Mama, Aku Mencintaimu!

Mama, Aku Mencintaimu!
Bapak (Part 1)


__ADS_3

Di rumah sakit, suasana ruang ICCU yang dingin dengan bisingnya suara denting monitor alat penunjuk detak jantung para pasien terasa mencekam. Di bagian paling pojok yang bersela hanya satu ruangan kosong dari tempat para suster berkumpul, bapak terbangun, nafasnya terengah-engah seperti habis di kejar lari, ia mencari selang oksigen nya yang ia duduki sendiri. Setelah mendapatkan selang itu, ia pasangkan ke hidungnya, lalu memanggil seorang suster.


"Sus.. suster.. suster!" lirih bapak


"Iya ada apa pak?" seorang suster wanita mendatangi bapak. Suster itu merasa heran, tidak biasanya pasiennya yang satu ini memanggil malam-malam begini, karena hanya bapak, pasien yang tidak pernah cerewet seperti pasien yang lain.


"Suster, kepala saya terasa berputar-putar, sakit sekali"


Suster wanita itu mengecek tekanan darah bapak; normal, mengecek detak jantung bapak; normal, ia meninggalkan bapak dan kembali dengan membawa obat.


"Pak, bapak terkena vertigo, silahkan di minum obatnya dulu ya"


Bapak meminum obat itu namun tangannya terasa bergetar hingga menjatuhkan gelas ketika ingin meletakkannya ke meja yang berada di sampingnya.


PRAANGGG


"Astagfirullah, ada apa ini?" gumamnya


"Suster.. suster!" panggil bapak sambil memegangi dada nya


"Kenapa pak? Oh gelasnya pecah, nanti biar saya yang bersihkan saja"


"Sus.. bisa panggilkan istri atau anak ku saja sekarang?" lirih bapak


"Oh ya sudah, sebentar ya pak, jangan banyak pikiran, itu bisa mempengaruhi kesehatan bapak saat ini"


Sebelum meninggalkan bapak, suster wanita itu merapihkan pecahan gelas yang berserakan, dengan begitu ikhlas, ia segera pergi memanggil keluarga pasiennya melalui microfon.

__ADS_1


15 menit berlalu belum ada keluarga pasien yang datang ke ruang ICCU.


Bapak meminta suster kembali memanggil keluarganya lagi, tapi sayang, setelah lebih dari setengah jam menunggu tidak ada satupun yang datang. Bapak berfikir mungkin istri atau anaknya sudah terlelap jam segini, waktu memang sudah menunjukkan pukul 23.55. Untuk yang ketiga kalinya, bapak meminta suster memanggil keluarganya sekali lagi, namun tetap tidak ada yang datang, akhirnya bapak menyerah dan memutuskan untuk tidur.


Sementara di luar rumah sakit


"Ayah, cepatlah bawa mobilnya, aku tidak tega melihat anak-anak bapak, pasti mereka sangat terpukul dengan keadaan ini, hiks hiks.." seru istri paman Dika, adik bapak. Kedua pasutri itu terburu-buru melajukan kendaraannya setelah mendengar kabar berita duka cita, sudah lama sekali mereka tidak berkunjung ke keluarga bapak, setelah mendengar kabar itu, hatinya merasa tertekan dan menyesal karena belum sempat melihat mama untuk yang terakhir kalinya.


"Iya bun, sebentar lagi kita sampai ko, kamu yang tenang bun" ucap paman Dika kepada istrinya yang terlihat khawatir


"Bagaimana dengan keadaan bapak ya, yah? Bunda khawatir sekali jika ia mengetahui yang sebenarnya, ia akan... hiks hiks"


"Sussstt.. Jangan bicara yang tidak-tidak bun, do'akan saja yang terbaik untuk mereka" paman Dika mengusap lengan istrinya yang terus menangis "Kita sudah sampai, ayo turunlah"


Paman Dika dan istrinya berjalan menuju gedung Rajawali, sesekali melihat gadget nya untuk memastikan informasi tenang ruangan bapak. Setelah sampai di ruang tunggu pasien, paman Dika bertanya kepada penunggu pasien lain yang masih terjaga, penunggu pasien itu mengatakan bahwa sudah tiga kali keluarga pasien atas nama bapak di panggil, namun tidak ada yang datang. Karena waktu semakin menjelang pagi, kedua pasutri itu memutuskan untuk beristirahat sejenak.


Gema adzan subuh berkumandang, mengisi segala penjuru, yang masih terjaga bergegas melaksanakan ibadah shalat subuh. Di ruang tunggu pasien ICCU, semua orang yang terlelap terbangun satu persatu, paman Dika dan istrinya bergerak untuk bangkit dan bergegas untuk shalat.


"Bun, papa ke tempat abang dulu ya, kamu tunggu di sini" kata paman Dika


Istrinya mengangguk, ia pun berjalan menuju ruang ICCU.


Setelah sampai di ruang bapak, terlihat bapak sudah bangun dari tidurnya, ia baru saja menyelesaikan shalat, paman Dika menghentikan langkahnya, ia berpikir sejenak karena tidak tahu harus mengatakan apa, setelah mendapatkan ide, ia memberanikan diri untuk maju.


"Bang, bagaimana keadaannya?" kata paman Dika, ragu.


"Kok kamu di sini, Dika? Masih pagi sekali"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, bang. Saya ingin melihat keadaan abang saja"


"Kamu sendiri datang ke sini?"


"Tidak, dengan istri saya. Oh iya, bagaimana perawatan disini? Sudah lebih baik?"


"Ya Alhamdulillah, seperti yang kau lihat saja Dik. Abang mu ini sudah tidak kuat lagi, jadi harus terima saja apapun keadaannya"


"Bang, kita pulang saja hari ini, bisa tidak ya?" paman Dika memulai strateginya


"Kenapa? Sepertinya tidak bisa, dokternya tidak ada hari ini, Dik. Aku harus pulang atas izin dokter" lirih bapak


"Tapi bang, disini abang tidak ada perubahan, lebih baik kita pergi ke pengobatan alternatif saja, disana akan langsung diberikan terapi dan obat-obatan herbal" paman Dika merayu


"Ya sudah, kamu saja lah yang bujuk perawat-perawat itu, aku ikut saja" bapak menyerah mendengar bujukan paman Dika


"Kalau begitu, aku urusi dulu perijinan pulangnya ya"


saat sedang ingin membalikkan badannya, bapak memegang tangan paman Dika


"Kenapa harus repot-repot, Dik? Kamu pulang saja ke rumah, biar istri dan anakku saja yang mengurus semuanya"


Paman Dika gelagapan, ia bingung harus berkata apa lagi, ia pun tersenyum dan menaruh tangan bapak.


"Tidak apa-apa, bang. Aku hanya bisa membantu sedikit, kasian anak-anak dan istri abang, pasti sudah lelah dari kemarin"


Paman Dika dan istrinya pun sibuk mengurusi perijinan pulang, tidak mudah memang karena dokter yang merawat bapak tidak berjaga hari ini, dengan segala pemaksaan, kedua pasutri itu akhirnya mendapatkan ijin untuk membawa bapak kembali kerumah.

__ADS_1


"Dika, istriku.. Apakah dia masih belum kembali kesini? Sudah tiga hari aku belum melihatnya"


suara bapak yang menanyakan istrinya terngiang di telinga paman Dika, sudah tiga kali bapak bertanya, namun tidak ada jawaban yang bisa di berikan. Paman Dika hanya bisa tersenyum dan mengalihkan pembicaraan, entah apa yang harus ia katakan setelah ini ketika tidak ada alasan lain.


__ADS_2