
Tubuh Nina masih terasa lemas, kakinya bergetar, pikirannya begitu kacau, Nina berjalan menuju ruang tunggu tempatnya menaruh barang-barang, sesekali ia memikirkan mengapa ia begitu bodoh karena tidak langsung pergi mencari mama nya setelah ia merasa mama nya sudah terlalu lama tidak datang, pikirannya kacau.
Nina terduduk di tikar, menekukan lututnya hingga menenggelamkan wajahnya, ia menangis begitu keras di dalamnya. Tiba-tiba datang suara seorang pria dan menepuk pundak gadis itu.
"Dek.. dek! Kamu anaknya si ibu tadi ya"
Nina mendongakkan kepalanya "i iyah"
"Kamu sudah tahu ruangan ibu kamu?"
"Ti tidak pak.. Dimana ya?"
"Mari saya antar, tadi saya yang mengikuti perawat yang membawa ibu mu masuk" Ajak pria tersebut.
Nina pun mengikutinya, ia melewati ruangan bapak, ia melihat bapak nya sedang terduduk di kasurnya. Sesampainya di ruangan mama, Nina berterima kasih kepada pria tadi dan mendatangi perawat di sana.
"Suster, apakah mama saya baik-baik saja?" tanya Nina lirih
"Oh, kamu keluarga pasien yang dari kamar mandi tadi ya?" sahut perawat itu dan mengambil sebuah kertas "Sebelumnya saya mau bertanya, apakah ibu mu mempunyai penyakit sebelumnya?"
"Iya sust, tapi hari ini mama tidak meminum obat karena ketinggalan di rumah"
"Hmmm, memang ibu mu mempunyai tekanan darah yang tinggi hingga 250, sekarang pembuluh darah di otaknya pecah dan mengalami geger otak, saya juga meminta izin untuk menggunting pakaian ibu mu agar kami bisa melakukan tindakan"
"Lakukan saja sus, lakukan apapun yang terbaik untuk mama saya"
"Baiklah, sekarang kamu harus melakukan registrasi terlebih dahulu ke bagian kasir, ini berkasnya" perawat itu memberikan sebuah kertas yang bersisi diagnosa penyakit mama.
Setelah mengambil kertas itu, Nina berjalan menuju mama yang sedang terlelap dan banyak selang di tangan dan hidungnya di tutupi dengan alat uap, Nina memegang kaki mamanya yang begitu dingin, segera ia melepaskan kaos kaki yang sedang dipakainya, lalu memakaikannya di kaki mamanya.
*ma, Nina takut mama kedinginan, semoga besok mama sudah sadar ya*
Nina mengambil alas kaki yang berada di bawah kasur mama dan memasukkannya ke dalam kantong pelastik, sambil berderai air mata ia berjalan keluar ruangan mamanya melewati ruang bapak, ia melihat bapak masih terduduk di atas kasur, bapak yang melihat Nina lalu memanggilnya.
Nina ingin menghampiri bapak, tapi masih ragu, ia membalikkan badannya sedikit dan mengusak air matanya, berusaha tersenyum.
"Nin, kamu habis darimana? Mama kemana?" tanya bapak
Nina mengumpati kantong pelastik yang berisi sandal mama dan tersenyum "Mama di depan, Nina habis dari sana. Ya sudah pak, Nina mau kembali kesana lagi ya" Nina berbohong
__ADS_1
Setelah meninggalkan bapak, ia masih terus menangis, Nina mengambil beberapa berkas dari tas dan kartu jaminan kesehatan, ia berjalan menuju kasir. Sambil menunggu proses pendaftaran, datang seorang wanita bersama seorang pria yang sangat jelas ia kenal, mereka datang terengah-engah.
"Nin, bagaimana? Bagaimana keadaan mama? Kenapa bisa seperti ini" tanya Ifah
"Nin, mama dimana sekarang?" sambung Rama
"Aku sekarang sedang mengurus administrasinya dulu kak, mama sudah dalam penanganan kok"
Setelah melakukan registrasi mereka bertiga kembali ke ruang tunggu pasien, pertanyaan yang sama masih terlontar di mulut Ifah, dengan kesedihan yang masih sangat mendalam Nina pun menceritakan semua kejadian yang menimpanya, ia tidak kuasa menahan tangis. Tangisnya pun tumpah di pelukan kakaknya. Setelah mendengar cerita, Rama pun meninggalkan mereka dan kembali pulang, karena tidak bisa ikut menemani.
15 menit kemudian, suara panggilan untuk keluarga pasien atas nama mama terdengar, Nina langsung beranjak ke menuju ruangan mama.
Nina menghampiri dokter yang sedang duduk di ruang UGD tempat mamanya terbaring.
"Dok, bagaimana mama saya?"
"Hhhhh, saya sangat khawatir mengatakan ini, semoga do'a tidak terputus dari keluarganya" kata dokter, basa basi
"Ibu mu harus melewati masa kritisnya, ia sekarang mengalami koma, entah akan berlangsung berama lama, karena pendarahan di otaknya yang sudah sangat parah. Manusia memiliki beberapa tingkat kesadaran 1-10, namun saat ini tingkat kesadaran pasien sudah dalam tingkat ke 5, maka kami tidak berani untuk melakukan operasi, apabila tingkat kesadarannya naik di tingkat 7, maka kami akan melakukan operasi, namun sebelumnya kami meminta izin kepada keluarga pasien untuk melakukan persetujuan tindakan" jelas dokter
Tanpa berkata-kata apapun, Nina paham perkataan dokter itu, ia menerima sebuah kertas persetujuan yang diberikan dokter itu.
"Silahkan anda tanda tangani disini apabila anda setuju dilakukan operasi untuk pasien"
"Ini pakaian pasien yang sudah kami gunting, di bawa saja ya"
Nina menerima sebuah kantong berisi pakaian dan kerudung milik mama, matanya terus membendung air mata, tangannya bergetas memegang kantong plastik tersebut.
Gadis itu berjalan keluar ruangan, dilihatnya bapak sudah tertidur pulas, ia semakin tak kuasa menahan sesak di dadanya.
Di ruang tunggu, Ifah baru saja selesai shalat isya, Nina teringat bahwa ia belum shalat isya. Sementara Nina sedang melakukan shalat, Ifah menuju ruang bapak, memenuhi panggilan suster yang terdengar dari speaker.
Bapak sudah terbangun dari tidurnya dan melihat kedatangan Ifah yang sedang berbicara dengan seorang suster.
"Silahkan mbak, berikan surat pindah ruangan ini ke bagian kasir, lalu kembali lagi kesini"
"Baik sus!"
Setelah memberikan surat pindah ruangan, ia menghampiri bapak dan merapikan barang bawaan di ruangan itu, wanita itu sama sekali tidak bertanya apapun dan berbicara apapun meskipun bapak sesekali memerintahkan sesuatu.
__ADS_1
"Ma, jangan lupa bawa sandal bapak di bawah kasur" lirih
Ifah terbelalak, namun tidak bertanya kenapa bapak memanggilnya dengan sebutan mama, padahal ia tahu sedari tadi bapak masih memanggil namanya.
*bapak kenapa memanggil ku mama, ah mungkin ia hanya sudah terbiasa dengan mama*
Ifah mengambil handphone di sakunya dan menelfon Nina
"Nin, kakak sedang mengurus pindahan bapak, kamu masih di sana kan?" tanya Ifah khawatir
"Iya kak, pindahnya ke ruang mana?"
.
"ICU, dekat kok, jadi kita tidak perlu pindah ruang tunggu"
"Ya sudah kalau begitu" panggil terputus, Nina masih melamun di atas tikar tipis yang mengalasi tidurnya, pikirannya kosong, air matanya terus mengalir.
Drrrtttt
Drrrtttt
Drrtttt
Suara getar handphone Nina menghamburkan lamunannya, terlihat nama Putra dari layar benda kecil itu memanggil.
Hallo Nin, bagaimana keadaan mama? Kenapa bisa seperti ini?
"Mama sedang koma, Put. Aku minta do'a untuk kesadaran mama yah" lirih Nina
Hhhhh, aku akan selalu do'akan yang terbaik, Nin. Kamu jangan menangis lagi ya, kamu harus tetap kuat untuk kesembuhan orang tua kamu, kalau kamu bersedih terus, mereka juga tidak akan kuat melihatnya
"Hiks, iya, Put. Tapi bapak tidak tahu keadaan mama sekarang, aku tidak tahu apakah bapak bisa menerima ini atau tidak, ia mempunyai penyakit jantung, aku takut kabar ini akan..... hiks hiks..."
Nin, kamu percaya kan kekuatan do'a itu ada? Aku juga yakin, bapak orang yang kuat. Tapi sebaiknya memang jangan diberitahukan dulu, semoga mama cepat sadar
"Hiks.. terima kasih, Put. Kamu selalu menenangkan ku, aku...."
Panggilan terputus, handphone Nina kehabisan baterai karena sudah dari siang ia lupa men'charge, ia kembali menjatuhkan tubuhnya dan terbaring di atas tikar.
__ADS_1
To Be Continued👀
Jangan lupa like dan comment 😝