
Hari sudah hampir zuhur, mama dan Nina bersiap untuk menutup toko. Sebelum mereka akan menutup Rolling Door, Nova sudah berteriak memanggil mama dan Nina dari rumah untuk segera makan.
"Masak apa Nov?" mama menghampiri Nova yang sedang menyiapkan hasil masakannya" di bawah lantai, untuk dimakan bersama-sama. Karena pertanyaan mama tidak perlu dijawab, Nova langsung mengambilkan sepiring nasi untuk mama agar ia mau memakannya.
"Entar saja mama makannya, belum lapar" ucap mama
"Enggak ma, mama harus makan masakan aku, kali ini saja, memangnya mama begitu tidak suka ya masakan anak sendiri? Meskipun rasanya tidak seenak buatan mama, setidaknya aku sudah berusaha" kata Nova yang masih menyodorkan sepiring nasi untuk mama
Mendengar perkataan Nova, membuat mama tidak bisa berkata apapun lagi, ia langsung menghampiri kumpulan anak-anaknya yang sedang menikmati santapan makanan siangnya, mama akhirnya mau mengambil piring yang sudah di sodorkan Nova. Mama mengambil lauk pauk dan semangkuk sayur yang sudah di sediakan.
"Nov, akhirnya dimakan juga sama mama" bisik kak Ifah, Nova hanya tersenyum membalasnya
"Ummm, kurang garam!" seru mama
"E eh emang? Tapi tadi kayaknya pas" ucap Nova sambil mencicipi sesendok air sayur miliknya "Eh iya, hehehe kirain sudah pas, gini nih kalau mama ikut nyobain, pasti ada saja yang kurang"
"Makanya mama bukannya tidak mau makan masakan kamu, mama malas mengomentari nya, ya sudah tidak apa-apa di makan saja" sahut mama, mereka semua makan bersama di ruang tengah, meski tidak beralas namun bagi mereka itu adalah hal yang sangat nyaman, itu merupakan kebersamaan yang tidak akan terlupakan, meskipun formasi kurang satu yaitu Abimana.
Sementara di pondok
"Aduh, uang sedikit lagi habis lagi, masa iya aku harus minta kakak kesini lagi hari ini, sedangkan minggu lalu sudah menjenguk dan membawa uang" Abim bergumam dan memandangi kotak berisi uang yang tinggal 2 lembar, ia terlihat bingung karena masih ada 1 minggu lagi untuk bertahan sampai kakak nya datang dan memberikan uang.
"Abim! Kau sudah solat kah?" tanya ustad Fadli
"E.. Eh iya, sudah ustad" Abim tersontak dan memasukkan kotak itu ke dalam lemari kecilnya.
"Sudah makan kau?"
__ADS_1
"Belum ustad"
"Kenapa belum? Kan tadi bu Aisyah sudah masak untuk para santri" ustad Fadli mengernyitkan alisnya dan menghampiri Abim
"Biasa ustad, tidak kebagian, hehehe" Abim menjawab dengan tertawa dan lalu menunduk
"Bisa bantu saya merapihkan gudang belakang rumah? Rasanya hanya kau yang bisa saya percaya, Bim" ucap ustad Fadli sambil menepuk pundak Abim
"Eh kenapa memang ustad? Emm ya sudah saya akan bantu"
Abim dan ustad Fadli beranjak bangun dan meninggalkan kobong/kamar untuk para santri. Mereka sampai di gudang belakang rumah ustad Fadli, terlihat begitu berantakan, banyak besi-besi yang sudah tidak terpakai, kayu-kayu rapuh yang tersusun berdiri, ada pula ban motor dan mobil yang tergeletak di pojok-pojokan ruangan itu, dan tas-tas besar yang isinya kosong tertumpuk di tengah-tengah ruangan.
"Tolong bantu saya mengeluarkan barang-barang ini keluar ya" kata ustad Fadli sambil berjalan memasuki gudang miliknya
"Siap ustad!"
Setelah mengeluarkan barang-barang tidak terpakai tadi keluar, ustad Fadli dan Abim beristirahat diluar sambil menunggu mobil Pick Up untuk membawa barang. Tidak di sengaja perut Abim berbunyi hingga terdengar oleh ustad Fadli.
"E eh, aduh" Abim memegangi perutnya untuk menutupi agar tidak terdengar ustad Fadli
"Abim tunggu disini ya, saya masuk ke dalam rumah dulu"
"Iya ustad" Abim masih memegangi perutnya, ia menahan malu karena perutnya berbunyi
Tiba-tiba sebuah mobil pick up berwarna hitam datang dan berhenti tepat di halaman rumah ustad Fadli, lalu seorang pria paruh baya menghampiri Abim yang sedang duduk di depan rumah itu.
"Assalamu'alaikum, punten a, aya ustad Fadli?"
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam, iya aya kang, ini saya saja yang menaikan barang-barang ini ke mobil, ustad Fadli sedang ke dalam dulu sebentar"
"Eh iya a, mari"
Abim dan pria paruh baya itu menaikan barang-barang gudang ke atas mobil, meskipun Abim masih sangat lapar dan merasa tubuhnya sudah lemas, tetapi ia tetap berusaha kuat untuk membantu gurunya itu, baginya membantu guru adalah pahala dan kesempatan yang jarang santri dapatkan, maka Abim akan melakukan bantuannya untuk ustad Fadli dengan hati yang tulus.
Setelah selesai menaikan barang, ustad Fadli datang menghampiri mereka, dan memberikan uang untuk si akang paruh baya yang akan membawa barang-barang nya itu, lalu segera melajukan mobilnya.
"Bim, silahkan dimakan! Ini masakan istri saya" ucap ustad Fadli yang telah menyediakan sepiring nasi berisi ayam dan juga minuman di atas meja depan rumahnya
"Eh tidak usah ustad, repot-repot"
"Sudah tidak malu kamu ini, makan saja, itu rejeki kamu" ustad Fadli tersenyum
"I..iya baik ustad terima kasih banyak" Abim langsung menyantap makanan yamg ada di hadapannya, dia bersyukur sekali karena bisa memakan daging ayam, karena sudah beberapa bulan ini ia jarang sekali makan daging ayam di pondok.
"Ini, ada sedikit rejeki untuk kamu, karena sudah membantu saya, terima lah" ustad Fadli menyodorkan sejumlah uang untuk Abim, Abim merasa tidak enak menerimanya, karena bagi Abim dengan makanan itu saja ustad Fadli sudah berlebihan apalagi harus menerima uang itu.
"Maaf ustad saya tidak bisa menerimanya, saya ikhlas bantu ustad" Abim mendorong tangan ustad Fadli
"Tidak apa-apa ambil saja, anggap saja ini jalan untuk pahala saya, kalau kamu tidak menerimanya, saya akan sedih"
"Tapi ustad... baiklah saya terima, terima kasih ustad"
"Habiskan makanan mu, dan kembalilah ke aula" ucap ustad Fadli beranjak berdiri dan meninggalkan Abim yang belum menghabiskan makanannya.
"Alhamdulillah rejeki, hehe" gumam Abim mengantongi uang pemberian ustad Fadli dan melanjutkan makannya.
__ADS_1
To Be Continued👀
Jangan lupa like dan comment guys😝