Mama, Aku Mencintaimu!

Mama, Aku Mencintaimu!
Malam yang Panjang


__ADS_3

Ifah masih menunggu perawat yang akan memindahkan bapak ke ruang ICU, ia masih tidak banyak berbicara, wanita itu hanya berdiri sambil memegang kantung plastik berisi buah dan tas miliknya.


"Ayo pak, kita pindah ke ruang ICU, mbak silahkan ikuti agar tahu ruangannya" kata seorang suster


Ifah mengikuti tiga orang suster yang mendorong kasur besi yang di tiduri bapak, langkah kaki mereka begitu cepat, membuat Ifah terengah-engah mengikutinya.


"Ma, mama.." panggil bapak


Ifah tidak menapik panggilan itu, ia terus mengikuti bapak yang tengah di dorong suster-suster tersebut. Ia masih berpikir bahwa bapak hanya teringat pada mama.


*kenapa mama diam terus sih dari tadi?* pikir bapak, ternyata apa yang ada di mata bapak adalah benar, itu adalah sosok mama yang sedari tadi mengurusi pindahan nya, namun tidak di sadari oleh Ifah.


Sesampainya di ruang Intensive Care Unit (ICU)


Ifah menghampiri perawat yang sedang menyiapkan resep obat.


"Suster, boleh saya bicara sebentar?"


"Iya silahkan, mbak! Ada perlu apa?"


"Begini sus, ibu saya sedang di rawat juga di ruang UGD, beliau tadi pingsan di kamar mandi dan sekarang mendapat perawatan khusus, sedangkan bapak belum tahu, saya takut kalau saya kasih tahu, beliau terkena serangan jantung"


"Lho, ibu nya baru di rawat atau sudah lama sakit mbak?"


"Ummm, baru sus"


"Ya sudah, sebaiknya jangan diberitahukan dahulu, karena akan membahayakan bapak, takutnya ia tidak bisa menerima ini"


"Oh gitu sus, ya sudah, hanya itu saja, terima kasih!"


Ifah kembali menghampiri bapak.


"Pak, Ifah kembali lagi ya, kasihan Nina sendirian"

__ADS_1


"Fah, tolong pijat kepala bapak ya, kepala bapak terasa pegal sekali"


*ternyata bapak sudah sadar kalau ini aku, bukan mama*


Ifah memijat kepala bapak, sambil melamun.


"Fah, mama sudah tidur?" suara bapak membuyarkan lamunannya


"I.. iya, mungkin mama kecapean"


"Pantas dari tadi mama diam mulu bapak ajak ngobrol"


"Kapan pak?"


"Tadi pas mau kesini"


*astagfirullah, ternyata benar bapak menganggap aku adalah mama, kenapa bisa seperti ini? Atau mungkin sosok mama benar-benar ada dan mendampingi bapak saat akan pindah ruangan*


Waktu sudah menunjukkan pukul 2.00 pagi, Nina dan Ifah tertidur bersama di ruang tunggu, posisi mereka saling membelakangi, karena mereka tidak benar-benar tertidur. Air mata deras masih membasahi wajah mereka, tidak bisa di pungkiri. Nina berpikir akan tidur berdua bersama mama nya malam ini, namun kenyataannya mama tidur di ruangan dingin yang harus di penuhi dengan selang-selang pengobatan, tanpa selimut dan pakaian yang ia sukai, namun mama tidak bisa berbuat apa-apa, membayangkannya saja membuat hati Nina terasa semakin sesak.


Isak tangis Nina membuat Ifah menoleh ke belakang, dan menepuk-nepuk punggung Nina.


"Nin, kamu harus tidur, mama sama bapak baik-baik saja kok, kita harus selalu berpikir positif ya!"


"Hiks.. hiks.. hiks.." Nina berusaha diam dan tidak mengeluarkan suara tangisnya, meskipun ia mengatakan akan tidur, namun batinnya tetap tidak bisa tertidur, ia hanya berusaha menutupinya dari Ifah. Tidak lama mereka yang terjaga pun terlelap, hingga air mata di pipi mengering.


Malam menuju pagi begitu dingin, angin berhembus kencang memasuki sela-sela ruangan, menusuk kulit-kulit manusia yang ada disana, semakin terasa dingin hingga ke ulu hati.


Ifah terbangun, suara adzan dari masjid rumah sakit berkumandang dengan merdunya membangunkan wanita itu, selain merasakan kedinginan yang amat sangat. Ia segera mengambil air wudhu untuk shalat, dalam shalatnya, air matanya mengalir deras, alunan do'a dan dzikir terucap dari mulutnya.


Suara-suara roda kasur pasien yang di dorong para perawat begitu jelas di dengarnya, banyak orang-orang yang masih terjaga, ada yang karena tugas, ada pula yang karena tidak dapat kenyamanan disana.


Ifah membangunkan Nina untuk segera shalat subuh.

__ADS_1


Pagi semakin terang, sinar matahari menyoroti sela-sela ventilasi ruangan dan jendela di kaca memantulkan cahayanya. Ifah yang baru saja membelikan sarapan menghampiri Nina dan membukakan sebuah nasi kotak. Tiba-tiba datang beberapa orang-orang yang ia kenal, ia adalah Nova, Rara, Abimana dan tante Ratna. Mereka datang dengan muka pucat dan sedikit bengkak di matanya.


Hati Nina merasa lebih baik karena kedatangan mereka, dan memakan habis sarapan yang diberikan kakaknya. Setelah merasa lebih baik, Nina memberanikan bercerita kepada Ifah "Kak, aku belum ceritakan kejadian ini kepada bapak, aku takut bapak....."


Nina belum menyelesaikan kata-katanya, Ifah langsung memotong "Iya Nin, kakak juga sudah bicarakan ini dengan suster, katanya jangan di beritahukan dulu, makanya kita berdoa semoga mama hari ini sadar ya"


"Oh iya, bagaimana keadaan mama? Apa yang terjadi?" pertanyaan yang menghantui pikirannya sejak malam akhirnya terlontar juga, ia sebenarnya ingin sekali bertanya, namun tidak ingin membuat Nina semakin menangis.


"Mama.. mama mengalami geger otak karena tekanan darahnya yang begitu tinggi, pembuluh darah yang ada di otaknya pecah, kini mama membutuhkan do'a dan semangat kita karena tingkat kesadarannya hanya 5, setelah mencapai 7, dokter baru berani untuk melakukan operasi" lirih Nina


Semua orang yang mendengarnya tertunduk, air mata mereka bercucur deras, rasa kecewa dan bersalah terlintas di pikiran mereka masing-masing.


Tante Ratna memegang tangan Nina yang terkepal dan meremas bajunya sendiri "Nin, tante sama yang lain ingin melihat keadaan mama mu sekarang, tolong tunjukkan dimana ruangannya ya!" kata tante Ratna


"Iya tante, mari ikut aku"


Tante Ratna, Nova, Rara dan Abimana bangkit dari duduknya meninggalkan Ifah di ruang tunggu.


Tiba di depan ruang mama "Kalian hanya boleh masuk satu-satu ya, tidak boleh berdua karena ini peraturan rumah sakit"


"Ya sudah, biar tante yang masuk pertama ya"


tante Ratna memasuki ruangan, ia tidak dapat menahan derai air matanya, ia mengelus wajah mama, dan membacakan do'a, tangan di raihnya dan seolah memegang denyut nadinya, isak tangis wanita paruh baya itu pun semakin memuncak, tidak tertahankan.


"Tante, bisa gantian tidak? Aku ingin memeluk mama" Nova muncul di belakang Ratna, Ratna pun pergi meninggalkan ruangan.


"Ma, maafin aku ma, seharusnya aku masih menjaga mama, seharusnya aku tidak meninggalkan mama kemarin, huhuhu, hiks" Nova menyesal karena ia telah meninggalkan mama nya sendirian, meskipun sebenarnya itu bukanlah kesalahan nya.


Abimana dan Rara pun masuk satu persatu, bergantian, kesedihan dan air mata terus mengalir di pelupuk mata mereka. Terasa begitu sesak bagi Abimana, karena ia hanya dapat bertemu mama nya sebulan sekali.


To Be Continued👀


Jangan lupa like dan comment 😝

__ADS_1


__ADS_2