
"Alright, Miss Harvey. Kau punya julukan sebagai dewi perawan. Apa kau tidak berencana menghilangkan julukan itu? Maksudku, kau mungkin sekarang bertemu dengan seseorang yang membuatmu bisa memberikan segalanya pada lelaki itu."
Rebecca melempar senyum cantik pada sang pembawa acara yang mewawancarainya, Hilda John, sebelum dia menoleh ke arah kamera untuk menjawab pertanyaan.
"Aku belum berencana untuk memiliki seseorang sekarang. Aku hanya akan fokus pada satu tujuanku, yaitu entertain dan modeling. Aku tak suka membagi fokusku dengan hal lain," jawabnya.
"Wow. Kau berarti seseorang yang teguh pada pendirian, ya. Tapi beberapa hari lalu ada berita perihal kau mengelabui para wartawan. Ada rumor tentang kau akan menikah dengan seseorang. Saat diliput, ternyata pernikahan itu untuk adikmu. Apa itu benar?"
Tawa kecil tercipta dari bibir Rebecca. "Benar. Rumor tentangku yang menikah itu salah besar. Adikku yang sebenarnya menikah."
"Baiklah. Kita akan menampilkan satu foto," kata Hilda hingga sebuah foto terpampang di layar besar belakang mereka duduk.
Rebecca pun setengah berbalik untuk melihat apa yang ditampilkan. Ternyata, foto tersebut memperlihatkan Arturo yang sedang mencium Dayana di atas altar meski wajah lelaki itu agak tertutup. Raut wajah Rebecca pun berubah, tak menyangka jika Arturo dan Dayana akan melakukan hal tersebut.
"Dari foto ini, tolong berikan pesan untuk adikmu dan suaminya. Kudengar kau tidak datang ke pernikahan mereka karena jadwalmu yang padat."
Rebecca kembali berbalik pada kamera dengan senyuman yang dibuat tenang dan anggun.
"Selamat untuk pernikahanmu, Dayana. Kuharap, kalian bisa bahagia dan menjadi pasangan yang saling melengkapi satu sama lain. Kuharap tak ada masalah apapun. Kalian sangat serasi. Aku mendo'akan yang terbaik untuk kalian berdua."
"Mereka terlihat serasi. Apa kau pernah merasa ingin juga merasakan kebahagiaan ini, Miss Harvey? Setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan. Kau tidak mungkin perawan selamanya apalagi ini Amerika."
"Aku juga ingin memiliki pasangan. Tapi untuk saat ini, aku masih ingin fokus dengan karirku. Jika aku menjadi wanita sukses, akan ada ribuan lelaki yang mendatangiku. Benar, kan?"
Hilda tertawa kecil. "Kau benar, Miss. Kau cantik dan sukses. Tidak akan ada lelaki yang menolak pesonamu. Mereka pasti akan berburu mendapatkanmu."
"Tentu saja," gumam Rebecca kembali menoleh dengan raut penuh arti ke arah foto Arturo dan Dayana di layar.
Sementara itu...
Kaki Dayana melangkah masuk ke belakang rumah milik Ingrid. Dia cukup kagum melihat beberapa orang sudah ada di sana yang merupakan kerabat terdekat keluarga Camucho.
"Hai," sapa Arturo yang langsung merangkul pinggang Dayana lalu memberikan satu kecupan hangat di pipinya.
"Bilang kalau kau sudah dari salon dan hadiah untuk ibuku ada di mobil. Nanti kau bawa di mobilku," bisik Arturo sebelum akhirnya kembali tegak.
Dayana menoleh pada lelaki itu dengan tatapan heran, tapi kakinya melangkah ikut menghampiri Ingrid yang sedang bercanda tawa bersama beberapa tamu.
"Dayana!" seru Ingrid antusias saat melihat Dayana datang. Dia bahkan langsung memberikan pelukan yang membuat Olivia memutar bola mata malas.
"Aku senang kau datang."
Dayana mengulas senyum canggung. "Maafkan aku. Tadi aku habis dari salon untuk berdandan agar terlihat cantik di depanmu, Mom."
"Tidak apa-apa. Kau tetap cantik apapun keadaanmu," puji Ingrid. Setelah itu, ia memperkenalkan Dayana pada beberapa kerabatnya di sana bak ingin memamerkan wanita yang berhasil mendapatkan hati putranya.
__ADS_1
"Mom, aku lupa hadiahmu masih ada dalam mobil. Aku akan mengambilnya dulu," bisik Dayana.
"Tidak perlu. Biar Arturo saja yang ambilkan," kata Ingrid tak masalah.
"Mom, ada telepon dari Paman Ben untukmu," pungkas Olivia menyerahkan ponselnya.
Ingrid menerima ponsel itu. "Sebentar. Aku harus mengangkat panggilan dari adikku dulu."
Dayana mengangguk. Ia pun ditinggalkan berdua bersama Arturo dan Olivia di tengah keramaian acara sederhana tersebut.
"Kudengar kau adiknya Rebecca Harvey," kata Olivia dengan wajah tak bersahabatnya jika dihadapkan dengan Dayana.
Pertanyaan itu membuat Dayana menoleh pada Olivia. "W-wow. Kau tahu dari mana?"
"Aku melihat sebuah acara yang mewawancarai Rebecca dan di sana ada foto kau dengan kakakku ditampilkan."
...----------------...
"Jika orang-orang tahu aku adiknya, bagaimana jika mereka nanti tahu kalau yang sebenarnya yang akan menikah denganmu adalah Rebecca?" tanya Dayana dengan nada hati-hati saat dia menarik Arturo menjauh dari keramaian di sekitar.
"Kenapa kau panik?" sahut Arturo malah balik bertanya. Dia terlihat tenang seperti biasa, bahkan meneguk minuman seakan tak ada masalah apapun.
"Tentu aku panik. Bagaimana jika nanti ibumu tahu dan kesehatannya jadi--"
"Kau tidak perlu panik. Sudah jelas aku menikah denganmu sekarang," lanjutnya.
"Hello? Apa kau memang selalu sesantai ini? Jika ketahuan, aku yang akan habis. Kau bisa kembali pada Rebecca, tapi bagaimana denganku? Aku akan dibenci keluargamu, diputuskan kekasihku, dan para penggemar Rebecca akan mengira kalau aku merebutmu darinya."
"Kau berlebihan," gumam Arturo meneguk minumannya lagi yang kini menjadi gelas kosong.
"Tidak akan ada yang curiga jika kau berperan dengan baik sebagai istriku."
Percakapan itu dihentikan oleh ponsel Dayana yang berdering dari dalam tasnya. Saat dilihat, ternyata kontak Rebecca yang membuat panggilan.
Arturo memberi isyarat agar Dayana mengangkat panggilan itu. Dia memilih pergi dari sana seakan tahu jika Dayana butuh ruang untuk bicara dengan kakaknya.
"Ada apa?" tanya Dayana.
"Apa kau bersama Arturo?"
Dayana melirik Arturo yang sedang diam mendengarkan ibunya bicara di depan sana. "Ya. Dia sedang bersama Mrs. Camucho. Kenapa?"
"Dia tidak mengangkat panggilanku. Aku sudah memberinya pesan juga, tapi dia mengabaikanku. Kau bisa membantuku?"
"Apalagi, Bec? Terakhir kali aku membantumu, aku jadi terjebak di sini."
__ADS_1
"Bicaralah pada Arturo dan bujuk dia untuk mengangkat panggilanku dan menemuiku."
Dayana memutar bola mata malas. "Membujuknya sama dengan membujuk sebuah batu. Kau yakin dia akan mendengarku?"
"Aku mohon, Day. Akan kutambah bayaranmu tiga kali lipat dari yang kemarin."
"Okay!" sahut Dayana cepat. "Aku akan memberitahunya untuk menghubungimu."
"Thanks, Day."
"Kau harus sering-sering berterimakasih padaku," kata Dayana malah bangga.
"Day, aku mau tanya. Kau tidak... berpikir untuk benar-benar menikah bersama Arturo, kan?"
"What?" Dayana tertawa geli. "Kau bercanda! Dia bukan tipeku, Bec. Memangnya lelaki hanya ada dia? Aku punya banyak kekasih. Untuk apa aku mengambil punyamu?"
"Syukurlah kalau kau tidak punya perasaan spesial apapun padanya. Aku hanya ingin memastikan saja."
Panggilan pun berakhir setelah Rebecca berpamitan. Dayana kembali menghampiri Arturo yang sedang merangkul Ingrid berjalan ke spot tengah untuk memulai acara inti perayaan ulang tahunnya.
Waktu pun berlalu. Semua tamu sudah pergi setelah acaranya selesai. Sementara Arturo dan Dayana masih ada di rumah Ingrid untuk membantu membereskan semuanya.
"Kenapa kalian berdua tidak menginap saja di sini?" tawar Ingrid sampai membuat Dayana terbatuk karena tersedak ludahnya sendiri.
"Me-menginap?"
"Iya. Ada kamar kosong di sini. Kalian bisa menempati kamar Arturo. Iya kan, Nak?"
Arturo mengangguk begitu saja yang membuat Dayana melemparkan tatapan penuh isyarat.
"Kau tidak mau menginap di sini?" timpal Olivia seakan tengah mempertanyakan hal itu dengan penuh curiga.
"Oh, apa kalian sebenarnya ini bohongan hanya untuk menyenangkan ibuku saja?" tambahnya membuat Dayana menelan ludah.
"Hentikan kecurigaanmu, Olivia. Kami benar-benar sudah menikah," imbuh Arturo yang tadinya memilih untuk diam.
"Aku belum mempercayai kalian. Arturo, kau bahkan tak pernah mau membahas istrimu ini dan hanya bilang kau punya seseorang. Kenapa kau tidak menunjukkannya pada kami dulu waktu itu? Kalian tiba-tiba menikah dan--"
"Aku akan menginap di sini," cetus Dayana berusaha untuk menghentikan perdebatan adik kakak itu. Lebih tepatnya, Dayana tak ingin Olivia tambah curiga apalagi setelah melihat wajah Ingrid yang sepertinya setuju dengan Olivia barusan.
"Aku akan menginap. Untuk kamar, kami bisa tidur di mana saja." Dayana merangkul mesra lengan Arturo. "Iya kan, sayang?"
Ingrid tersenyum senang. "Baiklah. Mungkin kalian bisa tidur di kamar Arturo. Aku akan membereskannya dulu."
Dayana hendak menghentikan Ingrid, tapi wanita itu sudah antusias pergi untuk merapikan kamar Arturo.
__ADS_1