
Pukul 4 sore kala itu, semburat senyuman senja masuk melalui celah-celah jendela ruangan, kesedihan yang sedang terjadi tidak nampak saat ini, semua orang orang masing-masing membacakan sebuah ayat suci untuk menenangkan pikiran mereka, lantunan suara yang ramai menyelimuti ruangan. Syukurlah, hati mereka kini sudah membaik.
Gelap malam telah tiba, pancaran sinar bulan tidak terlihat sedikit tertutup oleh awan-awan tipis. Di sebuah ruangan luas yang berisi para keluarga penunggu pasien sudah terlelap dalam mimpinya. Malam ini, keluarga Nina ikut menginap di sana, ada yang tidur tempat bagian bapak di rawat, dan ada yang di tempat bagian mama di rawat. Nina tidur bersebelahan bersama Rara, di apit oleh Abimana di sebelah kanannya, hanya gadis itu yang masih terjaga, ia melihat arloji di tangannya sudah pukul 1.00 pagi, tapi matanya masih terasa segar meskipun sudah sedikit membengkak.
Nina berbalik ke arah Rara, ia mendapatkan Rara tertidur begitu pulas, Nina teringat betapa mama menyayangi adik bungsu nya itu, apapun keinginannya pasti terpenuhi, terakhir yang ia ingat adalah ketika ulang tahun Rara beberapa bulan lalu, ketika bapak juga sedang di rawat di rumah sakit ini, mama membawa sebuah goody bag berisikan kerudung yang sudah di bungkus, itu adalah hadiah ulang tahun Rara, dengan senyuman yang terpancar di wajah wanita yang begitu di rindukannya sekarang, Nina tersenyum ketika mengingat mama mengatakan akan memberikan hadiah itu untuk Rara, kala itu Nina berpikir bahwa mama pilih kasih karena ia sendiri belum pernah mendapatkan hadiah ulang tahun dari mama.
Nina berbalik badan dan melihat langit-langit ruangan itu, betapa ingatannya hanya tertuju pada sosok wanita paruh baya itu.
"Mama, Nina kangen, hiks hiks.." gumam Nina
Gadis itu akhirnya menenggelamkan wajahnya ke arah Rara, memejamkan matanya meski air mata terus mengalir, ia pun perlahan terlelap dalam tidurnya.
"Nin.. Nina.. Bangun, shalat subuh dulu yuk!" seru Ifah membangunkan Nina
Terlihat semua orang telah terbangun dari tidurnya, ada yang masih melakukan shalat, ada yang sudah terduduk lesu dan mengobrol.
Hari pun sudah menjelang siang, terdengar suara keroncongan perut lapar seseorang. Di sana sudah ada Sefia dan Rama, untuk menghilangkan penat dan kesedihan, mereka saling mengobrol mengenai hal-hal lucu.
Khruuuukkk
"Iih perut siapa tuh? Lapar amat" ucap Rara
"Aku, Ra. Kenapa? Gak suka?" sahut Abim yang berada tepat di belakang Rara.
__ADS_1
"Kamu lapar, Bim? Makan dulu sana!" kata Ifah menyambung.
*aku lupa, ternyata aku juga belum sempat makan sudah 3 hari ini aku tidak makan teratur* Nina berpikir
"Ya sudah kakak belikan makanan dulu ya buat kalian, kakak tahu kalian pasti bekum makan dari kemarin kan?" Ifah beranjak pergi meninggalkan adik-adiknya, ia berjalan menuju sebuah resto yang berada di depan rumah sakit, membelikan 8 porsi nasi bebek, ia memberikan untuk adik-adik dan sepupu juga untuk tante Ratna. Dalam hati kecilnya betapa perihnya melihat adik-adiknya saat ini menahan lapar di rumah sakit, alasannya hanya karena tidak nafsu. Bagaimana mungkin mereka bisa makan enak dengan lahap sedangkan orang tuanya terbaring lemah di ruangan yang dingin, tidak bisa melakukan apa-apa, itulah alasan utama yang membuat nafsu makan mereka berkurang.
Namun berbeda saat ini, terlihat semua yang sedang memakan nasi bebek itu makan begitu lahap dan tawa sudah pecah dari sunggingan mulut mereka, tidak ada kesedihan yang terpancar, apakah ini pertanda baik? Begitu pikir Ifah.
Ifah menutup bungkus nasi yang telah ia makan sampai habis "Malam ini, aku dan Abimana saha yang jaga di tempat bapak yah, biar Nina dan tante Ratna yang ditempat mama, Nova, Rara dan yang lainnya pulang saja, kalian pasti lelah"
"Ya sudah aku pulangnya nanti sore saja, aku masih ingin mengaji di samping mama" kata Nova, lalu berdiri dan berjalan menuju ruangan mama.
Nova membacakan ayat suci Al Qur'an dengan penuh khidmat, lalu panggilan seorang perawat menghentikan alunan suaranya, ia pun menaruh kitab suci itu ke meja yang berada di samping kasur mama.
"Mbak, tolong belikan cairan kumur pencuci mulut dan pampers ukuran besar untuk mama ya, sepertinya mama mu sudah ada peningkatan"
"Benarkah? Baik sus, saya akan segera belikan, terima kasih suster!"
Dengan wajah yang sumringah Nova keluar ruangan dan menuju orang-orang yang sedang menunggu, Nova menceritakan apa yang telah di beritahukan dokter.
Nina yang mendengarnya sangat bersemangat agar dia saja yang membelikan "Biar aku saja yang belikan, Nov! Eh tunggu, tapi kemarin kan kamu sudah belikan pampers untuk mama, itu sudah terpakai apa belum?" Nina mengernyitkan alisnya seraya berpikir
"Oh iya ya, padahal kemarin aku sudah belikan, tapi.."
__ADS_1
"Sudah biarkan saja, mungkin suster itu tahu, itu pasti kurang, aku kan belikan sekarang saja"
Tanpa basa basi Nina berdiri, lalu berlari meninggalkan ruangan
*sepertinya ini adalah pertanda baik, tadi kami sudah makan dengan sangat lahap, sekarang tenaga dan semangat sudah terkumpul untuk menyambut mama. Pak, tenang saja, mama pasti kembali*
Dengan begitu bersemangat dan wajah ceria nya Nina berjalan membawa sebuah kantung plastik besar berisi pampers dewasa, ia sangat menantikan ini dari kemarin.
Sementara di ruangan bapak
"Fah, mama kemana sih? Kok dari kemarin belum kembali juga? Katanya pulang hanya sebentar" lirih bapak
"Mama sedang jaga toko, Pak. Ifah kok yang minta, bapak baru tiga hari tidak bertemu sudah kangen saja sama mama" Ifah berbohong, lalu tersenyum. Ia yakin kebohongannya tidak akan sia-sia karena mendapat kabar dari Nova bahwa suster mengatakan kesadaran mama ada peningkatan.
Mendengar kata-kata Ifah bapak berpikir *mungkin mama memang sedang lelah dan masih betah mengurusi toko*
"Ya sudah, bilang sama mama, nanti malam suruh datang" ucap bapak
Ifah terbelalak, ia menghentikan jemari nya yng sedari tadi memijat kaki bapak, ia sejenak berpikir bagaimana ia bisa membawa mama nya ke hadapan bapak, apakah harus bapak yang keluar ruangan untuk bertemu mama dan melihat keadaan yang sebenarnya, sungguh, itu hal yang tidak mungkin!
"Emm iya, Pak. Insya Allah" tidak tahu harus mengatakan apa lagi, Ifah hanya menjawab seadanya, ia tidak tahan berbohong terus menerus menutupi kenyataan dari bapak, rasanya hatinya ingin meledak mengatakan semuanya, tapi batinnya melihat sorot mata pedih bapak mengatakan jangan, itu hanya akan memperburuk keadaan, biar waktu yang menjawab.
To be Continued 👀
__ADS_1
Jangan lupa like dan comment ya😍