Mama, Aku Mencintaimu!

Mama, Aku Mencintaimu!
Bapak (Part 2)


__ADS_3

Malam menjelang pagi, selama perjalanan menuju ke rumah Nina dan Ifah terus meratapi keranda yang berada di dalam mobil jenazah, sesampainya di rumah tubuh mereka begitu lemas hingga terjatuh dan pingsan. Nova dan Rara yang berada di rumah sedari tadi membawa tetangga berdatangan ke rumah, karena tangisnya yang begitu pecah.


Dirumah hingga menjelang pagi masih banyak saudara dan tetangga yang terjaga, meski langit begitu gelap seakan ikut kesedihan mereka, hujan gerimis ikut serta dalam suasana duka, namun para pelayat masih setia membacakan do'a dan Qur'an Surat Yaasin, suasana duka masih menyelimuti seisi rumah, tidak seperti biasanya orang meninggal, saat ini seperti orang yang sedang mengadakan suatu acara pernikahan karena semakin pagi warga yang berdatangan semakin banyak, seakan ingin melihat konser atau drama saja.


Waktu sudah pukul 10 pagi keluarga yang berduka di rumah menunggu kedatangan bapak. Jenazah mama sudah di mandikan dan di kafankan, tapi tidak ada yang berani untuk meminta segera di kuburkan, karena suami dari jenazah ini saja belum mengetahuinya. Semua orang yang berada di sana banyak menduga-duga, berbagai prediksi terlontar di pikiran mereka.


"Apa yang akan terjadi ya jika suaminya tahu? Aku jadi penasaran" desas desus para pelayat


"Memang kenapa? Mungkin hanya akan kaget dan menangis saja"


"Hey, apa kamu tidak tahu? Suaminya kan punya penyakit jantung, kalau dia tahu hal ini, sepertinya tidak hanya akan menguburkan 1 orang, tapi dua orang" ujar si pelayat sok tau

__ADS_1


"Apa? Benarkah? Jangan bicara seperti itu, do'akan saja, semoga tidak terjadi apa-apa"


Gumam-gumaman para pelayat menghantui pikiran Nina, ia ingin sekali menepikan pikiran negatif nya itu, sesekali ia membacakan surat-surat Al Qur'an, tapi setelahnya terngiang lagi, ia terus menciumi mayat mama nya yang sudah tidak bernyawa itu. Lalu entah kenapa, para pelayat yang berada di luar gang rumah mereka itu tiba-tiba terdengar begitu ramai.


"Minggir, minggir, minggir! Suami jenazah sudah datang, beliau harus di gotong karena belum kuat jalan sendiri" kata seorang pria paruh baya


Nina mendengarnya tersontak kaget, matanya terbelalak, jantungnya berdetak lebih kencang, ia tidak ingin melihat kejadian yang tidak di inginkan, lalu berlari masuk ke dalam kamar.


Ketika bapak di gotong dengan para pelayat itu, bapak di dudukkan di sebelah jenazah yang sudah di kafankan, wajah jenazah mama itu di tutupi kain berwarna coklat, sedangkan bapak masih membelakangi jenazah, perlahan ia menengok ke balik badannya. Semua orang yang melihat kejadian itu bergumam sekaligus berdebaran.


"Bapak, tolong bangun pak... Jangan tinggalkan kami, mama sudah meninggalkan kami, kami masih membutuhkan bapak, jangan tinggalkan kami pak.. huhuhu.." isak tangis Ifah, Nova, Abim dan Rara menggebu-gebu melihat bapak saat ini tertidur lemas, seharusnya mereka tidak membiarkan bapak melihat mama saat ini, membiarkan bapak tahu saat mama sudah tidak ada, tapi mereka juga tidak ingin bapak kecewa karena tidak bisa melihat mama untuk yang terakhir kalinya.

__ADS_1


Nina yang mendengarkan suara tangisan mereka pun keluar, ia tidak bisa menahan diri di kamar.


"Pak, jangan tinggalkan kami, ada Nina dan yang lainnya disini masih membutuhkan bapak" Nina memegang jemari tangan bapaknya, terus bergumam hingga akhirnya bapak menggerakkan jari-jari tangannya dan terbangun, sontak semua orang pun kaget dan bersyukur karena masih bisa diberikan kesempatan.


"Nak... Kenapa tidak bilang dari awal? Kenapa mama bisa seperti ini?" lirih bapak


"Sudah bapak tidak usah banyak pikiran dulu, kita harus segera menguburkan mama, bapak harus istirahat ya!" Seru Ifah


"Aku di sini saja sama bapak, aku tidak kuat melihat mama di kubur, hiks hiks.." sahut Nina


"Ya sudah, kalau begitu biar aku saja dan Abim" kata Nova

__ADS_1


Nova dan Abim pun mengikuti para pelayat dan pengurus jenazah menuju tempat pemakaman. Setelah di kuburkan, Abimana mengumandangkan adzan di kuburan, membuat semua orang terharu dan menangis karena suaranya yang begitu merdu dan indah.


Setibanya di rumah, semua anak mama dan bapak, para pelayat satu persatu meninggalkan rumah duka, Ifah masih setia menemani bapak di sampingnya, tidak ada canda dn tawa seperti biasa, suasana begitu dingin dan haru.


__ADS_2