
Nina masih saja menatapi mama nya dengan penuh kesedihan, dia sangat ingin memeluk mama namun ego nya mengalahkan keinginannya. Nova sudah kembali ke rumah karena bergantian dengan Nina untuk menemani mamanya menjaga toko.
Mama terbangun dari duduknya, meletakkan buku dan kacamata yang ia baca, melayani pembeli dan kembali duduk, Nina hanya memandangi apa yang sedang mamanya lakukan itu, rasanya seperti tidak ingin lepas dari pandangannya, baginya malam ini mama nya sangat hangat sekali.
Malam semakin larut, Nina dan mama menutup toko seperti biasa, perasaan Nina yang masih campur aduk antara sedih dan marah terhadap perkataan bapak dan kakak nya itu, ia tidak menyangka kalau kata-kata itu masih saja keluar dari mulut mereka, karena yang ia tahu mama sangat menyayangi mereka melebihi cintanya kepada Nina. Tapi Nina juga paham kalau kakak sulungnya itu memang selalu curhat dengan bapaknya, apalagi jika ia pulang dari manapun, sepulangnya pasti ia langsung curhat dengan bapak, mereka sangat dekat sejak dulu. Bahkan bapak saja tidak jarang sekali menanyakan kabar kak Ifah jika ia pergi meski hanya sebentar.
Keesokan harinya
Semua sarapan seperti biasa di depan rumah, mama sudah membelikan sarapan untuk keluarganya, sungguh wanita ini memang tidak ada lelahnya, ia selalu mengutamakan cintanya kepada keluarga, bahkan ia sendiri jarang sekali ikut makan sarapan karena tidak mendapat bagian makanan yang ia beli sendiri. Suasana sarapan tenang seperti biasa, ada canda dan tawa kecil yang diciptakan oleh Rara dan Nina, mereka membuat suasana menjadi hidup. Karena ini adalah hari libur, tidak ada yang beraktifitas keluar rumah.
"Ma, hari ini jangan masak ya, aku saja yang masak" ucap Nova
"Enggak ah mama saja yang masak, kamu jaga toko"
"Iih mama, aku saja, tapi mama harus memakan masakan ku" sahut Nova, ia memohon mama nya untuk diperbolehkan memasak, karena memang setiap anak-anak mama masak, mama tidak pernah memakan masakan mereka, seperti tidak percaya akan rasanya, tapi memang rasanya selalu saja kurang (kurang garam, kurang ini dan itu).
"Ya sudah kamu belanja, kamu yang masak" seru mama meninggalkan Nova yang terus memohon, mama berjalan ke arah pintu rumah meninggalkan rumah untuk membuka toko
"Yess!!!"
"Nin, anterin aku yuk belanja!" seru Nova
__ADS_1
"Enggak ah, aku bantuin kamu saja masak, minta uangnya saja dulu sana" kata Nina yng sedang menyapu lantai rumahnya
"Ya sudah, aku belanja masakan kesukaan ku, kamu jangan protes ya!"
"Kan makanan kesukaan mu dengan aku sama Nov, hahaha"
"Hfffppt!"
Nova mengeluarkan kendaraan roda dua nya, dan mulai mengendarainya untuk berbelanja keperluan masakan.
Di tukang sayur, Nova bingung membeli apa, sebenarnya ia ingin memasak masakan kesukaan mama, tapi ia takut mama tidak memakannya lagi, seperti waktu dia memasak, mama hanya mencicipi saja dan tetap masak yang lain untuk ia makan sendiri. Bukan tidak menghargai masakan anaknya, entah kenapa kebiasaan itu selalu ia lakukan, tapi anak-anaknya tidak pernah kecewa atas sikap mama nya.
"Sudah belanjanya? Mau masak apa Nov?" Tanya kak Ifah membuka bungkus plastik yang sudah diletakkan Nova di meja dapur
"Emangnya kamu yakin mama akan makan? Hahaha" ucap kak Ifah meledeki Nova
"Yaa gak apa-apa, yang penting aku sudah masak, kita semua juga suka dengan sayur asam kan? Jadi hanya tidak di makan oleh satu orang saja itu tidak masalah, kecuali kalian semua yang tidak makan" sahut Nova membela diri
"Hmm oke okelah, masak yang enak ya neng, hihihi" kak Ifah meninggalkan Nova dan masuk ke dalam kamarnya.
"Nov, aku temani mama saja ya, kasihan mama sendirian, kamu kan bisa masak sendiri" teriak Nina dari depan pintu kamarnya.
__ADS_1
"Hmmmm"Jawab Nova singkat
Meski hanya nada seperti itu, Nina masih mendengar suara Nova, karena rumahnya di desain terbuka keseluruh ruangan, dari depan pintu ketika masuk sudah terlihat dapur, rak-rak piring dan kitchen set buatan bapak yang terpasang di atas washtafel. Di ruang tengah sebelum dapur terdapat ruang tv untuk berkumpul keluarga, di samping kanan terdapat dua buah kamar, yaitu kamar bapak mama dan kak Ifah, dan di samping kiri ada tiga ruangan, tapi hanya kamar Nina dan Nova yang ditempati, ruangan lainnya menjadi gudang kosong yang tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun setelah dahulu menjadi kontrakan.
Rara yang sedari tadi menonton tv, masuk ke kamar kak Ifah "Kak, hari ini gak ke pondok a Abim?"
"Enggak, minggu lalu kan sudah, masa tiap minggu, memang kenapa?"
"Tidak, hmmmm" Rara menghela nafasnya dan kembali duduk ke depan tv, ia merasa kecewa karena lagi-lagi ia tidak bisa menjenguk abangnya itu, padahal kalau mereka bertemu selalu saja ribut, entah apa yang dirasakan Rara saat ini.
Sementara di toko
"Ma, memang apa isi buku itu?" tanya Nina yang sedari tadi melihat mama nya fokus membaca buku merah yang berjudul Be A Miracle "Ini buku temannya kak Ifah kan? Coba dong ma, ceritain"
"Buku ini mengisahkan si penulis itu sendiri, semasa dia kuliah, dia tidak pernah menyerah umtuk meraih impiannya untuk berkuliah di luar negeri, dia pernah mengikuti pertukaran pelajar ke New Zealand, dan ketika dia ingin mengejar mendapatkan beasiswa ke Australia, di tidak mendapatkannya dan beberapa bulan kemudian ada beasiswa lain ke New York, akhirnya dia mendapatkan beasiswa itu, hingga dia S2 dia berkuliah di luar negeri, hebat kan?" jelas mama kepada Nina yang terpaku mendengarkan mamanya
"Hebat banget, tapi tidak semua orang mendapatkan nasib sama seperti dia"
"Ya kamu harus berusaha Nin, tidak ada hasil yang mengkhianati proses" mama bangun dari duduknya dan melayani pembeli yang datang, Nina hanya tersenyum memandangi mama nya, lagi-lagi ia merasakan kenyamanan berada dekat dengan mama nya.
Nina mengambil buku yang diletakkan mama disampingnya, dan melihat buku yang berjudul Be A Miracle itu, tertulis pula nama penulis, Naeli Fitria. Nina tersenyum memandangi buku itu dan bergumam "Aku ingin mewujudkan mimpi ku, semoga aku bisa membuat mama tersenyum bangga melihatku"
__ADS_1
To Be Continued👀
Jangan lupa like dan comment ya 😋