
15 menit kemudian, setelah Ifah pergi dan kembali pulang ke rumah. Mama dan Nina masih bersama di ruang tunggu pasien. Namun, mama mondar-mandir dari pintu masuk ruang UGD ke ruang tunggu pasien, ia terlihat gelisah akan sesuatu.
"Ma, sudahlah duduk saja, tidak usah mondar-mandir seperti itu, memangnya mama ga capek?" tanya Nina
"Mama hanya mau melihat keadaan bapak, Nin. Katanya bapak mau pindah ruangan"
"Tapi mama harus duduk nunggu nya, jangan berdiri, kasihan kaki nya, nanti kalau mau pindah pasti di panggil kok"
"Mmmm, mama mandi saja deh, badan mama sudah lengket" mama menunduk dan menempelkan lututnya ke tikar
"Ya sudah, aku ikut ya, aku mau sekalian wudhu"
"Jangan, nanti siapa yang jagain barang-barang ini" cegah mama sambil membuka sebuah tas besar yang berada di samping nya "Kamu bawa baju ganti mama dan alat shalat tidak, Nin?"
"Oh iya, adanya ini ma, aku juga tidak bawa obat mama, karena tadi aku cari-cari tidak ada" lirih Nina, sambil mengeluarkan alat shalat dan baju ganti mama dari tasnya
Mama mengernyitkan alisnya "Kok kamu bawa mukenah nya yang ini, Nin? Mama maunya yang bagus, Nin"
"Tidak ada lagi ma, sudahlah ini saja yah" Nina mengambil mukenah dari tangan mama dan memasukkannya kembali, memang mukenah yang di bawa Nina tidak begitu bagus, namun biasanya mama menerima apapun yang di bawa ke rumah sakit, entah kenapa hari ini mama ingin memakai mukenah yang lebih bagus dari yang di bawa Nina.
Sampai hari inipun mama memakai pakaian yang lebih bagus dari biasanya, mama terlihat lebih menawan dengan balutan gamis bercorak bunga dan hijab panjang sedada yang menutupi tubuh berisi nya. Ia juga mengambil pakaian yang telah di bawa Nina yang lebih bagus dari pakaian yang lain untuk diganti setelah mandi.
Mama pun bergegas ke kamar mandi, sementara Nina duduk di ruang tunggu pasien sambil memainkan handphonenya, sesekali setiap ada suara suster berbunyi dari arah speaker, Nina tersentak karena ia pikir suara itu memanggil keluarga bapaknya.
30 menit terlewati, Nina masih menunggu sambil memainkan handphone dan melirik ke arah jalan menuju kamar mandi, ia berpikir tidak biasanya mama mandi selama ini.
1 jam sudah ia menunggu, namun tidak terlihat sedikitpun batang hidung mama nya, Nina mulai geram, ia berpikir mungkin mama nya sudah selesai sedari tadi, tapi tidak datang kesini dan datang ke ruangan bapak. Nina mengetikkan benda kecil di tangannya dan berkirim pesan dengan kakaknya di rumah, ia melaporkan bahwa mama nya telah mandi namun tidak datang-datang setelah 1 jam.
__ADS_1
Seorang ibu-ibu muda yang sedari tadi berada di ruangan bersama Nina, mondar-mandir dan bolak-balik dari arah kamar mandi ke ruang tunggu, setiap ia datang, wanita itu tersengal-sengal dan memegangi perutnya.
"Aduuh, tuh orang lama banget lagi di kamar mandi, belum keluar-keluar juga" sambil bolak-balik
Nina yang mendengarnya dan melihat wanita itu penasaran dan ingin melihat keadaan disana. Akhirnya ia memutuskan untuk beranjak ke kamar mandi, ternyata memang ada seseorang di dalam kamar mandi bagian tengah, Nina mengecek satu persatu dua ruang kamar mandi yang ada disana, yang satu kamar mandi khusus karyawan sedang terisi dan satu lagi terkunci entah siapa yang berada di dalam, setelah tidak menemukan apa yang sedang di carinya, gadis itu pun kembali menuju ruang tunggu.
Kembali duduk di ruang tunggu, datang lagi seorang pria yang juga keluarga pasien lain, pria itu juga mengatakan hal yang sama seperti wanita tadi. Nina pun semakin penasaran, perasaannya semakin tidak enak, di lihat kembali jam yang ada di handphonenya, sudah 1,5 jam mama nya tidak kembali, Nina langsung beranjak pergi ke arah kamar mandi yang terkunci.
*tidak, tidak mungkin, mama tidak mungkin masih berada di dalam kamar mandi itu, tidak, jangan, jangan!*
Nina mendorong sedikit pintu kamar mandi yang terkunci itu, tubuhnya sudah lemas dan bergetar, sesekali ia berpikir positif dan tersenyum menghibur perasaannya sejenak.
Gadis itu melihat banyak keluarga pasien di ruang tunggu yang berada tepat di samping kamar mandi itu dan bertanya "Pak, apakah pintu kamar mandi ini sudah lama terkunci? Apakah ada orang di dalam nya?"
"Iya dek! Sepertinya ada seorang wanita di dalam sedang mandi dan menyalakan musik begitu keras hingga tidak mendengar ada yang ingin masuk" jawab seorang pria
Nina menemukan celah itu yang berada di samping pintu, matanya menemukan sebuah goody bag berwarna biru yang jelas-jelas tadi di bawa mamanya untuk mandi, tubuh Nina semakin bergetar, mukanya semakin memucat, hatinya berdebar kencang.
"Wah, iya tuh ada wanita di dalam sedang apa dia?" kata seorang pria yang di tanya Nina, ia juga mengintip dari lubang di atas pintu.
Nina tersentak dan lari meninggalkan kamar mandi itu dan menuju ke arah satpam yang sedang berjaga di depan ruang tunggu pasien.
Nina datang terengah-engah, suaranya hampir tidak jelas terdengar "Eppp pak.. pak! tttt tto tolong tolong pak, ada seorang wanita yang tidak keluar-keluar di kamar mandi pak!".
Tanpa menunggu jawaban dari satpam itu, Nina kembali berlari ke kamar mandi, satpam itu pun ikut berlari mengikuti Nina. Tanpa disadari banyak penunggu pasien yang mengikuti mereka, disana sudah ramai sekali.
"Minggir semua, saya akan dobrak pintu ini!" kata seorang satpam tadi. Nina yang berada di belakangnya, berkomat kamit dan membacakan istigfar dalam hatinya, ia memainkan jemari tangannya sudah dingin, sesekali ia menggigitnya, ia juga masih berharap bahwa bukan mama nya yang berada di dalam sana.
__ADS_1
Bruaaakkkk
Braaakkk
Pintu kamar mandi pun terbuka, Nina tersontak dan langsung masuk ke dalam, ia menemukan mama nya sudah membungkuk di samping kolam kamar mandi.
"Mamaaaaaah!" Nina mengangkat tubuh mama nya yang membungkuk, lalu memangku tubuhnya, Nina terduduk lesu sambil terus membangunkan mama nya yang sudah berlumuran muntahan berwarna hijau. Nina berpikir bahwa muntahan berwarna hijau itu adalah pasta gigi yang tengah di pakai mama nya, karena dalam keadaan itu mamanya masih memegang sebuah sikat gigi.
"Aaaaaa mamaaaa, banguuun mamaaa, ini Nina maaa, mama kenapaaa? Mama bangun maaa" Nina masih memeluk dan menangisi mama nya yang berada di pangkuannya. Suara Nina yang begitu keras mengundang banyak orang berdatangan ke kamar mandi itu.
Lalu tiba-tiba datang dua orang berbaju putih ke dalam kamar mandi, dan mengangkat tubuh mama, orang-orang itu adalah seorang perawat rumah sakit, Nina pun tidak mencegahnya, tubuhnya sudah lemas, ia juga di angkat oleh beberapa orang di sana untuk keluar.
"Aaaaa mamaaa, huuu huhuhuhu" Nina terus menangis di ruang tunggu pasien dekat kamar mandi. Seorang wanita paruh baya memberinya sebuah gelas berisi air putih agar perasaan nya tenang, karena sedari tadi Nina terus di hujani pertanyaan namun tidak menjawab. Setelah meminum air putih itu, perasaannya sedikit lebih tenang.
"Dek! Boleh pinjam handphonenya, atau carikan nomor telepon yang bisa di hubungi untuk mengabari keluarga mu" Kata wanita paruh baya itu
Nina mengambil handphone dari kantongnya, dan mencari nama kak Ifah. Lirihan suara tangisnya masih terdengar sambil menyebut suara mama.
"Hallo, Mbak! Ini adik mu sedang menangis di rumah sakit, ibu mu pingsan di kamar mandi dan sekarang sudah masuk ruang UGD"
Hah? Apa! Iya, iya, saya segera ke sana
Ifah mendengar suara tangisan Nina semakin tidak percaya, ia pun segera beranjak pergi bersama saudara laki-lakinya, Rama.
To Be Continued👀
Jangan lupa like dan comment 😝
__ADS_1