
Disebuah desa yang terletak di pertengahan kota, tidak jauh dari hiruk pikuk keramaian dan kendaraan yang berlalu lalang, masih segar dan asri pula karena masih terdapat pohon-pohon tinggi yang menghiasi pinggir jalan. Perumahan sederhana yang dibangun tidak terlalu megah bagi para penghuninya juga begitu nyaman di pandang.
Tap
Tap
Tap
"Assalamu'alaikum! hosh.. hosh.. hosh..." Seru Rara terengah-engah sambil melepaskan sepatunya karena berlari dari sekolah menuju kerumah.
Sekolahnya memang dekat dari rumahnya, jadi tidak perlu kendaraan untuk pulang pergi, karena semua kakak nya juga bersekolah di sekolah dasar itu, maka Rara yang anak bungsu mau tidak mau harus bersekolah disana juga.
"Wa'alaikumussalam... Tumben banget Ra pulang cepet? Minta duit jajan tambahan ya?" Jawab Nina dengan senyum miring, sambil menyodorkan tangannya kepada Rara untuk bersalaman.
"Apa sih kak!? Aku mau ngambil buku aku yang ketinggalan tau, aku lupa membawa buku PR ku hari ini, sekalian aku mau ngambil pianika aku untuk latihan" Kata Rara sambil bersalaman dengan Nina dan melepaskan sepatunya.
Rara langsung berlari ke dalam rumah untuk mencari buku dan pianika nya, namun hanya buku yang ia dapatkan. Rara membuka dan mengacak - acak isi lemari yang berada di ruang tengah rumahnya dengan muka panik.
"Eee.. e eh nyari apa sih kamu? Kenapa di berantakin begini? Lihat, isi nya keluar semua kan jadinya!" Seru Nina, karena kesal melihat adiknya itu memberantaki barang-barang yang telah ia rapihkan sebelumnya.
__ADS_1
"Kak! Pianika aku dimana sih? Kok gak ada? Aku lagi buru-buru nih" Jawab Rara yang masih mengobrak abrik bupet dan lemari nya.
"Lah mana aku tahu, coba tanya mama! Makanya neng kalo naro barang itu harus pada tempatnya dong! Jangan asal sembarangan aja dimana - mana naronya kamu tuh!"
"Iih kakak, bukannya bantuin nyari malah ceramah. Mama dimana kak?" Tanya Rara
"Di toko, eh tapi kamu jangan kesana!" Kata Nina yang mencegah Rara untuk pergi.
"Mama lagi jagain toko, nih biar kakak aja yang nyariin" Sambil kesal Nina bantu mencarikan pianika adiknya, dan akhirnya pianika itu ketemu, pianika itu berada di dalam kamar kak Ifah.
Karena waktu memainkan pianika itu Rara sudah sangat mengantuk, dia langsung meletakannya di samping lemari kakak nya hingga lupa dan malas mencarinya lagi.
"Hehehe... Iya kak, aku lupa, udah ah aku mau ke sekolah lagi, sudah di tungguin sama temen-temen" Jawab Rara sambil berlari dan memakai sepatunya
"Eh enak aja, bilang apa?"
Rara menengok dan membalikkan badan "Hmm! Makasih kakak galak! Dadah hahahaha..." Kata Rara sambil berlari meninggalkan rumah.
Nina kaget mendengarnya "Iish! Dasar adik nyebelin!" gerutu Nina.
__ADS_1
Nina yang masih kesal dan hatinya sedang panas di buat semakin kesal atas tindakan adiknya dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan bapak yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua hanya tersenyum melihat tingkah anak-anaknya. Beliau tidak ingin ikut campur ke dalam pertengkaran mereka, karena merasa sesak di dadanya membuat nafasnya juga tidak kuat untuk bicara.
Sementara di toko
"Bu, beli rokok ada?"
"Eh iya, ada. Mau berapa?"
"Setengah aja bu"
Mama bangun dari tempat duduknya dan langsung membuka kotak berisi rokok untuk mengambil rokok yang di pinta si pembeli.
Selesai bertransaksi mama kembali duduk di bangku luar yang disediakan di luar toko.
Mama memandangi jalan raya yang di lalui banyak kendaraan. Sambil duduk berselonjoran kaki mama memijat-mijat kakinya yang sudah terasa sangat pegal.
Di kaki putihnya terdapat jendolan tulang bekas tabrakan yang menimpanya sewaktu mengantar Nina pergi ke sekolah untuk Masa Orientasi SMA nya, bersama dengan Rara mama mengendarai motor dan tertabrak oleh seorang pemuda dari arah berlawanan.
To Be Continued👀
__ADS_1
Jangan lupa like & comment ya😋