnya di area duel.
__ADS_1
"Apa kau yakin masih mau menyuruhku untuk bertanding, Paman?"