Mama, Aku Mencintaimu!

Mama, Aku Mencintaimu!
Abu-abu (Part 1)


__ADS_3

Di ruang Intensive Care Unit (ICU)


Hari sudah menjelang sore, Ifah setia mengibas-ngibaskan sebuah kipas di atas kepala bapak, meskipun suhu di dalam ruangan itu sudah begitu dingin, namun tidak bagi bapak, penyakitnya membuat hawa di dalam tubuh pria paruh baya itu selalu panas, bapak sering mengeluarkan keringat dingin, dadanya sesak apabila tidak ada hawa dingin di dekatnya.


"Fah, mama kemana?" lirih bapak


Ifah tersontak "Mmm mama... mama sedang berada di luar pak, di sana ada Nova, Rara, Abim dan tante Ratna datang" Ifah berbohong


"Kok pada kesini semua sih? Tidak ada yang jaga rumah dong?"


"Ii.. i.. iya, rumah di kunci kok, mungkin mereka khawatir"


*sudaah.. sudah, Fah. Jangan terlalu banyak bicara, kamu hanya memperbanyak bohong pada bapak* gumam Ifah dalam hati


"Emm, pak sudah dulu ya, tangan ku pegal sekali dari pagi kipasin bapak, hehe"


Tanpa mendapat jawaban, Ifah berjalan menuju pintu, dan membuka handel pintu itu, matanya terbelalak melihat sudah banyak sekali orang di hadapannya, ada 7 orang wanita paruh baya, mereka adalah para tetangga yang sengaja datang untuk membesuk kedua orang tua Ifah.


"Sabar ya dek! Semua sudah di atur sama Allah, terus berdoa untuk bapak dan mama" Terdengar suara seorang wanita paruh baya pemilik kedai langganan mama yang sedang mengobrol dengan Nina.


"Iya bu, saya juga berusaha untuk tetap tegar, meskipun rasanya sakit sekali melihat kedua orang tua sendiri tertidur dengan melawan penyakitnya di rumah sakit sebesar ini"


Ifah yang masih memegang handel pintu, belum sempat menutupnya, dan segera menutup pintu itu lalu berjalan ke arah Nina.


Dari dalam ruang ICU


Ternyata bapak dari jauh memperhatikan Ifah yang tidak bergerak dari pintu, dari sela pintu yang terbuka, ia melihat ada beberapa orang yang ia kenal di luar, sontak ia berpikir bahwa orang-orang itu akan menjenguknya saja.


*kenapa banyak sekali tetangga yang datang kesini? padahal saya sudah biasa di rawat di rumah sakit* pikir bapak.


Ifah berjalan menghampiri Nina, tiba-tiba seorang nenek berkerudung kuning menghentikan langkahnya.


"E eh ada apa, Nek?"


"Neng, ini ada titipan dari nenek, saya tidak bisa memberikan apa-apa, hanya itu yang bisa saya berikan, hiks hiks.." lirih nenek tersebut, tangisnya pecah di hadapan Ifah setelah memberikan sebuah goody bag berwarna hijau berisi kotak makan kepada Ifah.

__ADS_1


"Ya ampun, Nek. Terima kasih banyak, kami juga tidak membutuhkan barang nek, kami hanya butuh doa dan dukungan untuk kedua orang tua kami"


"Semoga di angkatkan penyakitnya untuk kedu orang tua mu ya, jangan terlalu banyak pikiran"


Ifah seraya menyunggingkan senyumannya.


"Ibu-ibu apakah kalian sudah melihat mama?" ucap Ifah


"Sudah-sudah, perwakilan saja kalau ada yang mau melihat bapak, saya sudah tidak kuat" kata salah seorang ibu-ibu


"Ya sudah, silahkan masuk satu orang ke dalam" Ifah membukakan handel pintu ruang ICU dan mempersilahkan satu orang wanita paruh baya masuk.


Namun sebelum memasuki ruangan, Ifah memegang pundak wanita tersebut "Emm buk! Tolong jangan tunjukkan wajah sedih di hadapan bapak ya, apalagi memberitahukan kejadian yang sebenarnya mengenai mama"


Wanita itu mengangguk dan berjalan memasuki ruangan.


Yang lain menunggu di depan ruangan, Nina masih setia mengobrol dengan salah satu ibu-ibu tadi, dengan menunjukkan wajah andalan nya agar terlihat tidak begitu sedih, begitupun dengan Ifah.


Tidak lama kemudian, wanita paruh baya yang tadi memasuki ruangan bapak pun keluar, wajah nya datar tidak menunjukkan ekspresi apapun, akhirnya para tetangga yang berkunjung itu pun pergi meninggalkan ruangan dan rumah sakit, setelah memberikan sebuah amplop pertanda bantuan sumbangan kepada Ifah. Begitu banyak yang menyayangi kedua orang tua itu, karena semasa mereka sehat, mereka juga tidak pernah lupa membantu dan mengasihi sesama.


Namun tiba-tiba Nina menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan


*sepertinya aku membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan pikiran*


Gadis itu berjalan melewati lorong kosong yang tidak di lewati banyak orang, ia terduduk lemas, bersandar di dinding dan menekukan lututnya, wajahnya tenggelam, tangisnya pun pecah. Hatinya meringis kesakitan bila mengingat kejadian semalam, ia tidak bisa memaafkan diri sendiri.


*Tuhan, kenapa aku bodoh sekali? seharusnya aku bisa menemukan obat mama dan membawanya agar mama meminumnya, pasti mama tidak akan merasa sakit, dan lagi kenapa aku harus geram dan tidak segera mencari mama ketika ia tidak kembali dari kamar mandi!!! kenapa... kenapa kenapaaa??!!* hiks hiks


Nina terus menyalahi dirinya akan kejadian semalam, sungguh kenyataan yang begitu pahit ketika mendengar perkataan dokter semalam, semakin menusuk-nusuk hatinya.


*aku tidak akan memaafkan diriku sendiri apabila terjadi sesuatu yang buruk terhadap mama, aku benciiii!!! hwaaaaaaa*


"Dek! Sedang apa disini?"


tiba-tiba terdengar suara pria, memegang pundak Nina

__ADS_1


Nina mendongakkan kepalanya, ia terdiam melihat seorang pria bertubuh besar itu, ia pun segera menghapus air matanya, meskipun matanya masih bengkak dan memerah tidak bisa di tutupi.


"Kamu sudah makan? Dimana keluarga mu?" kata pria itu


"A.. ada kok, saya sudah makan" ucap Nina


"Kenapa berada disini?"


"Tidak.. aku.."


"Saya tahu, kamu yang semalam berteriak-teriak di kamar mandi kan? Bagaimana keadaan ibu mu?"


"Dia.. dia masih koma om" lirih Nina menunduk mengatakannya


"Jangan bersedih lagi, kau harus sabar, do'akan semua akan baik-baik saja, selalu berpikir positif" pria itu tersenyum "Apakah kamu punya adik?"


"Iya, adik ku dua"


"Tetap jaga kekuatan mu untuk adik-adik mu, kalau kakaknya saja kalah dengan keadaan, bagaimana dengan adik-adik mu? Apakah kamu bisa melihat mereka juga bersedih?"


Nina menggeleng


"Ya sudah, saya tinggal dulu ya, jangan takut, saya bekerja disini di gedung Rajawali, saya do'akan semoga orang tua mu baik-baik saja"


pria itu tersenyum dan meninggalkan Nina.


*kenapa semua orang hanya menyuruh ku sabar, mereka tidak mengerti apa yang aku rasakan, tapi sedikit kata-kata motivasi membuatku jauh lebih tenang, sebaiknya aku kembali ke ruang tunggu*


Nina bangkit dari duduknya dan berjalan melewati lorong panjang itu, sesekali ia mengusap matanya dan berkaca untuk memastikan tidak ada bekas-bekas bahwa ia telah menangis.


*hmmm sebaiknya aku cuci muka dulu agar tidak ada yang curiga kalau aku habis menangis*


Nina mencuci muka di toliet mushala yang berada di belakang koridor kosong, ia berkaca melihat mukanya yang sudah tidak lagi memikirkan warna wajahnya, terlihat pucat tanpa riasan.


To Be Continued👀

__ADS_1


Jangan lupa like dan comment 😝


__ADS_2