Mama, Aku Mencintaimu!

Mama, Aku Mencintaimu!
Tidak Banyak Bicara


__ADS_3

Keesokan harinya


Suasana rumah di pagi hari masih sama seperti biasa, semua penghuni di rumah ini bangun lebih awal dari biasanya dan melakukan aktifitasnya masing-masing. Nova, Rara dan Nina melakukan semua pekerjaan rumah, mama pergi membeli sarapan, sedangkan bapak tidak melakukan apapun hanya terduduk memandangi jalan.


Di sebuah warung kelontong milik tetangga


"Ceuk! Biasa ya, gorengan dan lontong" ucap mama


"Oke okee"


Setelah menerima sesuatu yang di inginkan, mama beranjak pergi dari kedai kelontong tersebut.


Sesampainya di rumah, mama memberikan bungkus yang ia belikan kepada anak-anak dan suaminya, mama tersenyum lalu beranjak kembali lagi ke kedai kelontong tadi.


"Ceuk! Boleh minta gorengan satu?" ucap mama


"Boleh boleeh" sahut wanita paruh baya yang sedang melayani pembeli yang lain


"E.. eh, buk!" panggil wanita si pemilik kedai itu dan menengok ke arah mama


Tiba-tiba mama mengambil satu gorengan yang ia inginkan lalu langsung beranjak pergi meninggalkan kedai kelontong tersebut, dengan pandangan menunduk, tersenyum, dan tidak bicara apapun, mama berjalan melewati wanita paruh baya itu. Namun, wanita pemilik kedai itu juga tidak berkata apa-apa, ia hanya terpaku melihat senyuman yang di lontarkan mama, dan setelahnya ia terheran karena mama tidak banyak bicara seperti biasanya.


Sementara di rumah semua orang sudah menghabiskan sarapan mereka, namun bagian mama tidak tersentuh sama sekali, mama langsung membuka toko, di ikuti Rara yang membawa sarapan untuk mama.


"Ma, kenapa ga di makan?" tanya Rara yang duduk disamping mama

__ADS_1


"Sudah kok, tadi mama sarapan di kedai tempat beli ini"


"Terus ini siapa yang akan menghabiskannya, ma?


"Sudah kamu saja, nak!" mama tersenyum mengelus jilbab Rara


"Oh, ok deh, kebetulan aku juga masih lapar, hehe" Rara tersenyum senang, lalu menyantap makanan yang di pegangnya


"Eh Ra, kok kamu yang makan sih? Itu kan punya mama!" seru Nina yang muncul dari arah belakang


"Mama sudah sarapan Nin, adik kamu juga masih lapar"


Mendengar jawab mama, Rara melirik Nina dan mengeluarkan lidah meledeki kakaknya itu.


Tiba-tiba datang seorang pria paruh baya menghampiri mereka, jalannya terdoyong-doyong, lalu berteriak-teriak memarahi mereka, mata mereka terbelalak kaget dan langsung berdiri tidak percaya.


*BRAKKK!


CRANGGG TING TING TING TING*


Pria paruh baya itu menggebrak etalase toko, dan melempar sebuah botol ke dalam toko. Botol tersebut melayang ke arah mama, namun Nina berhasil mencegah mama agar tidak mengenai benda tersebut, namun botol itu pecah seketika.


"Eh bapak tua! Siapa kau?! Salah kita apa!?" teriak Nina


"Hahaha, dasar wanita busuk! Mati saja kau!!!" pria itu mendekat dan ketika akan masuk ke dalam toko, mama mengambil sebuah benda panjang yang berada di tokonya, lalu memukul wajah pria tersebut.

__ADS_1


"Jangan coba-coba masuk ke dalam toko ku pria **la!" teriak mama


"A.. a aduh aaakkhh!!! Hentikan!"


"Pergi kau, pergi sana! Aku tidak punya urusan dengan orang seperti mu!" kata mama sambil memukuli pria paruh baya itu hingga keluar


Karena keberanian mama membuat langkah pria itu semakin lama semakin mundur, dan lari meninggalkan toko, sontak membuat Rara dan Nina berlari keluar toko dan tertawa melihatnya.


"Sana pergi! Jangan kembali lagi! pria pemabuk seperti mu tidak pantas menginjakkan kaki di toko ku!" mama masih menggerutu dan melempari sampah botol plastik yang berada di bawah kakinya


"Hah dasar pria ******, kenapa dia bisa datang ke sini sih!?" gerutu Nina


Mama, Nina dan Rara kembali memasuki toko, mereka membersihkan pecahan botol yang berserakan, sepanjang membersihkan toko tidak ada yang saling berbicara, tiba-tiba jari mama berdarah terkena pecahan beling, membuat Nina dan Rara panik dan langsung memberikan pembalut luka di tangan mama nya.


Setelah kejadian tadi, mama tidak banyak bicara apapun, bahkan ketika ada orang yang berbicara padanya, ia hanya tersenyum manis.


Hingga sore menjelang malam, ketika akan menutup toko, lagi-lagi mama mengajari Nina.


"Nin, kalau mau tutup toko seperti ini ya" ucap mama


*kenapa mama selalu bicara seperti itu, kan setiap hari aku menutup toko, jelas aku tahu apa yang harus aku lakukan* pikir Nina


Nina hanya mengiyakan perkataan mama, meski mama yang sedari tadi tidak berkata apapun, entah kenapa wajahnya begitu bersinar, bahkan lagi-lagi membuat Nina tidak berhenti memandangi wajahnya.


To Be Continued👀

__ADS_1


Jangan lupa like dan comment😝


__ADS_2