
Di dalam sebuah ruang tunggu pasien dekat ruang HCU, Nova, Rara dan lainnya yang tidak berjaga malam ini bersiap untuk segera pulang, tampak rona kekecewaan terpancar di wajah mereka, meski hari ini sudah makan lebih banyak dari sebelumnya, setidaknya itu memberikan energi untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan.
"Hati-hati di jalan ya!" seru Nina
"Besok aku kembali lagi, mau aku bawakan baju ganti tidak?" tanya Nova
"Boleh, sekalian bawakan bantal, kepala ku sakit sekali tidur hanya memakai tumpukan baju"
Nova mendengus sambil mengambil tas kecilnya "Ya sudah aku pulang dulu ya, kabari kalau ada apa-apa"
Nova dan yang lainnya beranjak pergi hingga tidak terlihat lagi, Nina bersama tante Ratna berjaga malam ini di ruang tunggu pasien dekat ruang HCU, sedangkan Ifah dan Abimana sudah sedari tadi berada di gedung Rajawali yang berada lumayan jauh dari sini.
"Nin, tante mau ke mama mu dulu ya"
"Iya tante, sebentar lagi teman kampus mau datang menjenguk, mereka sudah dekat dari sini"
Tante Ratna memasuki ruangan HCU. 15 menit kemudian, datanglah 2 orang pemuda dan 2 lagi pemudi, mereka adalah teman-temannya Nina di kampus, mereka saling menghujani pertanyaan kepada Nina dan memberikan dorongan positif untuk Nina untuk terus bersabar.
"Nin, kamu sudah makan? Sepertinya badan mu kurusan" tanya seorang perempuan salah satu teman Nina, menatapi haru wajah Nina dan memegang lengannya.
Nina tersenyum manis "Aku sudah makan kok, memang beberapa hari ini aku sedikit tidak nafsu makan, bagaimana aku bisa makan sementara mama ku sendiri berada di ruangan itu juga tidak makan-makan"
"Kamu harus mengerti Nin, mama kamu kan sedang sakit, kamu yang sehat harus tetap sehat untuk mengurus mereka, kalau kamu juga sakit bagaimana kamu bisa mengurusnya?"
Kata-kata itu kembali terucap dari orang yang berbeda, itulah kata-kata yang terlontar dari setiap orang yang mengasihi Nina, memang benar adanya, hal itu benar-benar harus di terima Nina.
Nina menyunggingkan senyumannya dan memegang tangan perempuan itu "Terima kasih ya, Ta. Aku sudah merasa lebih baik sekarang"
__ADS_1
"Nin, Nin! Tolong gantian berjaga, tante mau shalat isya dulu sebentar" tiba-tiba tante Ratna masuk dengan wajah datarnya dan sedikit panik
"Tapi tante..."
Belum menyelesaikan perkataannya, tante Ratna memotong "Nin, suster bilang tingkat kesadaran mama tinggal 1, kamu harus segera kesana untuk menemaninya"
Nina dan teman-temannya mendengar perkataan itu sontak panik, gadis itu pun tanpa meminta izin dengan temannya langsung beranjak meninggalkan mereka dan memasuki ruang HCU.
Nina memegangi sebuah kitab suci Al Qur'an di dekapannya, menciumi wajah mamanya, mengusap halus pipi putihnya, lalu mengaji di samping wanita yang sangat di cintainya itu, tanpa tangisan, Nina yakin mamanya masih mendengar bahwa anaknya berada di sampingnya saat ini.
Nina berhenti melantunkan ayat itu sejenak, matanya berkeliling ruangan. Di samping para pasien yang sedang dirawat di ICU, terdapat layar yang memperlihatkan kondisi detak jantung, tekanan darah, hingga kadar oksigen dalam darah. Di layar tersebut juga terlihat garis-garis yang menunjukkan grafik detak jantung pasien yang juga mengeluarkan suara sesuai detakan jantung.
Suara peralatan monitoring yang berbunyi mengikuti detak jantung para pasien dalam ruangan itu terdengar lebih cepat dari biasanya, Nina mengusap lembut pipi mama, menciuminya, hatinya bergetar melihat mata mama nya mengeluarkan setitik air mata, ia segera menghapusnya, lalu bergumam
"Mam, mama, mama sudah sadar? Mama jangan menangis, aku disini"
Nina terus membacakan kalimat tauhid dan tasyahud. Seorang perawat yang terlihat lebih senior membawa alat kejut, menempelkan ke atas dada wanita yang terbaring itu, menghitung dari satu sampai tiga, suara monitor alat jantung terus berbunyi hingga menimbulkan suara panjang, alat kejut telah di gunakan tiga kali, namun tidak meunjukkan respon apapun dari pasien.
"Innalillahi wa innailaihi raj'un" Nina bergumam dan menggelengkan kepalanya tidak percaya
"Tidak, tidak, TIDAAAK! HWAAAAAA"
Tangis pun pecah ketika semua perawat itu berhenti melakukan tindakan, mereka terdiam lemas dan menatapi gadis yang berada di samping mama nya itu. Nina tidak terkontrol, ia memeluk tubuh dingin mama, membangunkannya meski ia tahu tidak akan bisa, menggoyang-goyangkan badan mamanya yang telah terbaring lemas.
"HWAAAAAA, MAMAAA! Jangan pergi, jangaaan, bagaimana aku mengatakan ini kepada bapak? Mama, bangunlah, bangunlah.. Huhu.. hiks hiks"
Salah seorang perawat yang meratapi tangisan gadis itu bertanya-tanya kepada rekan di sampingnya
__ADS_1
"Kenapa ia menyebutkan bapaknya? Apakah bapaknya sakit juga?"
"Bapak gadis ini juga di rawat di gedung Rajawali, ia mengidap penyakit jantung"
"Ya ampun, menyedihkan sekali"
Perawat itu seketika pergi, lalu datang membawa kursi roda, membangunkan Nina yang telah menungkup di atas badan mamanya, badannya begitu lemas hingga jatuh ke lantai, para perawat itu membantu membangunkannya hingga terduduk di atas kursi roda.
Nina di bawa menjauh dari kasur besi itu, dengan lemas ia mengangkat handphone di tangannya yang bergetar sedari tadi.
"Ha ha hallo..."
"Nin, kamu kenapa?" suara kak Ifah terdengar khawatir
"Mmm mam mama, mama sudah... hiks hiks"
Panggilan terputus, Nina baru tersadar bahwa ia juga harus mengabari orang-orang yang berada di rumah. Sambil menghapus titik air mata yang begitu deras jatuh di pelupuk matanya, satu persatu ia memanggil nama-nama orang penting di handphone nya itu. Tante Ratna datang dengan wajah kesedihan, memeluk Nina, seakan ia sudah mengetahui keadaan sebenarnya, lalu ia berjalan menuju kasur mama.
Di rumah
Nova yang telah menerima panggilan pembawa duka itu terkejut, tangannya bergetar hingga menjatuhkan handphone di tangannya, wajah putihnya pucat, tangannya meremas kepalanya marah.
"Hwaaaaa, mamaaaaaa, hwaaaaa"
Tangisan dan teriakannya membangunkan adik-adiknya yang telah tertidur, membawa para tetangga di samping rumahnya berdatangan, semua orang di sana menumpahkan tangisannya mendengar kabar duka itu.
"Sabar dek, sabar, istigfar, ini semua sudah jalan Allah" Itulah yang terucap dari mulut-mulut orang yang berada di sana, rasa sakit yang di rasakan Nova di hatinya begitu terasa hingga memecahkan tangisan yang begitu histeris, ia menyesal malam ini tidak berada di rumah sakit.
__ADS_1
Di koridor rumah sakit, Nina di dorong oleh seorang perawat menuju kamar mayat, matanya melihat kasur besi yang membawa mamanya semakin menjauh dengan langkah para perawat terburu-buru, di sana sudah ada tante Ratna, Ifah dan Abimana berlari mengikuti mereka. Rasanya Nina juga ingin berlari namun kakinya terasa begitu lemas hingga ia harus duduk di atas kursi itu.