MARRIED CAMUCHO

MARRIED CAMUCHO
01. Pengantin Pengganti


__ADS_3

Sepatu hitam dengan heels tinggi terdengar mengetuk lantai, mengiringi setiap langkah saat memasuki sebuah ruangan dengan dua bilik pintu besar berwarna coklat muda.


Wanita terbalut pakaian hitam itu menatap kesal pada pengantin wanita di depannya yang sedang terduduk anggun sambil mengatur riasan menggunakan cermin kecil.


"Apa harus begini? Kau memberitahuku perihal pernikahanmu ini secara tiba-tiba," tutur Dayana Harvey tengah protes.


Wanita bergaun putih pengantin itu melirik Dayana dengan santai. "Aku sudah bilang dari dulu mau menikah."


"Tapi kau baru memberitahuku kalau pernikahannya hari ini," protes Dayana pada kakaknya yang bernama Rebecca Harvey. "Kau bahkan tidak memberitahu Mom dan Dad?"


"Kenapa kau memakai baju itu? Kau menganggap pernikahanku ini hari berkabung?" tanya Rebecca yang kini mengamati penampilan Dayana dengan raut aneh di wajah.


"Aku kebetulan sedang menghadiri pemakaman nenek temanku," sahut Dayana mengangkat bahu santai.


"Sudahlah. Ganti bajumu, sana! Aku sudah menyiapkan baju yang bagus untukmu," titah Rebecca yang beranjak bangun hendak bersiap-siap.


Namun kepalanya tak sengaja mengarah ke luar jendela. Terlihat beberapa orang membawa kamera sedang saling bahu membahu bersembunyi di beberapa tempat, termasuk semak-semak.


"Oh, ****!" umpat Rebecca refleks berjongkok.


Dayana kaget melihat kelakuan aneh kakaknya yang seakan tengah menyembunyikan diri dari sesuatu.


"Ada apa denganmu?" tanya Dayana.


Rebecca menunjuk-nunjuk kecil ke arah jendela. "Lihat di luar. Apa mereka wartawan?"


Dayana berjalan mendekati jendela lalu mengamati beberapa orang yang sedang mengendap dan sembunyi-sembunyi di beberapa semak bahkan pohon.


"Sepertinya." Terlihat ada kamera di tangan orang-orang itu.


"Oh, tidak. Aku tidak boleh ketahuan oleh mereka," monolog Rebecca yang berjalan sambil berjongkok mendekati bilik ganti di dekatnya.


"What's wrong with you, Bec?" tanya Dayana mengernyit heran.


"Tidak boleh ada yang meliput aku menikah hari ini. Image-ku akan hancur jika aku ketahuan punya kekasih selama ini dan akan menikah dengannya sekarang".


Dayana memutar bola mata malas. "Come on, Rebecca. Dewi perawan hanya gelar yang tidak berguna untukmu."


"Kau tidak mengerti, Day. Sebutan Dewi Perawan lah yang membuatku dikenal banyak orang sampai sekarang."


"Lalu apa? Kau mau membatalkan pernikahannya secara tiba-tiba hanya karena ada wartawan dan kau tak ingin menghilangkan gelar perawanmu?"

__ADS_1


Rebecca menggigiti kukunya seraya berpikir keras untuk mencari solusi acara pernikahannya ini. Dia tak mungkin menyia-nyiakan dekorasi indah dan dana yang dikeluarkan cukup banyak oleh sang kekasih. Rebecca ingin acara ini terus berlangsung sampai selesai tanpa menimbulkan kecurigaan publik padanya dan gelar "Dewi Perawan" darinya dicopot.


"Day, kau mau membantuku?" tanya Rebecca dengan tatapan serius pada Dayana.


...----------------...


"You ready?" tanya seseorang pada sang pengantin laki-laki.


Arturo Camucho dengan balutan jas rapinya mengangguk mantap. Dia kembali mempersiapkan diri sebelum menemui calon istrinya yang sebentar lagi berjalan ke altar pernikahan mereka yang ada di luar ruangan.


Arturo mengarahkan netra pada wanita yang terbalut gaun putih panjang terseret oleh setiap langkahnya memasuki altar. Wajah cantiknya tertutup kain tipis berbahan organdi, sehingga Arturo harus menahan kesabaran untuk melihat wanita yang akan menjadi istrinya itu.


Mereka berdua kini saling berhadapan. Arturo terus menatap ke arah wanita yang dikiranya Rebecca. Tapi, pemikiran itu lantas menjadi keraguan saat matanya tak sengaja tertuju pada jari jemari wanita di depannya yang memegang buket bunga kecil.


Jika wanita itu bukan Rebecca, lantas siapa dia?


Prosesi pernikahan pun dimulai. Arturo terus menatap wajah Rebecca yang tertutup penuh pemikiran selama sang pendeta memberikan do'a dan tuntunan untuk janji pernikahan.


Arturo mulai menjabat tangan wanitanya karena mereka berdua harus bersiap untuk menyuarakan janji pernikahan.


"Aku, Arturo Camucho... Membawamu, Dayana Harvey, untuk menjadi istriku... "


APA?


"Mempelai wanita?" panggil sang pendeta yang membuat Dayana tersentak dari lamunan. Ternyata Arturo sudah menyuarakan janji pernikahan sampai tuntas.


"A-aku... Aku... Dayana... Dayana... Harvey... Membawamu, Arturo... Untuk..."


Dayana melirik ke arah beberapa wartawan yang sudah terlihat mengambil ganbarnya dari berbagai tempat persembunyian mereka.


Bagaimana ini?


Di tengah kegelisahan, Dayana merasakan genggaman tangan Arturo menjadi erat seakan tengah memberi isyarat.


"Untuk... Menjadi suamiku. Aku berjanji untuk mencintai dan menghormatimu... sejak hari ini, untuk lebih baik, lebih buruk, untuk kaya, untuk miskin... sakit, dan kesehatan... Semua... Semua hari-hari kehidupan kita, sampai kematian memisahkan kita..." lanjut Dayana terbata.


"Kalian bisa saling mencium sekarang," kata sang pendeta.


Dayana mengerjap kaget melihat Arturo memegangi ujung kain penutup wajahnya yang kemudian diangkat agak perlahan.


Kini, wajah mereka berdua tanpa penutup apapun saling berhadapan. Dayana menelan ludah panik meski Arturo hanya melempar sorot datar, seakan tak punya masalah apapun.

__ADS_1


Cekrek! Cekrek! Cekrek!


Suara langkah kaki dari beberapa orang mulai terdengar berdatangan. Mereka mengambil gambar pengantin di altar dengan antusias.


Namun saat sadar jika wajah wanita yang dibidik bukan targetnya, mereka cukup kecewa dan terheran.


"Dia bukan Rebecca?"


"Apa ini? Apa kita datang ke pernikahan yang salah?"


"Siapa yang sudah menyebarkan rumor bodoh ini? Sia-sia!"


Di tengah keluhan para wartawan itu, Arturo menangkup lembut Dayana lalu memajukan wajahnya sehingga bibir mereka berdua saling menempel.


Kenapa dia menciumku?


Ciuman itu pun terlepas. Dayana mengerjapkan matanya dengan polos karena memang sedang tak mengerti apapun kejadian yang menimpanya ini.


Sementara itu Arturo dengan santai mengelus bibir bawah Dayana yang sudah berkilau karenanya. Ia mengulas senyum sekilas seakan terpaksa sambil mengelus kepala Dayana sambil mendekatkan bibir ke telinganya untuk membisikkan sesuatu.


"Tersenyum saja. Mereka sedang merekam kita."


Dayana melirik ke arah beberapa wartawan yang ternyata memilih untuk mengambil gambar mereka karena mengenal Arturo juga sebagai tokoh yang dikenal oleh publik.


Dengan terpaksa, Dayana mengulas senyum canggung sambil melambai-lambaikan tangan seakan dirinya adalah Miss Universe.


Aku tak mengira akan seperti ini...


Dayana mulai melirik ke arah Arturo yang merangkul bahunya dengan lembut, menuntunnya untuk turun dari altar. Bahkan sikap gentle dengan terus memegangi tangan membuat Dayana melongo.


"Kenapa kau masih diam?" tanya Arturo menyentak lamunan.


"Apa?"


"Kau tidak mau pergi? Mau tetap di sini untuk menikmati pernikahanmu?"


Kening Dayana berkerut dalam. "Kau--"


"Apa mau kugendong?" tawar Arturo tiba-tiba dengan raut yang begitu datar seakan ucapannya barusan tak memberikan kesan apapun.


"Kau gila!" decis Dayana bergerak turun dari tangga dengan mandiri sambil susah payah menyeret gaunnya.

__ADS_1


Tiba-tiba kakinya hampir terpeleset dan jatuh, namun Arturo segera menangkap tubuhnya. Kejadian itu pun membuat para wartawan yang hendak pergi kini kembali berbalik untuk mendapatkan gambar romantisme keduanya.


"Ceroboh sekali," bisik Arturo membuat Dayana segera menjauhkan diri dari lelaki itu.


__ADS_2