Mama, Aku Mencintaimu!

Mama, Aku Mencintaimu!
Abu-abu (Part 2)


__ADS_3

Koridor rumah sakit sudah mulai sepi, sepertinya Nina memang sudah berjalan jauh sekali dari tempatnya bersama keluarganya menunggu, lorang-lorong panjang terlihat semakin panjang terlihat di mata Nina, hanya ada suara dentuman dan beberapa suara kasur besi yang melintas di luar dari tempatnya berjalan.


Di pertigaan jalan lorong, gadis itu terhenti karena ada beberapa perawat dan keluarga pasien, mereka membawa seseorang yang sudah tertutupi kain putih diatas kasur besi, mereka begitu terburu-buru. Seorang wanita muda dan anak kecil mengikuti di belakang mereka dengan isak tangis yang menggebu-gebu, membuat Nina terpaku melihatnya, mata nya mengikuti arah orang-orang itu, hingga membuatnya berbalik badan.


"Kenapa menyedihkan sekali? Apakah pasien itu meninggal?" gumam Nina, matanya masih terfokus dengan orang-orang tadi, menuju koridor kosong yang Nina lewati, ternyata itu adalah lorong menuju rumah duka.


"Hei! Darimana saja kamu?!" suara Nova mengagetkan Nina dari lamunannya, tangannya yang dingin menepuk bahu gadis itu


Nina gelagapan "Eh e.. Tidak, aku habis dari... emm kamu sendiri mau kemana? Kau mencariku yaa?" Nina tergelak, menepuk bahu Nova


"Issh, aku habis membeli pampers untuk mama"


"Benarkah? Apakah sudah ada tanda-tanda mama akan sadar?"


"Tidak, aku hanya di minta beli saja, jaga-jaga nanti mama sadar"

__ADS_1


Nina memanyunkan mulutnya, mereka berdua berjalan bersama menuju ruang tunggu pasien.


"Nin, kamu pulang saja biar Nova, Rara dan Abim yang jaga malam ini" seru Ifah


"Sebenarnya aku masih ingin disini, tapi ya sudahlah, aku juga tidak bisa mandi di sini"


Nina, tante Ratna dan Ifah kembali pulang ke rumah, sementara Nova dan yang lainnya tetap di rumah sakit. Nova diminta perawat untuk mengurus administrasi pindah ruangan mama ke ruang High Care Unit (HCU), ia mengajak adik-adiknya untuk pindah ruang tunggu di dekat ruang HCU.


Keesokan harinya


"Kalau bapak akan di pindah ruangkan ke sana, kita bagi dua saja ya, ada yang menunggu di sana, dan ada yang menunggu disini" kata Ifah


Ding ding ding dingngng


Suara panggilan keluarga bapak terdengar dari speaker rumah sakit.

__ADS_1


"Aku saja yang masuk, sepertinya ini panggilan untuk mengurusi pindah ruangan" Ifah bangkit dari duduknya dan beranjak menuju ke arah ruang ICU


"Ya sudah, aku ingin ke ruangan mama ya" Nina beranjak pergi meninggalkan saudaranya yang duduk di ruang tunggu, ia membawa sebuah selimut berwarna merah dan ciput kecil di tangannya, gadis itu menghampiri mama yang masih terbaring, tersenyum dan mengusap kepala mama yang tidak menggunakan hijab biasa ia pakai, Nina merasa teriris melihat mama nya tidak di baluti pakaian apapun dan juga hijab yang tidak pernah di lepas kecuali di dalam rumah sendiri.


*ma, aku membawakan selimut yang biasa mama pakai untuk tidur di rumah dan hamya ciput yang bisa aku berikan untuk menutupi kepala mama, aku tidak ingin rambut mama di pertontonkan oleh perawat laki-laki disini, aku tahu ini hal yang konyol dan terlihat seperti anak yang polos, tapi sungguh, aku sangat tidak ingin mama di seperti ini, meskipun perawat laki-laki itu dengan maksud merawat mama, tapi tetap saja...*


Nina mengelus jemari tangan mama setelah memakaikan selimut dan penutup kepala "Ma, aku kangen suara mama, kapan mama sadar? Aku kangen, di luar sudah banyak orang yang menunggu, hikss hikss.." gumam Nina, menangis di atas punggus tangan mama.


Nina membacakan beberapa surat di samping mama, senantiasa berdoa akan kepulihan mama nya, tidak kuasa menahan tangis, sambil membacakan ayat suci Al Qur'an, Nina meringis menahan tangis dan menyudahi bacaannya, menutup Al Qur'an yang ia baca, mengusap kepala wajah mama nya, lalu keluar ruangan.


Di depan pintu ruang HCU, gadis itu menghembuskan nafasnya dalam-dalam, untuk menghilangkan sesak di dadanya


*kini hari-hari ku terasa begitu gelap, abu-abu, tidak berwarna, bagaikan awan tanpa matahari, begitu kosong tanpa adanya senyuman dan tawa mu. Ma, pak, aku berdo'a semoga Allah memberikan jalan yang terbaik untuk kita semua, meskipun menyakitkan, aku tahu pilihan Allah lah yang terbaik* Nina melamun sambil berjalan melewati koridor menuju ruang tunggu pasien


Di ruang tunggu, bersama seluruh keluarga, Nina duduk bersebelahan dengan Ifah, lalu mendengar suara perawat yang berasal dari speaker, semua orang tersontak kaget karena perawat itu tengah menyiarkan sebuah duka cita, sontak Nina dan yang lainnya menangis, tidak tahu apa yang harus mereka katakan kepada bapak.

__ADS_1


Namun, setelah mendengar beberapa kalimat selanjutnya ternyata nama yang di sebutkan perawat itu bukan lah nama orang tua mereka. Tangis haru menyelimuti seisi ruangan, pengunjung pasien yang menunggu di ruangan itu melihat penuh haru, ikut bersedih seakan mengerti apa yang tengah di rasakan.


__ADS_2