Mama, Aku Mencintaimu!

Mama, Aku Mencintaimu!
Jujur


__ADS_3

Hari semakin panas, setelah menyelesaikan makan siang dan shalat dzuhur, tiba-tiba Ifah menghampiri mama yang sedang duduk bersama bapak di lantai ruang tengah.


"Ma.. pa.." panggil kak Ifah dengan nada lembut


"Ma.. pa.. aku mau izin, besok aku... ada dinas lagi, tapi untuk pertama kalinya aku dinas keluar negeri" ragu-ragu


"Keluar negeri? Kemana, Fah? Baru juga kamu pulang, sudah mau pergi lagi?" lirih mama


"Ini kesempatan ma, aku yang didelegasikan oleh kantor, lagi pula selama bekerja disana aku hanya di kirim ke luar kota saja"


"Sebenarnya aku sudah dikabarkan sejak 2 hari yang lalu, tapi aku tidak ingin membicarakannya dulu dengan kalian" tambah kak Ifah


"Kamu mau kemana fah?" lirih bapak


"Ke Bangkok pah"


"Ke Bangkok? Thailand? Berapa hari?" tanya mama


"Hanya 1 minggu kok ma, hanya ke Thailand kan, bukan ke Eropa, jadi mama tidak perlu khawatir" Jawab Ifah tersenyum dan memegang tangan mamanya


"Ma, nanti setelah pulang, kita pergi ke taman buatan yang berada di dekat rumah Sinta ya" ajak Ifah, untuk menenangkan khawatir mama nya. Sinta adalah adik perempuan mama nya, karena seumuran dengan Ifah, dia hanya memanggil nama bukan tante seperti adik mamanya yang lain.


"Ya, memang kamu sudah janji sama mama kan mau ke sana" ketus mama dan membuat mereka tertawa bersama.


Dikamar, Nina sedang berbaring sambil memainkan handphone nya, ia terlihat gusar karena mendapatkan pesan teks, yang berisi ajakan keluar untuk pergi menonton bioskop, pesan itu tidak lain adalah dari lelaki yang ia sukai, Putra.

__ADS_1


Nina memang sudah sangat bosan karena sudah 2 minggu libur hanya di rumah saja, akhirnya gadis itu pun menyetujui dan segera bergegas berdandan cantik.


"Mau kemana kamu, Nin?" tanya Ifah melihat Nina dari atas ke bawah sudah rapih


"Kemana aja boleeh hihi, aku mau nonton kak sama temen" sambil memasukkan handphone ke dalam tas kecilnya ia bergegas keluar rumah dan menuju ke depan toko.


Di toko sudah ada mama yang sedang duduk memandangi jalan bersama wanita paruh baya yang biasa Nina panggil dengan sebutan bibi. Karena ia tidak ingin menunggu Putra di tempat yang jauh dari rumah, dia ingin menunjukkan wajah Putra di depan mama nya.


Setelah sampai di depan toko, Putra membuka helm dan menyodorkan tangan untuk meminta izin kepada mamanya Nina, mama langsung tersenyum dan memberikan peringatan agar tidak pulang malam, Nina mencium tangan mama nya dan langsung menaiki kendaraan bermotor milik Putra.


"Nin, aku seneng deh bisa mencium tangan mama" kata Putra sambil melihat ke arah depan


"Iya aku juga, ini pertama kalinya lagi kamu kedepan rumah aku selama 4 tahun hahaha"


"Iya Nin, aku akan berusaha lebih baik lagi agar aku terbiasa menghadapi keluarga kamh"


Di toko. Mama, Rara, dan Nova sedang asyik berbincang dengan candaan yang lagi-lagi di ciptakan oleh Rara. Nova terus menggoda Rara karena terus menanyakan Abim, abangnya. Pipi Rara memerah karena malu sekaligus kesal karena terus di goda oleh kakaknya, mama hanya menertawakan tingkah mereka berdua.


Hari sudah menjelang malam, setelah shalat magrib, kak Ifah, Nova dan Rara masih berada di depan toko, mereka ingin makan malam bersama di bangku depan toko karena merasa bosan di rumah.


Seperti udah biasa, mama dan yang lainnya makan malam bersama, lalu tiba-tiba ada kendaraan yang menarik penglihatan Rara, terlihat dua sejoli berada di atas motor, dan turun seorang gadis, dia adalah Nina yang baru saja pulang, Nina membawa sebungkus makanan dan menghampiri kerumunan orang yang sedang makan di bangku depan toko.


"Kakak kenapa gak bilang kalau mau bawa makanan?" ucap Rara memanyunkan bibirnya ke depan melihat bungkus makanan yang dibawa Nina


"Yee, lagi pula aku membawa makanan ini untuk mama keles"

__ADS_1


"Sudah, tidak apa-apa, ayok kita makan bareng!" sahut kak Ifah


"Ya sudah, makan biar tambah ndut ya duut, hahaha" keluar tawa jahat Nina untuk Rara


"Tadi siapa kak? Ciye.. ciye.." goda Rara


"Pengen tau aja kamu anak kecil!"


"Iya dia siapa Nin?" tanya kak Ifah yang ikut-ikutan kepo


"Emm dia Putra kak"


"Udah lama kalian pacaran?"


"Lumayan, baru 5 tahun kayaknya" Jawab Nina santai


"Hah? 5 tahun baru? Sudah lama juga, jangan buru-buru kalian, kan masih ada aku yang belum menikah" ucap kak Ifah terbelalak mendengar jawaban Nina


"Haha tenang saja kak, aku juga belum lulus kuliah, Putra juga masih punya adik-adik yang harus dia biayai sekolahnya"


Setelah asyik mengobrol, Nina berjalan ke arah rumah untuk membersihkan diri, meninggalkan kakak, adik dan mama nya. Namun, langkah nya terhenti ketika mama memanggil.


"Nina, kalau kamu mau ke dalam rumah, berikan bapak obat ya, mama lupa memberikannya obat" ucap mama


Nina berbalik badan dan mengiyakan kata-kata mamanya, lalu berjalan ke arah rumah dengan membawa tas kecil di samping kiri bahu nya.

__ADS_1


*Baru kali ini aku bicara jujur tentang Putra dengan kakak, semoga ini pertanda baik* pikir Nina


Sambil tersenyum Nina membuka pintu rumah, ia mendapat bapak sedang merebahkan tubuhnya di lantai, dan berlari mengambil obat rutin bapak yang berada di dalam kotak obat. Sebenarnya Nina masih memikirkan perkataan bapak tentang mama kemarin, tapi ia sudah tidak kesal karena rasa sayang terhadap bapak dan kakak nya.


__ADS_2