
Brrrmmmm
Brrmmmm
Kriiikkkk
"Assalamu'alaikum!..."
"Wa'alaikumussalam.. Eh siapa tuh diluar?" Kata Nina menengok kebelakang, ke arah pintu rumahnya. Sontak ia langsung mencuci tangannya dan meletakkan piring-piring yang sudah di cuci nya ke rak pengering yang berada di samping washtafel, lalu Nina pun berjalan menuju pintu.
"Nin, siapa?" tanya Nova keluar dari kamar menghentikan langkah kaki Nina
"Ini aku mau nge'check, kayaknya kak Ifah deh"
Nina berlari ke arah pintu, ketika membuka pintu rumah, Nina hanya melihat sebuah tas besar yang sudah jelas itu adalah milik kak Ifah, tapi Nina tidak menemukan batang hidung kakak nya itu.
Nina memasukkan tas dan koper besar milik kakaknya itu ke kamar.
*sepertinya kakak berada di toko untuk mengunjungi mama terlebih dahulu* Lalu Nina berjalan menuju pintu toko bagian belakang
Setelah masuk ke toko, dia menemukan kakak nya sedang mengobrol dengan kedua orang tuanya, tampak kebahagiaan yang terlihat di wajah bapak dan mama. Selama kepulangan kak Ifah hari ini yang mengejutkan, bapak terlihat semangat lagi, tidak tampak dirinya sesak nafas seperti kemarin.
__ADS_1
Seperti itulah mereka, terkadang kemesraan yang tercipta antara mereka bertiga membuat Nina iri melihatnya, kadang Nina berpikir bahwa bapak dan mama nya hanya menyayangi kak Ifah saja, karena mama selalu bersikap lembut sekali terhadap kak Ifah, dan selalu menanyakan kabar kak Ifah dimanapun dia berada, tapi cinta dan kasih sayang Nina juga besar untuk kedua orang tuanya itu, maka dia menepikan prasangka buruk tentang orang tuanya. Karena Nina yakin, bapak dan mama akan selalu menyayangi anak-anaknya tanpa porsi lebih besar atau lebih kecil.
Setelah kangen-kangenan atas kepulangan kak Ifah yang telah pergi selama 1 minggu, sore pun tiba.
"Kak Ifah kemana Nov?" tanya Nina
"Biasa, kalau abis pulang dari dinas juga langsung hibernasi" jawab Nova dengan santai sambil memainkan handphone di tangannya
"Huaaa... sudah magrib nih, nutup yuuk!" seru Nina melebarkan tangannya seraya menguap
"Jangan dulu, kalau capek ya sudah pulang sana, mama yang jagain toko, dari siang kan kalian yang jaga" sahut mama yang muncul dari belakang Nina sambil membawa sebuah buku dan kacamata.
"Ya sudah Nin, kamu duluan sana yang mandi dan shalat, biar aku sama mama di toko, nanti gantian kamu langsung kesini ya" ucap Nova
Karena mengiyakan kata-kata Nova, Nina pun berjalan menuju rumah, disana sudah terlihat bapak dan kak Ifah sedang mengobrol, dan Rara sedang asyik menonton kartun kesukaannya di televisi.
Nina duduk sejenak untuk meregangkan kakinya, setelah merasa lebih baik ia pun segera bergegas ke kamar mandi dan melaksanakan shalat maghrib. Setelah shalat, ia mengecek handphone nya, karena sudah seharian dia mengabaikan telepon genggamnya itu dan juga orang yang terus menghubunginya sampai layar di handphone nya itu penuh dengan notifikasi dari yang bernama Putra.
Sambil memijat handphonenya, telinga Nina tidak terlepas dari perbincangan kak Ifah dan bapak didepan kamarnya, ia menagkap mereka sedang membicarakan mama.
"Pa, kenapa uang toko gak pernah banyak sih? Padahal penghasilan toko harusnya lumayan, itu kemana saja pak uangnya?" kata kak Ifah.
__ADS_1
"Ya gak tau kak, bapak juga kan gak pernah jagain toko, bapak cuma nemenin aja, emang kadang mama mu suka pake kali buat jajan apa aja, bapak tidak tau..." terdengar suara bapak lemas
"Emang nih, mama suka pakai uang toko buat keperluan dia, ah nanti mah Ifah ambil saja lah uangnya, kalau tidak seperti itu yang ada Ifah nambahin terus untuk modal"
"Dan lagi pula, toko itu kan modalnya tidak sedikit, seharusnya mama memberikan setoran setiap hari, tapi ini sudah hampir 3 hari setoran macet pah.." tambah Ifah
"Bapak gak mau ikut campur masalah itu kak, soal uang yng dipakai sama mama kan memang dia yang megang, mau mama mu pakai untuk jajan, bapak tidak tahu, jadi bapak ga bisa larang"
BRAAKK!
Suara pintu kamar Nina terbuka, Nina keluar dengan mata tajamnya dan tangannya sudah terkepal, mendengar perkataan kakak dan bapaknya itu membuat Nina sangat marah dan tidak terima. Bapak dan Ifah tersontak kaget melihatnya.
"Siapa yang bilang mama suka pakai uang toko?! Kalaupun mama pakai itu untuk keperluan kita, untuk masak, untuk jajan Rara, untuk ongkos aku, untuk membelikan buah, tidak mungkin mama menggunakan uang itu untuk jajan dia sendiri kan!? Sekalinya beliau membeli bakso saja, itu harus berbagi dengan anak-anaknya kak! Kalaupun mama pakai, tidak mungkin untuk perutnya sendiri, pasti ada keperluan lain!!!"
"Jangan pernah menjelek-jelekkan mama ku, meskipun itu bapak atau kakak, mama ku tidak pernah melakukan hal seperti itu!!!"
BRAAKK!!!
Pintu rumah tertutup dengan keras, membuat semua yang berada didalam kembali kaget, entah apa yang mereka bicarakan lagi. Didepan rumah Nina sudah membendung air matanya lalu mengelap air matanya itu sedikit agar tidak terlihat akan menangis, ia pun berlari ke arah pintu belakang toko dan duduk di samping mama yang sedang membaca buku.
Nina memandangi wajah mama nya, ia ingin sekali memeluk mama nya itu namun tidak bisa, ia malu mengatakannya, ia ingin sekali mencium pipi putih mama nya itu. Rasanya Nina masih sangat marah dengan perkataan kakak dan bapaknya, sebenarnya bukan kali ini saja ia mendengar mereka membicarakan hal itu tentang mama, tapi kali ini Nina memberanikan diri untuk marah.
__ADS_1