MARRIED CAMUCHO

MARRIED CAMUCHO
05. Lelaki Misterius Baik


__ADS_3

Kedua mata Dayana beredar mencari seseorang yang hendak ditemui dari banyaknya orang yang sedang menikmati malam dalam sebuah kelab. Kakinya pun melangkah melewati orang-orang itu hingga ia menemukan temannya sedang berjoged di lantai dansa bersama tiga lelaki yang sedang menggoda.


"Miley!" panggil Dayana membuat Miley Spencer menyadari kedatangannya.


"Dayana, you here!" seru Miley tetap menggoyangkan tubuh di tengah tiga lelaki itu.


Dayana menarik tangan Miley untuk mengajaknya pergi dari kerumunan tersebut. Mereka memilih duduk di kursi bar alih-alih menjadi pusing di tengah keramaian seperti tadi.


"Kau membuat semua lelaki itu kelaparan seakan mau melahapmu, Mile," cibir Dayana lalu memesan minumannya.


"Aku ingin menikmati malam yang menyenangkan ini."


Bartender menyajikan minuman untuk Dayana dan Miley di tengah percakapan mereka.


"So, bagaimana dengan kompetisi America's Next Top Model yang akan kau ikuti itu?" tanya Dayana sebelum meneguk birnya.


"Aku akan tinggal di kamp bersama model lain selama acara berlangsung. Makannya aku ingin menikmati kebebasanku sekarang sebelum aku pergi."


"Pasti sainganmu banyak. Kau sudah melihat mereka?"


Miley mengerang kecil dengan nafas berat. "Mereka sangat, sangat, sangat tinggi dan cantik. Aku tak yakin bisa menang."


"Jangan begitu. Aku bahkan lebih pendek darimu," kata Dayana mencoba menenangkan rasa putus asa sahabatnya itu.


"Ow. Kau tahu? Salah satu jurinya adalah kakakmu, Day."


Dayana mengerjap. "Rebecca?"


Kepala Miley mengangguk membenarkan. "Kudengar dia dikenal sebagai mata elang jika berkaitan dengan modeling. Salah sedikit saja, dia bisa langsung mengomel banyak."


"Rebecca memang agak perfeksionis dan penuh ambisi, apalagi jika berkaitan dengan pekerjaannya."


"Kau tidak mau mengikuti jejak kakakmu, Day? Menjadi model?"


Dayana tertawa geli. "Mile, aku juga punya pekerjaan."


"Benarkah? Kau sekarang sudah sadar mau bekerja?"


"Aku seorang kolektor pria tampan dan kaya. Gaji pekerjaanku ini bahkan bisa melebihi bayaran Rebecca," cetus Dayana percaya diri.


Miley menggeram kesal mendengar jawaban itu saat dia serius terkejut mengira Dayana yang pengangguran sudah sadar diri ingin bekerja.


"Modal menggoda saja, bayaranmu bisa milyaran. Kau luar biasa, Day!" sarkas Miley. Namun Dayana malah terlihat santai menanggapinya karena tahu Miley hanya bercanda.


"Itu salah satu cara agar kau bisa kaya secara instan," sahutnya cengengesan.


Mereka berdua pun menghabiskan waktu minum dan menari di dalam kelab tersebut. Saking banyaknya minum, Dayana sampai mabuk berat begitu pun dengan Miley.


Dengan langkah gontai, Dayana keluar dari tempat ramai itu untuk pulang karena kepalanya mulai merasa begitu pusing. Dia berusaha fokus mengendarai mobil perlahan dalam keadaan mabuk hingga...


Brakkk!


Tubuh Dayana tersungkur ke depan. Ia melenguh kecil memijat-mijat keningnya yang mulai berdenyut nyeri.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Ketukan itu membuat Dayana menurunkan kaca mobil di sebelahnya. Dia mengulas cengiran dengan keadaan berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan efek mabuknya saat ini.


"Are you okay, Miss?" tanya lelaki itu membungkuk santai untuk melihat keadaan Dayana di dalam.


"Sorry, Sir. Aku hendak parkir, tapi tiba-tiba kepalaku sakit," kelit Dayana.


"Kau mabuk?" Pertanyaan itu terlontar dengan nada normal, tak ada amarah atau kekesalan di dalamnya.


"No," elak Dayana.


"Aku bisa mencium bau alkoholnya, Miss." Senyuman kecil tercipta di bibir lelaki itu. "Alright. Sebenarnya sekarang kau menabrak mobilku."


"Really?" Dayana melepas sabuk pengaman lalu keluar dengan gerakan oleng untuk melihat keadaan mobil mereka berdua.


"Oh my god. Sorry..." ujarnya menutup mulut seakan tengah terkejut. "Apa dia baik-baik saja?"


Lelaki berkumis dan berjanggut tipis itu menoleh ke arah tunjuk Dayana pada mobilnya.


"Mmh, aku tidak yakin."


Dayana berjalan mendekat ke sebelah mobil itu lalu mengelus-elus bagian atasnya bak mengelus kepala seorang anak kecil. Dia bahkan beberapa kali memberikan kecupan di sana yang membuat beberapa orang lewat melemparkan tatapan aneh padanya, termasuk sang pemilik mobil.


"Kau tidak apa-apa? Aku baik-baik saja, kok. Mobilku hanya lecet sedikit. Kau juga, kan?" oceh Dayana bicara sendiri pada mobil.


"Baiklah, Miss. Aku harus segera pergi. Mungkin kau bisa menepikan mobilmu dulu agar aku bisa melajukan mobilku."


"Aku akan-- Huek!" Dayana merapatkan mulut menahan mual yang dirasakannya saat ini.


"Huek!" Pada Akhirnya, Dayana memasukkan kepalanya lewat jendela mobil lelaki itu yang terbuka.


Muntahan dari dalam perut Dayana pun harus mendarat di kursi depan mobil tersebut, sampai yang empunya mengusap wajah coba mengumpulkan kesabaran melihat mobilnya dimuntahi Dayana.


...----------------...


Wajah yang tersorot hangat sinar mentari membuat Dayana terbangun dari tidur lelapnya. Dia melenguh kecil lalu membuka mata dengan perlahan supaya bisa menyesuaikan pengelihatan dengan cahaya sekitar. Tubuhnya menggeliat kecil di atas ranjang empuk yang ditempatinya.


"Apa ini? Di mana aku?" gumam Dayana bertanya-tanya dengan tubuh yang sontak bangun.


Matanya beredar ke sekitar kamar tersebut sambil memikirkan alasan dirinya berada di sana. Setelah melihat sekitar untuk memastikan, Dayana menduga berada di sebuah kamae hotel.


"Aku tidak ingat datang ke sini," monolognya sambil beringsut dari ranjang.


Setelah membersihkan diri terlebih dahulu di sana, Dayana pun keluar dari kamar hotel tersebut. Dia pergi menghampiri pegawai bagian front desk terlebih dahulu untuk memastikan sesuatu.


"Excuse me, Miss. Aku ingin tanya tentang orang yang memesan kamar nomor 5221 semalam."


"Maafkan saya, Miss. Kami tidak bisa membocorkan data pribadi yang menginap di sini," sahutnya membuat Dayana menelan pahit kecewa.


Terdiam sejenak untuk berpikir, akhirnya Dayana mendapatkan sebuah cara untuk mendapatkan informasi dari pegawai tersebut.


"Bantulah aku, Miss. Aku tiba-tiba ada di kamar itu dalam keadaan... telanjang," katanya berbisik di akhir. "Aku hanya ingin mencari tahu orang yang sudah melecehkanku."

__ADS_1


Maafkan aku.


Pegawai itu menatap kasihan pada Dayana yang kini memperlihatkan akting sempurna seperti seorang wanita yang habis dilecehkan.


"Sebentar, Miss." Dia membuka-buka buku tamu untuk menemukan yang diinginkan Dayana.


"Orang yang memesan kamar tersebut bernama Sebastian Reeves."


"Sebastian Reeves?" Kening Dayana berkerut heran karena ia merasa tak pernah kenal dengan lelaki bernama Sebastian.


"Bisa aku minta nomornya?" pinta Dayana memelas.


Rasa senang pun datang ketika Dayana mendapatkan nomor dari lelaki bernama Sebastian. Ia penasaran dengan sosok yang sudah berbaik hati memesankannya kamar hotel tanpa niatan jahat apapun. Meski Dayana tadi malah menuduh lelaki itu menodainya di depan pegawai hotel.


Namun sebelum itu, Dayana ingin pulang dulu ke rumahnya karena hari ini harus menemui Damien untuk berkencan. Namun mobilnya tidak diketahui ada di mana sekarang, alhasil Dayana harus pergi memakai taksi. Setibanya di sana, ia mendapati sebuah tas belanjaan cukup besar tergeletak di depan pintu.


"Apa ini?" gumam Dayana sambil membuka tas belanjaan itu yang ternyata berisi sebuah tas bermerek Channel dengan sebuah kunci mobil dan kartu ATM di dalamnya.


Dayana masuk sambil berpikir keras perihal kemungkinan orang yang memberikan barang tersebut.


"Liam?" duganya bergumam. "Tidak mungkin. Dia kan sudah putus denganku. Apa Damien?"


Dayana kembali menatap barang-barang itu dengan penuh pemikiran.


"Damien tahu pin unitku. Dia akan langsung menyimpannya di dalam, bukan di depan pintu. Apa Thomas? Ah, tidak. Dia jarang memberi kejutan. William? Dia akan menghubungiku kalau mau memberi sesuatu." Bertanya sendiri, menjawab sendiri.


Lantas siapa?


Salah satu lelaki yang ikut dalam daftar dugaan Dayana saat ini adalah Arturo.


"Ah, tidak mungkin. Masa dia..." Kalimat itu terhenti saat keraguannya larut secara perlahan.


Bisa saja Arturo yang memang memberikan semua ini untuknya. Apalagi kemarin Dayana meminta syarat dari kesepakatannya sebagai istri Arturo. Mungkin ini nafkah yang Arturo janjikan padanya.


"Benarkah?" gumam Dayana menggaruk kepala yang tak gatal.


Benar saja. Mobil sudah terparkir di basement saat Dayana mencarinya menggunakan kunci yang dia dapat. Ketika masuk, dalam mobil itu ada sebuah catatan kecil yang disimpan di atas kursi kemudi.


^^^Today at 6 pm on springday street No.15^^^


^^^ARTURO^^^


Dayana tersenyum kegirangan karena dia mendapatkan mobil baru yang lebih bagus dari pada mobil pemberian William yang kini hilang.


Di tengah kegembiraan itu, ponselnya berdering. Dayana mengangkat panggilan dari seseorang yang hanya bertuliskan deretan nomor tak dikenal.


"Kau sudah mendapatkannya?"


Suara berat itu jelas milik Arturo. "Aku tidak menyangka kau akan memberikanku semua ini."


"Okay. Karena kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, sekarang kau harus lakukan apa yang aku mau. Datanglah ke alamat yang sudah kuberikan untukmu."


"Untuk apa? Memangnya kita akan ke mana?" tanya Dayana penasaran.

__ADS_1


"Rumah ibuku. Olivia mengadakan acara kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahun ibuku. Datanglah."


"Okay." Meski enggan. "Aku akan menepati janjiku."


__ADS_2