Magic School

Magic School
Meeted Him Was Bad Luck


__ADS_3

Hari ini aku merasa tidak semangat untuk bangun pagi. Biasanya aku bangun 5 menit lebih awal, tapi sekarang kurang dari 3 menit. Semalam tidurku kurang nyenyak. Kejadian kemarin membuatku ingin segera angkat kaki dari sekolah ini. Aku segera bangkit dari ranjang berniat untuk mandi.


"Selamat pagi, Lia."


Tak seperti biasa, Chely menyapaku dengan ceria tanpa grogi seperti sebelumnya.


"Pagi."


"Hedro mengajak kita untuk pergi ke perkemahan. Maukah kau ikut dengan kami?"


"Kapan?"


"Harusnya pagi ini, tapi diundur jadi jam istirahat pertama."


"Baiklah."


Aku pergi ke sauna dan meninggalkan Chely didepan pintu begitu saja. Ia yang melihatnya hanya cemberut, ekspresi langka Chely.


Setelah selesai dengan urusan di sauna. Aku kembali ke asrama untuk mengambil ramuan yang ditugaskan Bu Sen dua hari lalu. Kelas ramuan akan segera dimulai dan aku tidak boleh terlambat. Tapi, apapun yang terjadi aku hanya akan lulus tanpa mendapat nem.


"Kita akan mencobanya pada--"


Pelajaran pertama dimulai seperti biasa. Berjalan dengan baik dan akan sangat baik jika aku memperhatikannya sedari tadi. Kejadian kemarin membuatku malas mengikuti kelas, bahkan membaca pun enggan. Aku juga tidak tahu kapan akan pulang. Uang sakuku hanya berkurang sedikit untuk saat ini.


"Besok akan mulai tesnya."


Kelas pertama selesai. Aku tidak terlalu memperhatikan semuanya dengan sangat detail, tapi aku yakin Chely mendengarnya dengan sangat jelas. Aku jadi bisa menanyakan materi hari ini padanya dan tes besok.


"Kau terlihat pucat. Kenapa?"


"Besok ada tes apa?"


"Bu Sen bilang besok kita akan mulai tes meracik obat."


Sudah kuduga. Dia memang pendengar yang baik.


"Hai, kalian."


"Hedro."


"Mau makan atau minum teh?"


"Aku tidak begitu lapar. Bagaimana kalau minum teh?"


"Boleh."


Aku dengan santai hanya mengangguk setuju pada pilihan Chely. Hari ini kelihatannya Chely sedang amat sangat senang sekali. Aku bisa menduga itu sejak kami mulai mengenal Hedro. Aku akui dia tampan dan cukup tinggi 2 cm dariku, kalau dikira-kira. Intinya aku bangga dengan tinggi badanku yang tidak jauh darinya. Jika dibedakan dengan Chely, tingginya hanya berbeda 4 atau 6 cm dari Hedro.


"Silahkan duduk."


"Terima kasih."


Aku merasa senang karena saat ini Chely berkata tanpa rasa grogi seperti biasanya. Dia terlihat lebih ceria dan bersahabat. Aku berpikir kalau dia hanya grogi saat dekat dengan anak cerdas. Lihatlah, setelah dia tahu aku bukan murid cerdas, dia bersikap ramah sekali padaku.


"Bulan depan kita pindah level 2."


"Iya, aku sudah tidak sabar."


"Bagaimana dengan artikelnya?"


"Sudah siap."

__ADS_1


Aku yang tak begitu menyimak perbincangan mereka berdua hanya mengangguk menanggapi keduanya.


"Lia, apa artikelnya sudah kau selesaikan?"


"Hah?"


"Apakah kau sudah mengisi bagian kesimpulannya?"


"Oh, soal itu. Aku sudah selesaikan semuanya. Apa perlu dihias?"


"Itu lebih bagus menurutku."


"Baik. Aku kemarin sekalian menghias artikelnya dengan beberapa gambar."


"Kerja bagus, Lia."


Tak tahu kenapa, aku merasa senyum tipis mulai terbentuk di bibirku. Rasanya senang sekali bisa bekerja sama dengan mereka. Aku jadi rindu sekolah lama.


"Jangan sedih, Lia."


"Kami akan membantumu supaya bisa menjadi Prodigy."


"Kalian konyol. Aku tidak bisa jadi cerdas jika tidak kerja keras dalam belajar."


Merasa kesal dengan ucapan Hedro, aku berpamitan untuk kembali ke kelas lebih awal. Disini sama sekali tidak ada ujian tertulisnya. Sekolah ini hanya memberi ujian lisan dan praktek saja. Aku lebih memilih ujian tertulis daripada praktek terus menerus seperti ini. Di sekolah lama ujian praktek pasti selalu dilakukan secara berkelompok, tapi disini individu.


Pelajaran kedua. Kali ini profesor yang mengajar adalah Pak Bet. Kami belajar di kelas Ilmu Kimia Lv 1 untuk latihan meracik obat yang akan di tes oleh Bu Sen besok. Hal terbaiknya ialah aku cukup mahir dalam ilmu kimia. Sebelumnya aku pernah mengikuti olimpiade IPA di sekolah lama. Aku pernah mendapat piala, medali dan piagam. Sudah banyak olimpiade yang kuikuti hingga mendapat gelar profesor cilik.


Mengingat masa-masa di sekolah lama membuatku ingin kembali dan mempertahankan apa yang sudah kumiliki, tapi semua itu mustahil.


"...dan selesai. Jangan lupa ditutup supaya tidak tumpah."


"Seperti ini. Warnanya harus dilihat juga."


Setelah jam pelajaran selesai, aku langsung menghampiri meja Chely dan menanyakan materi sebelumnya. Dengan teliti aku memperhatikan dan mengikuti langkah demi langkah cara meracik obat.


"Seperti ini kan."


"Kerja bagus, Lia."


"Hore!"


Merasa bangga dengan hasil karyaku, dengan cepat aku mencatat semuanya dengan sedetail-detailnya supaya tidak lupa. Lumayan juga ilmunya bisa diulang lagi di rumah.


"Hei, kalian sedang apa?"


"Aku sedang mengajarinya meracik obat."


"Apa dia tak paham?"


"Dia hanya terlalu semangat hingga tak memperhatikan profesor."


"Pfft.. ceroboh. Hei, kalian ada rencana hari ini?"


Aku yang masih memperhatikan tiap bahan yang sebelumnya telah dicampurkan, tak menggubris apa yang ditanyakan oleh Hedro.


"K-kami belum ada rencana."


"Kita renang saja, bagaimana?"


Setelah semua bahan telah kucatat dengan detail dan tidak ada yang terlewat, aku langsung merapikan meja.

__ADS_1


"Eh, Hedro. Apa yang sedang kau lakukan disini?"


"...."


"Kami mau!"


Tiba-tiba Chely menarik tanganku keluar dari kelas ilmu kimia. Kami berkeliling di lantai 3 untuk mencari hiburan.


"Nah, itu dia."


Hedro menunjuk kearah kolam renang dan menarik kami berdua kesana. Aku yang terkejut langsung rem mendadak hingga menimbulkan tabrakan hebat. Untung saja, murid yang melintas tidak banyak dan terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.


"Aku tidak mau berenang."


"Tapi, kan--"


"B-bagaimana kalau ke toko tanaman herbal?"


"Pfft.. membosankan."


"Hm, bagaimana dengan pertanian?"


"Tidak mau."


"Kantor pos?"


"Itu bahkan bukan tempat hiburan."


Sibuk dengan pikiran masing-masing untuk memilih tempat hiburan, aku melihat-lihat sekitar lantai 3 yang cukup ramai. Terlalu banyak toko dan beberapa ruang lain. Aku jadi ikut bingung mau kemana saat ini.


"Hei, Hedro."


"Hei, kawan."


Tiba-tiba seseorang yang terlihat tak asing bagiku menyapa Hedro dengan akrabnya. Tentu saja, anak laki-laki itu si pembuat onar.


"Apa yang kau lakukan disini?"


"Hanya mencari hiburan. Oh, kenalkan Fisilia dan Chely teman belajarku."


"Eh, kau."


"Apa?!"


"Kalian saling kenal?"


Pertanyaan Hedro membuatku mual. Aku tak mungkin mengenalnya sebagai teman, tapi kalau pembuat masalah tentu itu dia.


"Tidak mungkin. Aku tak mengenalnya sama sekali."


"Kau pikir aku mengenalmu?"


Terjadilah adu mulut antara aku dengan teman Hedro.


"Hei, kalian! Jangan bertengkar."


"Dasar menyebalkan. Minggir kau!"


Aku menabraknya dengan sengaja dan menginjak portal dengan kasar untuk kembali ke asrama. Gara-gara dia kami tidak jadi bersenang-senang disana. Padahal, aku tertarik dengan peramal tadi. Mungkin aku sedang sial saat ini hingga lupa kalau aku sedang bersama Chely. Semoga dia tak marah karena aku meninggalkannya di lantai 3.


"Maafkan aku, El."

__ADS_1


__ADS_2