
Di depan kamar ruangan sepi itu Nina terduduk lemas meratapi kejadian yang telah menimpanya, sungguh kenyataan yang begitu pahit dan tidak bisa di sangka-sangka, kenyataan yang akan merenggut semua kebahagiaan dalam hidupnya, orang yang paling di cintai selama hidupnya kini telah meninggalkannya, bagaimana anak-anak dan suaminya akan menjalani hidup tanpa sosok ibu yang telah menjadi jantung di rumah mereka, membayangkannya saja sungguh menyakitkan.
Nina masih duduk di kursi roda itu sendirian, melihat ke kanan dan ke kiri, ia berada di tengah lorong kosong rumah sakit, lorang lorong itu semakin sepi dan tampak menakutkan, Nina tidak ingin memasukki kamar mayat itu, karena tidak kuat menahan perihnya melihat mama nya di kremasi.
"Bagaimana keadaan bapak setelah mengetahui ini, bagaimana bisa bapak yang telah sakit-sakitan bertahun-tahun dan hampir kehilangan nyawanya, malah mama yang meninggalkan kita lebih dulu. Mengapa Engkau mengambil nyawa orang tua ku secepat ini? Kenapa bukan aku saja? Hiks.. Mama, aku ingin ikut"
Nina bermonolog, meremas-remas ujung bajunya yang lembab karena air mata, memaki-maki diri sendiri, memaki keadaan dan menyesal.
Batin gadis yang berada di depan kamar mayat itu membenamkan rasa takutnya, ingin bangun berdiri namun dikalahkan egonya, ia menunduk dan menengok ke ujung jalan persimpangan koridor kosong itu terlihat semakin sepi nampak menyeramkan, tampak kaki seseorang memakai jeans dan sepatu berjalan mendekati Nina, ia langsung segera menghapus air matanya.
Tap
Tap
Tap
Seseorang yang di lihat Nina semakin mendekat, ia adalah seorang pria berbadan tinggi memakai jaket levis, berkulit putih, wajahnya tampan dan begitu asing dimata Nina *siapa lelaki itu?* alisnya mengernyit, ia ingin masuk ke dalam kamar mayat itu, tapi sayang, pria itu sudah berada di hadapannya.
Nina dan pria itu saling berhadapan, matanya menatap satu sama lain, tangan pria itu mendekat ke punggung Nina dan memegangnya, namun Nina berhasil menangkisnya.
__ADS_1
"Ma ma maaf, anda siapa?" lirih Nina
"Maaf mungkin kamu belum mengenal saya, tapi saya sudah mengenalmu sejak lama, perkenalkan nama saya Davin" pria itu menyodorkan tangannya ke hadapan Nina, namun tidak di gubris sama sekali, perasaannya menjadi geram karena ini bukan waktu yang tepat untuk sebuah perkenalan, Nina memegang roda kursinya dan mencoba memutarnya.
"Nina! Ya! Namamu Nina bukan?" pria itu mencoba menghentikan Nina yang hendak masuk
"Tolong, bicaralah dengan sopan kepada orang yang sedang berduka!" Nina melirik ke samping
"Maaf, tolong, aku hanya ingin mengenal mu, Nina. Sudah beberapa hari ini aku memperhatikan mu dan sekarang aku melihat mu menangis begitu keras, aku tahu apa yang terjadi dengan orang tua mu, aku turut berduka cita, bisakah kau memberi tahuku alamat rumah mu?"
Nina tidak menjawab pertanyaan pria itu
"Maaf, saya harus segera pergi" gadis itu mencoba bangkit dari duduknya, tubuhnya sudah terasa lebih baik, ia berjalan memasuki kamar mayat. Namun sebelum memasukinya, ia terjatuh, pria itu menggerakkan kakinya satu langkah, tapi Nina sudah di angkat lebih dulu oleh seorang pria, yaitu pamannya.
Nina menengok, hatinya berdebar
*je je jenazah? kenapa harus jenazah? jangan panggil mama ku dengan sebutan jenazah, tolong, hiks hiks* Nina kembali menangis
"Kamu harus ikhlas, semua ini sudah jalan Tuhan, ayo! Semuanya sudah menunggu di mobil"
__ADS_1
Paman nya membantu tubuh Nina bangkit, dan membawanya memasuki mobil ambulance, di dalam sana sudah ada Ifah yang sedang merungkuk di atas keranda mayat yang di tutupi kain berwarna hijau. Sedangkan tante Ratna dan Abimana berada di samping pengemudi.
Nina dan Ifah terus menangisi keranda yang berada di hadapannya, di luar mobil pria yang mencoba berkenalan tadi sudah berada di belakang kerumunan para pengurus jenazah rumah sakit. Matanya mengikuti mobil jenazah itu hingga keluar gerbang.
"Aku yakin kita pasti akan bertemu lagi, Nina" gumamnya.
Di dalam mobil jenazah Ifah terus bergumam
"Nin, kenapa mama cepat sekali meninggalkan kita? Aku belum sempat membahagiakannya, hu hu hu" wajahnya masih tenggelam dalam dekapannya di atas keranda
"Tidak kak, kita semua, kita semua belum sempat membahagiakan beliau"
"Mama orang baik, Nin. Mama baik sekali, aku tidak sanggup"
"Iya, mama memang orang yang sangat baik, kak! hiks hiks.."
Kedua wanita itu masih menangis tersedu-sedu di dekat keranda mayat, namun tidak dengan orang yang berada di depan, tante Ratna dan Abimana jauh lebih tegar dan terlihat ikhlas meski hatinya menangis, meski hatinya teriris mendengarkan pembicaraan Nina dan Ifah di belakang.
Nina membangunkan kepalanya melihat seisi ruangan mobil jenazah yang kini sedang membawanya
__ADS_1
*Tidak pernah terpikirkan dalam hidupku untuk berada di dalam mobil ini, rasanya sulit dipercaya, ya Allah, di dalam keranda ini yang berada tepat di depanku adalah mama ku yang sudah tidak bernafas lagi, sulit sekali melepaskannya, bagaimana aku bisa merelakan kepergian beliau, semasa hidupnya aku belum pernah membuatnya bahagia*
Ifah dan Nina terus bergumam, suara sirine mobil jenazah yang melaju begitu cepat semakin membuat jantung mereka berdetak begitu cepat, tidak ada lagi yang ia pikirkan, hanya bagaimana harus mengatakan hal ini kepada bapak.