
Akhirnya, semua tugasku sudah banyak yang selesai dan hanya tinggal beberapa materi lagi yang perlu kukerjakan. Waktu pengumpulannya pun sudah hampir dekat. Aku harus bisa menyelesaikan semua ini dengan secepatnya.
"Setelah ini, lanjut ke.."
"Halo, penghuni asrama!"
Ketika sedang serius mengerjakan tugas, tiba-tiba dari luar pintu terdengar suara Chely yang memanggilku. Ini merupakan salah satu kebiasaan langka yang pernah dia lakukan. Biasanya kan dia selalu menerobos masuk tanpa izin, menganggap asramaku sebagai rumahnya sendiri.
"Masuk saja, El. Pintunya tidak dikunci."
"Baiklah."
Chely pun masuk sembari membawa sebuah buku tebal. Mungkin dia ingin mengajakku belajar bersama.
"Apa kau ingin belajar bersamaku?"
"Tidak."
"Lalu, mengapa kau membawa buku kemari?"
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."
Chely duduk disampingku. Dia membuka buku tebal yang ada ditangannya itu untuk memperlihatkan isinya padaku.
"Siapa mereka?"
Ia menceritakan sejarah mengenai sekolah sihir dari awal dibangun hingga berjaya seperti sekarang ini.
Selama Chely mendongeng, aku memperhatikannya dengan begitu serius. Dalam cerita Chely, aku cukup tertarik dengan kisah para penyihir yang berencana untuk membangun sebuah sekolah sihir. Tapi, mereka tidak ingin bermodal banyak.
Di zaman dahulu...
Disebuah padang pasir yang sangat luas, terdapat sebuah Toko Roti. Banyak orang yang sering berkunjung kesana hanya untuk menemui anak gadis sang penjaga toko.
"Selamat datang, Tuan. Ada yang bisa kubantu?"
Sayangnya, para pengunjung yang datang tidak pernah bersikap ramah pada penjaga tokonya. Mereka selalu berkata kasar dan tidak sungkan untuk melakukan kekerasan. Tapi dikarenakan sifat buruk para pelanggannya, anak gadis dari penjaga toko itu pun mengusir mereka semua darisana.
"Ayah, apa kau baik-baik saja?"
"Iya. Ayah baik-baik saja."
"Mereka itu sangat jahat. Beraninya berlaku kasar pada seorang kakek tua sepertimu."
"Sudahlah. Lagipula, mereka hanya pelanggan yang berkunjung."
"Ayah. Jangan begitu!"
__ADS_1
Gadis yang bernama Linea itu merasa kesal atas perbuatan para pelanggannya yang begitu kasar terhadap Ayahnya. Linea dari awal tidak pernah tertarik dengan salah satu pelanggan yang menjadi langganan di toko itu. Tapi mereka terus saja mengejarnya, meskipun sudah ditolak berkali-kali oleh Linea.
Pada siang hari yang cerah, Linea berniat untuk pergi membeli gula. Ayahnya sudah terlalu tua untuk pergi keluar rumah. Kulitnya yang keriputnya itu sudah pasti tidak akan tahan jika terpapar oleh sinar matahari langsung, meski hanya beberapa menit saja. Dia bisa hangus.
"Aku pergi dulu, Ayah."
"Baiklah. Hati-hati, Nak."
"Ayah tidak perlu khawatir. Aku hanya pergi keluar sebentar."
Selama di perjalanan, tidak ada apapun yang mengganjal disana. Tetapi, tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri semua.
"A-ada apa ini? Perasaan matahari sangat terik. Kenapa aku bisa merinding, ya?"
Linea segera mempercepat langkahnya. Sesampainya di tempat tujuan, dia sudah tidak merinding lagi. Ia pun langsung menuju kasir disana.
"Permisi. Aku ingin membeli gula."
"Tentu, Nona."
Penjual itu pun memberikan apa yang diminta olehnya. Setelah mendapat apa yang diinginkan, ia pun segera kembali ke toko Ayahnya.
Selama perjalanan pulang, perasaan tadi kembali dirasakan Linea. Merasa tidak nyaman, Linea pun melangkahkan kakinya lebih lebar supaya bisa cepat sampai di toko. Semakin lama, perasaannya semakin tidak enak. Ia pun berlari dengan kencang. Tapi, tiba-tiba...
"Mm.. mm.."
Seseorang dengan sengaja membekap mulut Linea dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius. Alhasil, Linea pun pingsan dan dibawa pergi oleh pria misterius itu.
Kembali ke masa sebelumnya...
"Apa yang terjadi pada gadis itu setelahnya?"
"Dia diculik oleh orang misterius yang diperkirakan bahwa itu adalah salah satu pelanggan di toko Ayahnya."
"Kasihan sekali. Apa dia bisa ditemukan?"
"Aku tidak tahu. Hanya itu saja cerita yang aku ketahui. Sisanya kau bisa tanyakan sendiri pada Hedro."
Aku hanya mengangguk singkat. Kisahnya terdengar menarik, tapi sayangnya Chely tidak bisa menceritakan semuanya secara detail.
Chely kembali membuka lembaran demi lembaran untuk mencari tahu lebih dalam lagi. Aku sempat bertanya pada Chely mengenai foto-foto yang ada di samping buku itu.
"Ini album foto mini. Disini tercantum banyak foto mahasiswa yang telah lulus dengan gelar seorang penyihir dan profesor."
Kulihat disana ada foto seorang profesor muda yang pernah ia temui di ruangan Bu Sen.
"Kalau boleh tahu, siapa dia?"
__ADS_1
Aku menunjuk kearah foto yang dimaksud. Memang sedikit buram, tapi cukup jelas untuk dilihat.
"Oh, ini Kak Julz. Dia adalah salah satu dari profesor muda di sekolah kita. Dia juga memiliki banyak penggemar wanita, lho."
"Sungguh? A-aku tidak pernah mengetahuinya. Pantas saja, sekalinya dipanggil Bapak langsung mengelak."
"Dia itu masih muda. Sudah pasti tidak akan nyaman dipanggil seperti itu, Lia."
Chely kembali membuka lembaran pada album mini itu. Kami melihat foto para profesor yang saat ini masih bertugas. Kulihat disana ada Bu Sen, Pak Jon, dan para profesor tua lainnya. Kalau dilihat-lihat lagi, Pak Jon cukup tampan saat muda dulu.
"Mereka pasti alumni sekolah."
"Iya. Tapi, mereka masih tetap mengajar di sekolah ini."
"Apa tugas para profesor muda ditentukan oleh profesor tua?"
"Tidak juga. Biasanya tugas mereka itu tergantung pada keahlian masing-masing."
Kalau aku seorang Prodigy, pasti aku akan ditaruh di kelas Ilmu Kimia Lv 1. Secara kan, keahlian terbaikku ada disitu.
"Lia, apa benar kau ingin menjadi seorang profesor?"
"Tentu saja. Itu pun kalau aku bisa."
Pasrah dengan takdir yang sudah ditentukan, aku hanya bisa menghela napas panjang. Tidak apa jika aku tidak menjadi profesor disini, setidaknya aku bisa menjadi kepala sekolah. Itu tidak buruk, kan?
"Wah, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Kita keasyikan mengobrol hingga tidak ingat waktu, ya?"
"Heheh.. iya. Apa kau tidak ada kelas hari ini, El? Kelihatannya kalian sangat santai belakangan ini."
"Kalian..?"
"Maksudku, kau dan Hedro."
"Oh, itu. Kami memang sudah menyelesaikan semua tugas sekolah, mulai dari Sejarah, Ilmu Kimia, Ramuan, Lingkaran Sihir, dan materi lainnya."
"Sungguh?"
"Aku tidak bohong. Kau bisa menanyakannya pada Hedro kalau kau tidak percaya."
Akhirnya, aku hanya bisa mengangguk-angguk tanda percaya. Belakangan ini Hedro tidak terlihat dimanapun. Ke asrama saja sudah tidak pernah lagi.
"Kira-kira, dimana Hedro sekarang?"
"Mungkin dia sedang ada urusan di tempat lain."
Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja aku ingin menanyakan keadaan Delu saat ini. Tapi, aku tidak mungkin menanyakannya pada Chely. Dia itu kan mulut ember, tidak pernah bisa menyimpan rahasia. Lebih baik aku simpan saja sendiri pertanyaan ini untuk nanti atau sampai dia kembali dengan sendirinya.
__ADS_1